Friday, January 31, 2020

Jalan2 ke Tana Toraja – Part #2 dari 6 : Tiba di Makassar, Parepare dan Bukit Nona.




Apa itinerary kami ? begitu sampai di Bandara Hasanuddin yang skr terlihat sangat megah, AU langsung menyongsong kami dengan senyum khas, dan bergegas mengantar kami menuju ke 2 buah bis yang sudah disiapkan, beberapa kendaraan pribadi yang digunakan ajudan beliau, juga patwal dari kepolisian untuk mengawal rombongan.

Kami segera masuk bis dan berangkat  menuju Tana Toraja yang berjarak 300 km dari bandara. Di Maros,  AU mengajak kami sarapan Coto Makassar, sayang saya lupa memesan daging saja, alhasil mangkok coto saya, dipenuhi potongan otak, babat, ginjal dan lain-lain. Setelah perut dihangatkan coto dengan 2 buah ketupat, kami kembali melanjutkan perjalanan. Cuaca sangat terik, karena kami mulai menelusuri rute pantai. Menjelang shalat Jumat, di Masjid At Taqwa di Barru, sekitar jam 12:22, kami pun berhenti dipinggir pantai dan menuaikan shalat Jumat.

Masjid di sepanjang perjalanan berukuran besar, dan rata2 dilengkapi AC sehingga terasa sejuk. Saya jadi terinspirasi bagaimana perkampungan nelayan sederhana seperti ini, bisa membangun masjid-masjid berukuran besar, indah dengan fasilitas lengkap. Kuncinya tentu saja adalah gotong royong. Sekitar 7 tahun lalu saat ke Sorowako, saya ingat bagaimana masjid2 besar dan bagus ini, akan terus menerus kita temui  sepanjang perjalanan. Ajaibnya disekelilingnya terlihat rumah2 yang sangat sederhana milik masyarakat setempat.



Jam 14:28, akhirnya kami sampai di Parepare, daerah kelahiran Presiden Habibie, dan langsung menuju Restoran Asia, jalan Baso Daeng Patompo 25 . Dari luar tampak biasa, namun restoran ini menyediakan ruang-ruang berukuran besar yang dapat memuat semua rombongan. Makanannya sangat enak, dan melimpah ruah.  DI salah satu sudut jalan nampak monumen beliau dengan Bu Ainun.

Setelah kenyang, kami kembali melanjutkan perjalanan dan berhenti di sebuah lokasi untuk menikmati camilan dan kopi Toraja yang terkenal. Lokasi ini dipenuhi turis-turis bule mancanegara, karena pemandangannya memang luar biasa. Dikenal dengan nama Bukit Nona, namun penduduk setempat menyebutnya Buttu Kabobong (sesuatu yang seharusnya disembunyikan) karena dianggap mirip dengan perangkat reproduksi wanita.




Tak puas di beranda warung, saya naik sendirian 2 lantai sampai di roof top, dan kembali melakukan beberapa pengambilan gambar. Eh ternyata di lantai paling atas sudah ada dr Boy Abidin SpOG, rekan seangkatan istri yang lebih dikenal sebagai host dr. OZ dan kebetulan memiliki channel sendiri di Youtube, bersama kameraman andalannya yakni Mas Pudji.

Tengah malam akhirnya kami sampai ke Tana Toraja, setelah menempuh jalan2 dengan banyak rute pendakian. Kotanya lumayan ramai, dan meski sudah jam 21:00, warung2 terlihat masih buka dan ramai. Ada banyak warung yang menjual minuman keras dan juga Baso Babi. Buat wisatawan muslim ada baiknya bertanya-tanya sebelum membeli makanan disini. Kami akhirnya berhenti disebuah warung muslim berukuran kecil. Hidangan ala prasmanan sudah disiapkan, dan kursi2 plastik. Kami makan bersama-sama dalam suasana sangat kekeluargaan. 

Link berikutnya di https://hipohan.blogspot.com/2020/01/jalan2-ke-tana-toraja-part-3-dari-6.html

No comments: