Thursday, November 17, 2016

The Similitude of a Dream – The Neal Morse Band


Awalnya saya mendapatkan informasi mengenai album ini,  dari account Portnoy di Facebook. Dalam statusnya  tanpa ragu Portnoy mengatakan album ini merupakan album terbaik dari sekitar 50 album dimana Portnoy terlibat selama karirnya. Hemm jelas saya penasaran, maklum ini sama saja dengan mengatakan Scenes From a Memory, yakni album saat Portnoy masih di Dream Theater, adalah album yang kelasnya lebih rendah.  Portnoy juga mengatakan baginya album ini lebih merupakan kombinasi dua album konsep terbaik yakni Tommy dari The Who dan The Wall dari Pink Floyd.

Album dengan 23 track ini, digawangi oleh Neal Morse (Lead Vocals, Keyboards, Guitars), Mike Portnoy (Drums, Vocals), Randy George (Bass), Eric Gillette (Guitar, Vocals) dan Bill Hubauer (Keyboards, Vocals).  Bagi saya secara umum ada nuansa Flying Colors disini, meski dengan kompleksitas lagu yang lebih tinggi. Namun untuk skill gitar rasanya cukup jelas kalau Steve Morse levelnya masih diatas Gillette.  

Bagi The Neal Morse Band, album ini bukanlah album pertama, karena tahun 2014, setelah melakukan audisi, dimana Neal Morse dan Randy George akhirnya memilih Eric Gillette dan Bill Hubauer, mereka suda merilis “The Grand Experiment”, dilanjutkan dengan album konser “Alive Again”. Untuk drummer,  Neal Morse masih nyaman dengan Portnoy dimana mereka berdua sudah terlibat dalam sekitar 18 proyek album bersama. Agak aneh sebenarnya melihat Portnoy yang menjadi tokoh kunci di Dream Theater di sini seakan sebagai bayang-bayang Neal Morse saja.

Inspirasi album ini sebenarnya hanya dari sekitar 80 halaman pertama buku “Pilgrim’s Progress” karya John Bunyan tahun 1678. Namun itu cuma judul pendeknya saja, judul panjangnya “The Pilgrim’s Progress From This World To The That Which Is To Come; Delivered Under The Similitude Of A Dream”.  Nah lima kata terakhir inilah yang digunakan sebagai judul album The Neal Morse Band. Buku ini merupakan cerita tentang perjalanan spiritual lelaki dari  “City of Destruction” menuju kebebasan.

Saya hanya menduga duga kenapa Morse tertarik dengan buku ini, mungkin karena mirip dengan kisah hidupnya sendiri mengingat Morse pernah meninggalkan Spock’s Beard dan Transatlantic, demi memuaskan dahaganya akan spritualisme yang ujung-ujungnya  melahirkan album Testimony (2003).  Meski demikian setelah beberapa album solo di 2010  Morse sempat kembali ke Transatlantic dan menelurkan The Whirlwind

Album The Similitude of Dream,  memiliki durasi sekitar 106 menit, diluar kebiasaan musik progressive yang umumnya memiliki track panjang, ternyata track panjang dalam album ini alias diatas enam menit cuma  3 track. Berikut track list dalam album ini;

01. Long Day (1:42) ****
02. Overture (5:51) *****
03. The Dream (2:28) ****
04. City of Destruction (5:10) ****
05. We Have Got to Go (2:29) ****
06. Makes No Sense (4:09) *****
07. Draw the Line (4:06) ****
08. The Slough (3:02) ****
09. Back to the City (4:18) ****
10. The Ways of a Fool (6:48) ****
11. So Far Gone (5:20) ****
12. Breath of Angels (6:48) ****
13. Slave to Your Mind (5:55) ****
14. Shortcut to Salvation (4:36) ****
15. The Man in the Iron Cage (5:16) ***
16. The Road Called Home (3:23) *****
17. Sloth More (5:47) ***
18. Freedom Song (3:58) **
19. I'm Running (3:44) ***
20. The Mask (4:28) ***
21. Confrontation (3:59) ***
22. The Battle (2:57) ***
23. Broken Sky Long Day (9:58) *****


Diawali dengan vokal sendu Morse, dengan iringan orchestra dan gitar akustik Long Day mengawali album ini. Lalu lanjut sedikit lebih cepat, dengan solo gitar indah dan bersih, ketukan berubah ubah, permainan unison antara gitar dan keyboard yang mengasikkan, dalam Overture. Lalu lanjut dengan track tenang The Dream, yang mengingatkan saya akan Pink Floyd dengan gema yang perlahan fade out. Kemudian “City of Destruction yang masih kental dengan ciri khas Spock’s Beard, dan giliran Portnoy menunjukkan ketukan rumitnya di “We Have Got To Go”, dengan sound keyboard ala Tony Banks (dalam track legendaris In The Cage) yang dimainkan Hubauer dengan manis.  

Suasana kembali menjadi tenang di “Makes No Sense”, namun gaduh kembali dengan diawali distorsi gitar Gillette dalam “Draw The Line”, namun di menit 2:50 suasana berubah menjadi jazzy yang dimainkan Gillette dengan cantik. Neal Morse memang cukup terbuka dengan berbagai aliran, bukan cuma jazz, dalam “The Light” saat masih di Spock’s Beard malah dimainkan potongan lagu latin ala Trio Los Panchos. Nuansa jazz ini ternyata masih terus berlangsung dalam “The Slough” mulai 1:30 dengan sound gitar “psychedelic” ala Alan Holdsworth, dan kali ini Gillette tanpa ragu memamerkan teknik “sweeping”nya. Lanjut ke “Back To The City”, Morse menjerit dengan serak ala Peter Gabriel di track legendaris “Back In New York City” dan lagu diakhiri dengan kombinasi gema dan lagi-lagi “fade out” ala Pink Floyd.



The “Ways of Fool” dimainkan dengan jenaka, lanjut ke “So Far Gone” dan “Breath of Angels”. Kemudian “Slave to Your Mind” dimainkan dengan cepat, dan dilanjutkan dengan permainan saxophone dalam “Shortcut to Salvation” yang agak bernuansa pop. “The Man in The Iron Cage” sepertinya akan terasa akrab bagi penggemar Led Zeppelin, ya tidak salah pembukanya sangat bernuansa “Black Dog”.

“The Road Called Home” menjadi ajang pembuktian Hubauer dengan permainan cepat dan cantik. “Sloth More” kembali membuat kita tenang dengan ritme lambat dan sound gitar bening, lanjut dengan “Freedom Song” yang menggunakan petikan ala steel guitar musik country dan nuansa banjo. “I’m Running” menjadi track berikutnya dan lanjut ke intro piano Hubauer yang indah dalam “The Mask”. Lalu Portnoy dengan gaya drum progressive metalnya memulai “Confrontation”, dan masuk ke “The Battle” yang tidak kalah cepat, hingga akhirnya diakhiri Broken Sky track terpanjang dan saya kira juga track terbaik dalam album ini yakni hampir 10 menit dan memberikan suasana relaksasi layaknya suasana pelabuhan setelah badai reda ala “Peaceful Harbor” dalam album Second Nature karya Flying Colors.

Akhir kata, meski bagi saya belum sekelas The Wall dan sejujurnya saya belum merasa nyaman dengan vokal bernuansa pop ala Neal Morse, namun album konsep ini layak masuk 100 album terbaik progressive sepanjang masa, bersanding dengan album konsep dahsyat lainnya seperti "Lamb Lies Down on Broadway" – Genesis , "Close To The Edge" - Yes, "Misplaced Childhood - Marillion, "Scene Form a Memory" – Dream Theater, "Thick as a Brick" – Jethro Tull, "Fear of Blank Planet" – Porcupine Tree, "De-Loused in the Comatorium" - The Mars Volta, "2112" – Rush dan lain-lain. Hal lain adalah kurang seriusnya penggarapan cover album, kalau saja tampilan artistiknya sekelas "Leftoverture" - Kansas atau "10.000 days" - Tool wuih pasti akan memberikan nuansa lain. 

Silahkan cek link https://youtu.be/Fbzl46CuPiM?t=216 untuk dua track awal. 




No comments: