Wednesday, December 30, 2015

Jelajah Sumatera Part #1 dari 10 : Persiapan

Setelah mengelingi Jawa akhir tahun lalu, kali ini kami menargetkan Sumatera sebagai tujuan berikutnya. Secara umum kami berencana untuk menjadikan Danau Toba sebagai target terjauh, namun karena perhitungan jarak yang mencapai hampir 5000 km, dan karena kami juga memiliki target lain yang memiliki alokasi waktu sendiri, akhirnya kami merevisi rencana tersebut menjadi Lampung, Sumsel (Palembang), Jambi (Jambi), Riau (Pekanbaru), Sumbar (Bukit Tinggi dan Padang), Bengkulu (Bengkulu) dan kembali ke Lampung, total dengan 3 propinsi di Jawa, perjalanan kali ini melintasi 9 propinsi dengan total jarak 3.720 km.



Secara pengalaman ini mungkin jarak terjauh yang pernah kami coba tempuh dengan menyetir sendiri, sedangkan perjalanan sebelumnya adalah saat mengelilingi Jawa kurang lebih 1.800 km dari Bandung - Sumedang - Cirebon - Semarang  - Surabaya - Madura - Mojokerto- Batu - Malang - Blitar - Solo, Merapi dan Bandung tahun 2014. Perjalanan lain yakni Bandung - Bali via Semarang, Surabaya, Denpasar, Bromo, Yogya dan kembali ke Bandung yakni sekitar 2.300 km tahun 2004. 

Karena waktu yang cuma 9 hari 8 malam dan jarak yang cukup jauh, dimana 2 malam sudah dialokasikan untuk menginap di Ferry Merak – Baukaheni, maka dengan sangat terpaksa kunjungan ke beberapa sepupu dan sahabat seperti di Pekanbaru, Bengkulu, dll ditunda untuk sementara. Untuk memperjelas situasi dalam perjalanan, kami sengaja beberapa kali ke Toko Buku, namun tidak ada informasi soal perjalanan Sumatera sama sekali.

Istri menyiapkan itinerary di setiap lokasi, sedangkan saya menyiapkan rute dengan berkonsultasi bersama beberapa teman di komunitas Sportage khususnya Husen, sahabat Ambon yang bekerja di PLN dan justru lebih mengerti Sumatera dibanding orang Sumatera sendiri, lalu adik ipar yang masih diliputi keraguan akan asingnya rute Sumatera menyiapkan booking hotel di lokasi-lokasi dimana kami akan menginap. Kami juga menyiapkan bekal, khususnya untuk rute Lampung – Sumatera Selatan, yang menurut informasi tidak memiliki tempat makan yang representatif.

Selain rendang jadi, nasi, Snack Ikan Teri,  adik istri juga membawa set piring dan sendok plastik serta puluhan botol Aqua dan tak lupa puluhan botol Pucuk Harum, Untuk jaga-jaga, adik ipar juga membawa jerigen, meski akhirnya tidak digunakan dan malah menjadi perkusi anggota termuda saat mendengar lagu-lagu yang kami putar.  


Saya juga meminjam pada sahabat Sportage lainnya yakni Erwin, roox box Thule tipe Freeway dengan segala kuncinya. Untuk roof rack saya beli sendiri di Ace Hardware seharga 850 ribu, sedangan roof rail menggunakan yang sudah menempel di bodi mobil. Tadinya kalau Erwin belum bisa meminjamkan pada tanggal yang ditentukan, saya masih punya pilihan membeli roof box Whale dengan harga sepertiga sampai seperempat Thule atau membeli Buzz Rack, yakni rak anyaman besi, namun tentu saja masih membutuhkan terpal tambahan.  Belajar dari perjalanan keliling Jawa sebelumnya, kami bisa mengefisienkan space dengan menggunakan roof box.

Sayang sekali Si Sulung tidak bisa ikut, karena ada tugas kuliah yang harus segera diselesaikan, secara penumpang dengan tidak hadirnya Si Sulung, mungkin menjadi sedikit lebih lega, tapi secara kekuatan rombongan, kami kehilangan sosok yang sebenarnya bisa diandalkan saat terjadi sesuatu. Dengan demikian rombongan ini menjadi 2 pria dewasa (saya dan adik ipar), 2 wanita dewasa (istri dan adiknya), 2 remaja wanita (anak saya Si Bungsu dan sepupunya) serta 1 bocah lelaki (anak bungsu dari adik ipar saya).

Baris paling belakang, kursinya tidak diaktifkan, namun untuk yang perlu meluruskan kaki, misalnya adik ipar saat letih menyetir, kedua gadis remaja saat ingin "mojok" sambil "ngerumpi",  meski yang akhirnya mendominasi adalah keponakan kami yang merupakan anggota rombongan termuda. 



Bagi yang masih pernah melewati Lintas Sumatera,  secara umum ada tiga rute yang bisanya menjadi alternatif, yakni Lintas/Pantai Timur, Lintas Tengah dan Lintas/Pantai Barat. Berikut penjelasan mengenai setiap pilihan rute;

Lintas/Pantai Timur : 

Dari Bakauheni bisa langsung ke Menggala (Tulang Bawang) tanpa melewati Bandar Lampung, Kayu Agung, Palembang,Jambi, Pekanbaru, Duri, Tebing Tinggi, Medan, Langsa, Lhokseumawe, Sigli, dan Banda Aceh.  Rute ini biasanya dilintasi bagi yang ingin menuju kota-kota besar seperti Palembang, Jambi, Pekanbaru, Medan dan Banda Aceh. Meski dinamakan Pantai Timur, sebenarnya sampai dengan Medan, kita relatif jarang menemui pantai kecuali saat masuk ke Aceh. Karakternya jalannya relatif besar karena memang termasuk lintasan utama. Panjang lintasan ini sekitar 2.506 km, dan ditempuh dengan total 51 jam. Daerah rawan adalah di sekitar Kayu Agung dan Mesuji, beberapa informasi mengatakan perbatasan Sumatera Selatan dan Jambi juga sebaiknya tidak dilewati saat malam. 

Lintas tengah :

Dari Bakauheni, terus ke Lahat, Lubuk Linggau lalu bisa ke diakhiri di Padang atau terus ke Bukit Tinggi, Padang Sidempuan, Kutacane lalu Banda Aceh. Rute ini biasanya digunakan dengan tujuan Bukit Tinggi, Padang atau Padang Sidempuan. Jika diteruskan ke Banda Aceh, dan tetap ingin melewati Lintas Tengah maka setelah Sidikalang bisa terus melewati Kutacane, namun jika menyatu dengan Lintas/Pantai Barat maka setelah Sidikalang bisa ke arah Meulaboh. Karakternya jalannya berbukit bukit dan beberapa jalur seperti Lubuk Linggau - Padang sangat mulus meski tidak terlalu lebar.  Daerah rawan adalah di Lahat dan sekitarnya, saran kebanyakan orang adalah tidak melewati daerah ini disaat malam atau sebaiknya melewatinya dengan iring-iringan. Jarak yang ditempuh adalah 2.354 km dengan waktu 46 jam. 

Lintas/Pantai Barat 

Dari Bakauheni, terus ke Bandar Lampung, Kota Agung, Krui, Bengkulu, Padang, Bukit Tinggi, bisa melipir ke Sibolga, atau melipir ke Singkil, namun bisa juga langsung ke Meulaboh, dengan tujuan akhir di Banda Aceh. Rute ini berkelok kelok naik turun bukit dan kadang masuk hutan lebat. Meski bukan rute favorit namun pemandangannya luar biasa. Jalan-jalannya banyak yang bersisian dengan pantai, anda bisa menikmati Pantai-Pantai Bengkulu atau Pantai Painan di Sumatera Barat. Berbeda dengan Pantai Timur yang umum dipakai menuju lima ibu kota propinsi (karena jika langsung menuju Menggala, Bandar Lampung biasanya akan diskip, maka Lintas/Pantai Barat hanya melewati empat ibu kota propinsi yakni Bandar Lampung, Bengkulu, Padang dan  Banda Aceh, jadi wajar saja jika lebih sepi alias bukan rute populer. Secara umum, rute ini lebih aman dan tidak ada kabar soal kerawanan di sini. Jika tidak mampir di Sibolga dan Singkil, kita akan menempuh jarak sekitar 2.461 km dengan total 49 jam. 


Jelajah Sumatera Part #2 dari 10 : Menuju Merak

Tanggal : 18/12/2015

Target
  • Sampai Merak saat tengah malam, agar dapat langsung ke Palembang via Lintas/Pantai Timur saat masih terang. 
Penginapan
  • Menginap di Kapal Ferry. 
Kondisi Jalan
  • Total jarak : 288 km / 5 jam
  • Menggunakan rute Bandung, Depok dan Merak, namun sempat mengalami kemacetan antara Bandung dan Depok menjadi 6 jam. 
  • Relatif mulus dan sebagian besar melewati tol.
Sesuai dengan saran sahabat-sahabat saya, khususnya Imam yang cukup sering bolak balik ke Sumatera via Lintas Tengah, kami disarankan untuk sampai saat tengah malam, dan sebaiknya langsung menyewa kamar untuk istirahat. Pengalaman beliau sebelumnya sempat didera keletihan yang sangat ketika mencoba rute Sumatera, tanpa supir cadangan dan tidak tidur sama sekali saat di kapal. Kenapa tengah malam ? Sumatera Selatan dikenal sebagai jalur yang cukup rawan, kita akan melintasi Kayu Agung dan Mesuji di lintas timur atau Lahat jika di lintas tengah, dimana jalur ini cukup sepi dan rawan saat tengah malam. Jadi harapannya adalah kami masih bisa melintasi jalur ini saat siang, dan sampai di Palembang secepat yang kami bisa.



Namun manusia hanya bisa berencana, Bandung – Depok yang biasanya hanya memerlukan 2,5 sd 3 jam saat Jumat 18/Dec/2015 ternyata membutuhkan 6 jam, sehingga kami baru sampai di Depok jam 20:00, setelah makan malam kami menjemput adik ipar yang bekerja di Grogol. Adik ipar ternyata cukup galau dengan lokasi tujuan kami kali ini, maklum semakin banyak membaca internet dan mendengar cerita teman, kerisauannya semakin meningkat.  Saat akhirnya kami sampai di kantornya jam 22:30, dia sempat ingin mengajukan perubahan rute, entah keliling Jawa kembali atau menyusuri pantai utara Jawa ke Bali dan Lombok. Namun melihat kami begitu bersemangat dia mengurungjkan niatnya. Siapa yang menyangka seminggu kemudian dia akhirnya melintas rimba Sumatera via Lintas Barat yang sepi dan menembus hutan lebat. Dengan semua keterlambatan ini, akhirnya kami baru sampai di pelabuhan sekitar 02:30 tanggal 19/Dec/2015.



Suasana Pelabuhan agak sedikit kacau, tidak jelas antrian yang harus diikuti, sementara hujan turun terus menerus, dan mobil-mobil yang masuk dengan seenaknya menyodok dari kanan dan kiri. Untuk mobil, kami harus membayar 343.000, dan menyerahkan data jumlah penumpang serta identitas, sebagai bagian dari manifes pelayaran. Sepintas terlihat ASDP kurang profesional menangani penyeberangan ini, petunjuk arah dermaga juga tidak informatif. 

Setelah akhirnya masuk kapal, jam 02:56 saya memastikan rem tangan kuat, dan transmisi dalam posisi P, lalu mobil kami tinggalkan untuk menuju ke kamar di lantai 2 agar bisa segera beristirahat.  Tadinya sempat terpikir untuk menunggu di mobil saja, namun saran Imam, justru tertidur di mobil dengan jendela terbuka malah sering menjadi incaran maling khususnya handphone ataupun tas dan dompet. Untuk penggunaan kamar lesehan dengan AC, per orang harus membayar Rp. 8.000, sedangkan untuk bantal, ada tambahan Rp. 3.000 per bantal. Namun disini anda tidur bersama sekumpulan penumpang lainnya, jadi kalau tidak benar-benar letih, suara mereka bercakap-cakap cukup mengganggu istirahat kita. 

Sempat ternganga juga menyaksikan ukuran kapal Ferry yang kami gunakan, truk-truk super besar yang biasa kami lihat di jalanan dengan mudahnya masuk ke dalam perut kapal dalam jumlah belasan, beserta puluhan mobil penumpang. Belum lagi sekumpulan bis penumpang, dibutuhkan kesabaran petugas kapal untuk mengatur space, sehingga alokasi parkir bisa dimaksimalkan. 

Jarak Merak dan Bakauheni adalah sekitar 30 km, waktu tempuhnya bisa berubah ubah sesuai dengan kondisi cuaca. Jika dalam kondisi sedang tidak padat diperlukan 2 jam untuk menempuh jarak ini, namun saat pelabuhan sedang padat dibutuhkan 4 jam. Seandainya saja, kedua pulau ini sudah dihubungkan dengan jembatan, bisa dibayangkan pertumbuhan ekonomi Indonesia, mengingat kedua pulau ini dihuni sebagian besar Bangsa Indonesia. 

Lanjut ke http://hipohan.blogspot.co.id/2015/12/jelajah-sumatera-part-3-dari-10-menuju.html

Jelajah Sumatera Part #3 dari 10 : Menuju Palembang

Tanggal : 19/12/2015

Target

  • Pempek VICO – Jalan Letkol Iskandar
  • Jembatan Ampera – Jalan Sutan Mahmud Badaruddin
  • Pasar Kuliner Jembatan Ampera  – Jalan Pasar 16 Ilir
  • Benteng Kuto Besak – Sebelah Utara Sungai Musi (dekat Jembatan Ampera)
  • Martabak Har – Jalan Jendral Sudirman
  • Mie Celor H Syafei – Jalan KH Ahmad Dahlan No 2 6 Ilir
  • Pempek Lenggang Bakar Saga – Jalan Merdeka
  • Souvenir Nyenyes – Jalan Kapten Rivai
  • Pasar Cinde – Jalan Jend Sudirman
Penginapan 

  • Red Planet - Jalan Jend Sudirman 
Kondisi Jalan

  • Total jarak : 484 km / 10 Jam 
  • Melalui Lintas/Pantai Timur :  Maringgai, Menggala dan Pedamaran
  • 85% mulus, ada beberapa rusak berat dan harus dilalui bergantian, esktra hati-hati dengan motor yang mendadak ketengah saat menghindari lubang, dan anak muda kampung yang kebut-kebutan.


Sesuai saran Dani salah satu sahabat kuliah yang cukup sering ke Sumatera Selatan karena istrinya memang berasal dari Palembang, untuk mengejar waktu lebih baik jika kami melewati Pantai/Lintas Timur, namun dengan sendirinya kami tidak sarapan di Bandar Lampung seperti rencana semula.



Menyenangkan sekali saat-saat menyambut sentuhan pertama ban mobil kami ke Tanah Sumatera, dan langsung disambut dengan jalanan naik dan turun serta berkelok kelok, sebuah Pajero Putih dengan cepatnya menyalip kami dan langsung jauh meninggalkan, meski tadinya sempat saya targetkan untuk diikuti. 

Tak lama dengan badan yang lengket oleh keringat, jam 06:45 kami sampai disebuah SPBU, segera kami berhenti untuk cuci muka ala kadarnya, dan membuka bekal rendang yang sudah kami siapkan. Makan dibawah sinar matahari pagi rasanya sungguh nikmat. Pintu bagasi mobil dibuka, dan makanan disiapkan secara prasmanan.  


Lalu perjalanan lanjut kembali, jalan secara umum 90% cukup mulus, dan kami melaju dengan kecepatan sekitar 80 sd 120 km/jam. Namun disini sepeda motor sepertinya transportasi utama, dan penggunanya bisa beragam termasuk ibu-ibu yang belanja ke pasar. Jadi ketika anda sedang kencang-kencangnya bisa saja ada motor melintas dengan kecepatan 40 sd 60 km jam, dan begitu saja pindah ke jalur tengah menghindari jalan bolong. Salah estimasi sempat terdengar suara Brang..! dari sisi kiri, dan ternyata mobil saya menyambar tas belanja ibu-ibu yang mendadak ke tengah. Setelah memastikan dari kaca spion Si Ibu tidak tersungkur, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Belakangan, saya menemukan goresan sekitar 4 cm di fender kiri belakang, sepertinya akibat benturan dengan tas belanja.


Sepanjang jalan banyak sekali Pura, baik yang berukuran kecil maupun yang besar, sepertinya ini merupakan kawasan dengan transmigran asal Bali, semoga saja ini merupakan pertanda baik keberagaman dan bukan dianggap sebagai Hindunisasi Lampung, dan sebaliknya saya teringat kabar wisata syariah yang sempat mendapatkan penolakan di Bali beberapa bulan lalu. Sepertinya kalau namanya diubah menjadi wisata halal, akan lebih pas dan tidak berkonotasi Islamisasi Pulau Dewata. Seharusnya penduduk Bali tidak melihat ini dengan kacamata hitam putih, karena di Thailand pun saat saya kesana awal Desember, ada pekan dan promosi wisata halal, menandakan hal ini memang menjadi trend dalam dunia pariwisata.


Di tengah jalan sekitar jam 08:15, kami berhenti untuk membeli snack pisang karamel dan pisang original, namun karena pisang yang digunakan masih mengkal, snack ini cukup awet dan masih bersisa cukup banyak saat kami sudah kembali ke Bandung.  Sejam kemudian kami berhenti untuk menikmati durian sumatera pertama kami, harganya sekitar 10 ribu sd 15 ribu per butir, dan kembali melanjutkan perjalanan.

Kami sempat berpapasan juga dengan Chevrolet Captiva dengan antena unik berbentuk bulatan dan tulisan Google besar disampingnya. Luar biasa juga Google dalam keseriusan membuat peta dengan akurasi tinggi, sayang karena sinyal kadang putus, terpaksa saya menggunakan peta Google secara manual dengan menggerak-gerakkan peta di layar. Saya tidak sempat memotret penampakan mobil ini, namun di internet saya menemukan mobil yang saya maksud. 





Lalu kami akhirnya sampai di SPBU berikutnya menjelang jam 14:00, dan mandi bergantian. Di Sumatera SPBU nya berukuran besar-besar, dan kita bebas untuk mandi atau bahkan meluruskan badan. Konon kabarnya di SPBU seperti Lahat di Lintas Tengah, jika menjelang tengah malam suasananya sudah seperti Pasar Malam, karena menghindari melewati Lahat saat tengah malam kecuali anda melintas dengan cara konvoy.

Akhirnya kami sampailah di Palembang, dan langsung menuju Pempek VICO melewati Jembatan Ampera. Anak-anak sangat gembira ketika kami akhirnya melintasi jembatan terkenal ini. Jembatan ini memiliki panjang 1.117 meter, dengan lebar 22 meter, dan tinggi sekitar 11,5 meter dari permukaan air. Sedangkan kedua menara memiliki ketinggian 63 meter dengan jarak antara menara 75 meter. Kenapa jembatan ini berdiri, idenya adalah menyambungkan antara Seberang Ulu dan Seberang Ilir. Itu sebabnya alamat di Palembang sering menyebutkan soal Ulu dan Ilir ini. 



Diresmikan 1965 oleh Bung Karno dan sempat dinamai Jembatan Bung Karno, karena beliaulah yang dinilai sebagai sosok yang berada di balik penyelesaian Jembatan tersebut, namun situasi politik yang berubah menyebabkan nama Jembatan yang didanai dengan Harta Pampasan Perang Jepang ini berubah menjadi Ampera yang merupakan singkatan Amanat Penderitaan Rakyat. Pada awal pembuatan, bagian tengah jembatan dapat terangkat menggunakan bandul pemberat agar kapal besar dapat berlayar di bawahnya, namun karena proses pengangkatan yang sangat lama dan menyebabkan kemacetan, akhirnya kedua bandul tersebut diturunkan. 

Makan di Pempek VICO ternyata enak sekali, khususnya Tek Wan yang disajikan panas-panas, bersama-sama dengan Es Kacang Merah, maka potongan pempek mampir di perut kami yang sudah kelaparan. Satu porsi Tek Wan dihargai Rp. 15.000, Satu Porsi Pempek Telor dihargai Rp. 20.000, sedangkan Es Kacang Merah pergelasnya Rp.15.000. Disini kami menghabiskan Rp. 236.000.





Dari sini kami menuju Jembatan Ampera menyaksikan keriuhan di waktu malam, suasananya sangat ramai, namun tidak tertata dengan baik. Puluhan pedagang liar dan sampah ada dimana-mana, padahal secara landscape, Jembatan ini terlihat indah memesona. Lokasi Jembatan Ampera ini juga berdekatan dengan Benteng Kuto Besak. Tiba-tiba tukang parkir menjadi sangat ramah saat melihat plat D, ternyata ybs memiliki istri asal Sukabumi. 




Benteng Kuto Besak sendiri adalah merupakan Kraton Kesultanan Palembang, dimulai oleh Sultan Mahmud Baharuddin dan diselesaikan oleh Sultan Mahmud Bahauddin serta diresmikan tahun 1797. Saat ini Benteng yang dibuat dengan perekat kapur dan putih telor serta dibangun selama 17 tahun ini ditempati oleh Komando Daerah Militer Sriwijaya.  





Sebelum menuju Hotel Red Planet yang dulu merupakan salah satu group Tune Hotel, kami mampir di Martabak Har, salah satu kuliner terkenal di Palembang. Hanya membeli 2 porsi untuk mengobati rasa penasaran saja, dan ternyata memang kurang cocok buat lidah kami.  Di Red Planet kami memesan dua kamar, dimana Si Bungsu tidur bersama kami, sementara adik sekeluarga menggunakan kamar yang lain, untuk harga kamar kami diminta membayar 2 x Rp. 368.000.



Keesokan paginya kami menuju seputaran Ahmad Dahlan, untuk menikmati Mie Celor H. Syafei, rasanya cukup aneh namun tujuh porsi yang kami pesan habis tidak bersisa. MIe Celor satu porsinya Rp. 15.000, beserta minuman kami menghabiskan Rp 158.000 disini. Minuman paling pas untuk menikmati hidangan ini adalah Teh Susu seharga Rp. 6000 per gelas. 



Lalu lanjut ke Pempek Lenggang Bakar Saga Sudi Mampir, disini kami hanya memesan tiga porsi Lenggang Bakar dan dikeroyok beramai-ramai.  Total yang harus dibayar adalah Rp. 85.000 beserta minuman, dimana setiap porsi pempek bakar harganya adalah Rp. 20.000. 



Dari sini kami menuju Nyenyes, toko souvenir khas Palembang membeli beberapa cindera mata seperti stiker, gantungan kunci, dan pernik-pernik lainnya. Sepertinya pada beberapa kota besar sudah mulai trend, dimana anak-anak muda mencoba mengangkat budaya lokal dengan pernik masa kini, senang rasanya melihat anak-anak muda kreatif ini. Hal yang sama nantinya akan kami lihat di Bukit Tinggi. 

Lalu disebelahnya, Warung Makan Pempek Jolin, kami membeli Pindang Patin, dan Pindang Tulang sebagai bekal makan siang dalam perjalanan berikutnya. Pindang Patin seporsinya Rp. 25.000 sedangkan Pindang Tulang (Iga) seporsinya Rp.30.000, beserta nasi putih total yang harus kami bayar Rp. 87.000. 

Lanjut ke http://hipohan.blogspot.co.id/2015/12/jelajah-sumatera-part-4-dari-10-menuju.html

Jelajah Sumatera Part #4 dari 10 : Menuju Jambi


Tanggal : 20/Des/2015

Target

  • Jembatan Wisata Jambi dan Jam Gentala Arsy
  • Oleh2 Dolen Jambi - Jalan Kompol M. Taher
  • Ikan Bakar Berkat “Asli Punya Anton” – Jalan Kompol M. Taher
  • Pasar Tumpah Durian - Jalan Soekarno Hatta 
Penginapan

  • Yuli Hotel - Simpang Tiga Koni / Depan Dealer Suzuki
Kondisi Jalan


  • Total jarak : 276 km / 6 jam 
  • Melewati Pantai/Lintas Timur
  • 90% mulus melewati kebun sawit, ekstra hati-hati kalau menyalip, di lokasi ini ada banyak tanjakan dan turunan, jangan menyalip saat di tanjakan, karena kendaraan dari arah berlawanan tidak terlihat secara jelas.




Setelah berhenti di SPBU dan melahap Pindang Patin dan Pindang Tulang yang rasanya sedap sekali bersama bumbu sisa rendang dan Kerupuk Palembang, kami melanjutkan perjalanan. Meski berangkat setelah siang dari Palembang, kami cukup optimis dapat sampai sebelum malam. 







Sekitar jam 18:50 kami sampai ke Jembatan Wisata, salah satu jembatan sepanjang 503 meter senilai Rp. 77 Milyar, yang dibuat tahun 2013 dan diresmikan tahun 2015.  Dari sini kami menikmati pemandangan Sungai Batanghari, dari sini kita juga bisa melihat Menara Gentala Arsy layaknya Jam Gadang bagi Bukit Tinggi.  Namun sebagaimana Jembatan Ampera sepertinya pedagang disini juga bebas berkeliaran dan terkesan kurang bersih.


Dari sini kami menuju Dolen, namun sepertinya tokonya hampir tutup, melihat semua oleh-olehnya masih mirip 90% dengan Palembang, kami memutuskan untuk lanjut mencari makan malam, dan terlihat suatu tempat makan yang cukup ramai, yakni Ikan Bakar Berkat. Suasananya cukup asik, dan  hampir semua menunya didukung dengan bumbu yang pekat. Saat malam sehabis hujan makan disini terasa enak sekali.



Kami memesan Bawal Bakar, Udang Bakar, Ca Kangkung, Nila Goreng dengan minum Es Teh, total untuk 7 orang kami menghabiskan Rp 339.000. Meski tidak direncanakan sebelumnya, melihat tempat ini cukup ramai dikunjungi, sepertinya merupakan salah satu destinasi kuliner populer di Jambi. 



Lalu kami menuju Yuli Hotel, tempat penginapannya bersih dan relatif baru meski tidak semodern Red Planet. Lagi-lagi kami memesan dua kamar, dengan satu tempat tidur besar dan Si Bungsu diantara kami berdua meski dia sempat mengeluh dihajar dengkuran stereo kedua orang tuanya. Untuk dua kamar kami mengeluarkan biaya sebesar 2 x Rp 350.000. Sempat ada percakapan menarik antara petugas hotel dengan istri, sepertinya dia menganggap kalau bepergian sejauh itu pasti karena mengunjungi saudara atau pulang kampung, namun ketika kami menjelaskan bahwa ini murni jalan-jalan, terkesan si petugas sulit untuk percaya. 


Setelah makan malam, kami menyusuri Jambi untuk mencari Durian, lokasinya di sisi jalan Soekarno Hatta. Setelah parkir kami pun menyantap durian, sebagai bagian dari ritual santap durian di setiap propinsi. 


Lanjut ke http://hipohan.blogspot.co.id/2015/12/jelajah-sumatera-part-5-dari-10-menuju.html



Jelajah Sumatera Part #5 dari 10 : Menuju Pekanbaru

Tanggal : 21/Des/2015

Target

  • Masjid Agung An Nur Pekanbaru – Jalan Syekh Burhanuddin
  • VIZCAKE Pekanbaru – Jalan Hangtuah
  • Sarapan Pagi di Kimteng – Jalan Senapelan
  • Pasar Bawah – Jalan M. Yatim 
  • Warung Miso Pak Imam – Jalan Paus
Penginapan 

  • Red Planet - Jalan Tengku Zainal Abidin 
Kondisi Jalan


  • Total jarak : 434 km / 9 jam 
  • Melewati Lintas/Pantai Timur, Keritang, Seberida, dan Rengat, 
  • Nyaris 100% mulus dan melewati kebun sawit, tetap ekstra hati-hati kalau menyalip, di lokasi ini ada banyak tanjakan dan turunan, kadang kita bisa melihat sekaligus tiga undakan di depan karena lurusnya jalan, tetap jangan menyalip saat di tanjakan, karena kendaraan dari arah berlawanan tidak terlihat secara jelas. Sebagian besar jalan sudah terbuat dari beton, dan nampak perbaikan dimana-mana.

Jam 08:30 kami melewati perbatasan Muaro Jambi, dan berhenti sebentar untuk mengabadikan momen. Nampak truk-truk besar dengan muatan Sawit hilir mudik, sepertinya beruntung sekali memilih tanggal perjalanan seperti yang kami lakukan, karena terhindar dari macet di Merak, sudah masuk Musim Durian, dan Kebakaran Hutan Sawit sudah reda.




Perjalanan yang lebih jauh dan masih juga belum menemukan tempat makan, akhirnya membuat kami terpaksa makan di suatu tempat bernama Ojo Lali, yang menjadi langganan para supir truk. Mata mereka terlihat nyalang memperhatikan rombongan kami keluar satu demi satu dari mobil. Saat seperti ini saya kembali teringat pada Si Sulung. Untung saja saya belum cukuran brewok dan kumis selama tiga minggu, jadi paling tidak Para Supir Truk ini masih mengira saya bagian dari mereka. 

Masakannya biasa-biasa saja, dan toiletnya sangat menyedihkan, dan berlokasi di belakang rumah. Saat menunggu anak saya dan sepupunya di toilet, bocah anak pemilik warung yang sedang berada di halaman belakang menatap saya dengan sangar sambil berkata “Apa Kau !”, ups anak sekecil ini sudah bernyali menantang pria dewasa ? hemm tak aneh Sumatera termasuk penyumbang sumber daya komunitas preman di Indonesia. Disini kami menghabiskan biaya Rp 117.000, termasuk Soto dan Teh Telur. 



Jam 18:00 kami sampai di VIZCAKE  lalu membeli Cake Pisang, konon kabarnya pemilik VIZCAKE ini dulu adalah penduduk Batam, karena banyak saudara berkunjung dan selalu bertanya apa oleh-oleh khas Batam, maka beliau memberanikan diri untuk memproklamirkan Cake Pisang, saat ini beliau membuka cabang di Pekanbaru dan menjual Cake Pisang yang sama. Rasanya sih memang mantap dan sempat kami jadikan bekal dalam perjalanan berikutnya. Disini kami membeli Kerupuk Singkong Cabe Hijau, Vizcake Banana Bread, Klapper Taart Durian, total kami membayar Rp. 125.000. Karena memang bukan diperuntukkan sebagai oleh-oleh, maka sepanjang jalan, kami langsung menyantap penganan ini. 




Lalu kami menuju  Taj Mahal ala Pekanbaru alias Masjid An Nur dan sampai sekitar 18:45. Karena sudah adzan Maghrib, maka kami langsung menuju ke bagian dalam untuk melaksanakan sholat, sayangnya batas suci dan yang tidak kurang terlihat jelas, sepertinya pengelola harus menata ulang sehingga kesucian umat yang hendak melaksanakan ibadah lebih terjaga. 

Masjid ini dibuat tahun 1963 dan selesai 1968, saat ini Masjid ini masih merupakan salah satu yang termegah di Indonesia. Saat itu Gubernur Riau masih Arifin Ahmad, namun di periode Gubernur Saleh Djasit, Masjid An Nur tahun 2000 kembali direnovasi secara besar besaran. Sepintas arsitektur Masjid ini mengingatkan kita akan Taj Mahal, dirancang oleh Ir. Rooseno dan dapat menampung 4.500 jamaah.  



Untuk makan malam kami memilih pasar kuliner di belakang bangunan Holiday88, salah satu bioskop yang cukup ramai di Pekanbaru. Kami memesan berbagai penganan seafood termasuk Sop Ikan, Cumi Goreng Tepung Roti, Udang Mentega dan diakhiri dengan Es Tebu yang sedap.  Ada yang menarik disini, yakni kwetiawnya cenedrung bening disajikan dengan potongan daging berukuran besar. Hanya saja gelas yang digunakan semuanya dengan sponsor Bir Bintang, jadi kalau minum Es Tebu yang memang berbuih kesan yang muncul adalah sebaliknya. Disini kami menghabiskan Rp 379.000 termasuk Otak-Otak khas Kepri yang berwarna merah dengan rasa menyengat, termasuk 1 Porsi Kerang Gonggong (yang akhirnya bisa dicoba oleh Istri dan Si Bungsu setelah sempat gagal saat kunjungan kami terakhir di Batam). 


Setelahnya kami menuju Red Planet, ternyata lokasi hotel ini berada di salah satu pusat keramaian di Pekanbaru, sehingga kami memutuskan untuk jalan jalan dulu dulu di seputar hotel. Menyusuri trotoar dengan berjalan kaki. Kami sempat memasuki dua mal yang saling berhadapan, salah satunya adalah Mal Pekanbaru. Lalu anak-anak memesan minuman di Calais, lalu kembali ke hotel, sayang ketika anak-anak tertarik memesan Panties Pizza di depan hotel, saat kami kembali sudah keburu tutup. Di Red Planet, karena kedua remaja ingin menggunakan satu kamar, kami membayar 3 x Rp. 238.280, cukup murah karena sudah melewati Week End.




Pagi harinya atas saran sahabat sportage di Pekanbaru yakni Harpy yang juga seorang pilot F16 AURI, kami sarapan di Kimteng. Wuih memang mantap makan disini, Roti Bakar Srikaya, Bubur Ayam, dan Teh Telor yang disajikan dengan Jeruk Nipis namun sayangnya kami belum sempat mencoba Mie Ayamnya yang konon ternyata juga terkenal. Makan disini sedikit mahal untuk kelas sarapan pagi, namun rasanya cukup mantap. Uniknya warung makan ini penuh dengan iklan hal-hal yang justru tidak ada hubungannya dengan kuliner misalnya aki, produk elektronik, dll. Total yang harus kami bayar adalah RP. 221.000. Untuk 1 porsi Dimsum, 2 porsi Roti Bakar, 6 porsi Bubur Ayam, 2 gelas Susu Kedelai, 2 gelas Susu Panas, 1 porsi Sate Ayam Bumbu Kuah Kacang dan 2 gelas Air Putih. 





Setelahnya kami menuju Pasar Bawah untuk memesan pernik-pernik khususnya kain khas Riau yang terkenal. Lalu saat melaju meninggalkan Pekanbaru kami singgah sebentar di sebuah Warung Miso Pak Imam di Jalan Paus. Makanan ini mengingatkan saya akan masa kecil, saat di depan rumah di Sibolga ada pedagang Miso. Jika suatu waktu Ibu sedang tidak memasak, maka kami membeli Miso dan dimakan bersama sama nasi. Seperti biasa cukup membeli 2 porsi, seporsi untuk setiap keluarga cukup menghilangkan rasa penasaran kami. 

Jelajah Sumatera Part #6 dari 10 : Menuju Bukit Tinggi

Tanggal : 22/Des/2015

Target

  • Jembatan Sungai Kampar – Perbatasan Riau dan Sumatera Barat
  • Kelok 9 – 30 kilometer sebelum Payakumbuh
  • Pongek “OR” Situjuah – 15 menit sebelum Payakumbuh
  • Lembah Harau – Payakumbuh, Kabupatan Limapuluh Koto
  • Jam Gadang dan Sate Padang – Jalan Parak Kubang 40, Bukit Tinggi  
  • Kaputuak Kloting / Kaos Unik Rasa Minang – Jalan Jend Sudirman
  • Benteng Fort De Kock – Jalan Yos Sudarso
  • Jambatan Limpapeh – Jalan Yos Sudarso
Penginapan 

  • Prima Dini - Jalan Yos Sudarso 
Kondisi Jalan

  • Total jarak : 259 km / 6 jam 
  • Melewati Lintas Tengah, Sungai Kampar, Bangkinang, Kelok 9, Simpang Lembah Harau dan Payakumbuh. Rute idealnya adalah Pekanbaru, Bangkinang, Kelok 9, Kab Limapuluh Koto (Lembah Harau), dan Payakumbuh, namun karena sudah sangat lapar kami melewati Kab Limapuluh Koto dulu menuju Pongek "OR" Situjuah, baru kemudian kembali untuk melihat Lembah Harau.    
  • 85% mulus, jalan mulai berkelok kelok, hati-hati dengan tebing dan longsoran, di beberapa titik longsoran memakan badan jalan.
Di perbatasan Riau dan Sumatera Barat, kami sempat terkesan dengan apa yang kami kira Danau namun ternyata Sungai Kampar, sungai ini berkelok kelok sehingga kita masih menemukannya beberapa kali setelah pertemuan pertama.  Jembatannya meski berdesain biasa saja namun karena lebarnya sungai terkesan sangat luas dan panjang.






Bagi saya rute Pekanbaru - Bukit Tinggi ini menarik, karena tahun 2013 saya sempat mau ikut rombongan komunitas namun berhalangan, dan rute ini tadinya bahkan sempat dicoret karena adik istri berkeras mau ke Parapat alias Danau Toba. Namun setelah diskusi intensif dan karena keterbatasan waktu, kami sepakat mencoret Parapat sehingga jalur kembali ke rencana semula yakni melewati Kelok 9.




Akhirnya sampailah di Kelok 9 yang menjadi legenda baru ini, sayangnya tidak se-spektakuler foto-foto dari ketinggian yang biasa kami lihat. Namun tak urung tetap membuat lidah berdecak kagum. Di salah satu spot, nampak banyak pedagang jagung bakar menggelar dagangannya dengan tenda warna warni sekaligus membuat kemegahan Jembatan ini menjadi agak terkesan berantakan. Ada cukup banyak sampah di lokasi tebing-nya, sayang sekali wisata Indonesia masih belum benar-benar bisa bersih dari hal-hal seperti ini.




Karena pada tahun 2000 an jalur selebar 5 meter ini sudah mencapai kepadatan 9.000 sd 11.000 kendaraan per hari, maka diusulkan ke Pemerintah Pusat untuk membuat solusi Jembatan, untuk memotong waktu dari Pekanbaru ke Bukit Tinggi dari 6 jam menjadi 4 jam. November 2003 mulai dikerjakan dengan membuat 6 jembatan sepanjang total 959 meter dan diintegrasikan dengan jalan sepanjang 1.537 meter. Dengan sendirinya lebar jalan asal 5 meter berubah menjadi 13.5 meter. 





Dari sini kami melaju ke Lembah Harau, namun perut yang sudah keroncongan memaksa kami ke Pongek “OR” Situjuah dulu. Rumah Makan Padang ini merupakan rekomendasi sahabat Sportage alias Husen, dan memang masakannya unik dengan bumbu yang berani. Lokasinya agak menjauh dari jalan besar, dan terletak ditengah sawah. Sambil makan kita mendengar gemericik sungai kecil, dan menikmati menu ikan bakar, rendang hitam, gule tunjang dan diakhiri dengan Teh Telor serta kue tradisional dengan rempah jahe. Untuk 7 orang kami harus membayar Rp. 255.000, tidak jelas juga berapa harga per makanan, karena mereka sepertinya cenderung menghitung ke jumlah orang saja. 

Sempat terjadi perdebatan apakah Lembah Harau perlu kami datangi atau malah ditinggalkan, maklum selesai makan di Pongek “OR” Situjuah hari sudah menjelang sore, namun kami akhirnya melaju ke Lembah Harau dengan harapan keesokan harinya tidak perlu membuang waktu sekitar dua jam untuk kembali kesini.






Menjelang Lembah Harau kami melihat kumpulan bangau putih terbang berputar putar, dan lalu pelangi yang berujung di atas lembah. Akhirnya sampailah kami di lembah Harau, suatu area yang secara geologi mengalami fenomena grabber, alias amblas dan meninggalkan kawasan yang dipagari lembah batu yang nyaris rata.  Hujan masih terus membasahi bumi, kami langsung berhenti dan mencoba mengabadikan momen, lalu setelah mendapatkan informasi dari pesepeda, kami lanjut ke bagian dalam lembah untuk mengabadikan air terjun yang tercurah dari atas lembah.








Dari sini kami lanjutkan perjalanan ke Jam Gadang, istri dan adiknya segera bergegas menyusuri Pasar Atas dan Pasar Bawah, namun hujan memaksa kami berteduh sebentar. Setelah reda kami segera melanjutkan perjalanan dan menikmati Sate Padang, sayang sekali rasanya agak kurang mantap, namun impian saya nyaris selama 30 tahun akhirnya terwujud, berikut link mengenai impian saya;


Selama ini bayangan saya tentang Bukit Tinggi selalu positif, daerah bersih, berudara sejuk, tertata dengan baik dan tersohor karena melahirkan tokoh-tokoh penting dalam perjalanan bangsa. Namun malam itu pandangan saya berubah, Jam Gadang dan kawasan sekitarnya terkesan kotor dan kumuh, kumpulan anak muda dengan atribut metal menyetel musik keras-keras di tengah taman, warung warung bertebaran dengan semrawut, tukang parkirnya penuh tatto dan dengan gaya mengancam.





Dari sini kami lalu menuju hotel Prima Dini, yang ternyata sangat dekat dengan Jam Gadang, dan kali ini kami kembali memesan tiga kamar, karena kedua remaja ingin sekali menggunakan kamar tanpa kehadiran kedua orang tuanya.






Keesokan pagi setelah sarapan, kami menuju Benteng Fort De Kock, bentengnya sangat kecil dan kalau saja tidak diberi tahu, kami masih tidak mengira bangunan tersebut adalah bentengnya. Tiket masuk per orang di Benteng Rp. 10.000. Benteng ini diirikan tahun 1825 pada masa Hendrik Merkus De Kock saat beliau menjadi Wakil Gubernur Hindia Belanda. Benteng ini menjadi lokasi pertahanan Belanda saat Perang Paderi antara tahun 1821 sd 1837. Meriam-meriam kuno masih dapat kita temukan di sekitar Benteng Fort De Kock. Sebenarnya ada satu benteng lagi yakni Fort Van der Capellen yang terletak di Batusangkar.   



Kami juga menelusuri Jambatan Gantung Limpapeh, yang menghubungkan Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan dengan Benteng Fort De Kock.  Adik ipar dan anggota rombongan terkecil menginginkan “special request” melihat lihat koleksi kebun binatang, dan akan saya jemput setelah mengantar istri dan adiknya belanja di Pasar Atas serta Pasar Bawah. 



Lalu istri dan adiknya kembali menyusuri Pasar Atas dan Pasar Bawah, sambil menunggu istri dan adiknya belanja, saya bersama Si Bungsu menikmati Ice Cream dari KFC di depan pasar.
Lalu lanjut ke Kaos Unik Rasa Minang. Kejutan buat saya melihat kualitas kaosnya dan lebih terkejut lagi ketika mengetahui semuanya produksi Bandung yang di desain di Bukit Tinggi lalu setelah dikirim dari Bandung kembali dijual di Bukit Tinggi.  

Lanjut ke http://hipohan.blogspot.co.id/2015/12/jelajah-sumatera-part-7-dari-10-menuju.html