Friday, August 22, 2014

Ronggeng Dukuh Paruk - Ahmad Tohari

Novel Ronggeng Dukuh Paruk (RDP) ini pertama kali saya baca saat dimuat sebagai cerita bersambung di Harian Kompas, 17 Juli sd 21 Agustus 1982. Hemm masih SMP sudah baca novel seperti ini, mestinya sih belum pantas. Namun selera membaca saya sejak kecil terhitung memang berlebihan, bahkan bungkus bekas belanja Ibu saya saja, sepulangnya beliau pasar ikut saya sikat, meski kadang cuma baca judul-nya saja atau bahkan sedihnya bersambung ke bungkus belanjaan yang lain eh maksud saya halaman yang lain. 

Kembali ke RDP, selain ceritanya yang memang menarik, harus diakui keunggulan Tohari dalam "melukis" alam hanya dengan kata-kata. "Lukisan alam" tersebut benar-benar terasa nyata saat menggambarkan suasana sekitar Dukuh Paruk, Ahmad Tohari bisa menggali tema-tema unik, seperti anak ayam yang disambar burung elang, burung pipit yang dikejar alap-alap,tupai yang memangsa kaki seribu, pasangan burung madu yang jantannya dimangsa ular hijau persis setelah tuntas mengawini sang betina, atau burung celepuk yang memburu katak lalu menjerit bagaikan hantu. Entah kenapa pada beberapa "lukisan" ini tergambar "keras"nya kehidupan, sekaligus memberikan gambaran kehidupan keras Srintil di masa mendatang.  




Dukuh Paruk sendiri, adalah potret masyarakat jahiliah, dimana kuburan (Ki Secamanggala) masih disembah, dimana kesurupan menjadi tradisi untuk berbicara dengan arwah leluhur, dimana makian menjadi bahasa sehari hari, dimana pendidikan dianggap tidak penting, dimana minuman keras dianggap sebagai tradisi, dimana perselingkuhan dianggap hal yang biasa, dan bahkan dimana Ronggeng adalah pahlawan bagi komunitas dukuh. Mungkin kita mentertawakan kejahiliahan Dukuh Paruk ini, namun  bahkan kota-kota besar di Indonesia pun sama jahiliahnya. 

Alur cerita dalam RDP fokusnya memang mengenai Srintil Sang Ronggeng dan Rasus Si Pemuda Desa yang memilih meninggalkan Dukuh Paruk, untuk menjadi tentara.  RDP juga menggambarkan kompleksitas "bahagia" yang mana di suatu masa Srintil dianggap sebagai warga kelas khusus, yang memiliki kekayaan, kecantikan, komunitas penggemar, namun justru mendambakan menjadi warga biasa, seorang istri tentara berpangkat rendah, dan tentu saja bayi, sebagai pelengkap harkat kewanitaannya. Bayi yang tak bisa mampir dalam kehidupannya, karena sebagai ronggeng, indung telurnya telah diremas hancur oleh sang mucikari sebagaimana kelak hancurnya kehidupan-nya kelak.  

Jelas karya Ahmad Tohari ini bukan karya sembarangan, dan diterjemahkan dalam beberapa bahasa seperti Jepang 1986, Belanda 1991, dan juga Jerman dll. Novel ini juga menjadi sumber penulisan skripsi dan bahkan tesis. Untuk memperoleh pemahaman yang menyeluruh dari karya ini, sebaiknya RDP dibaca sebagai trilogi, yakni sampai Lintang Kemukus Dini Hari (LKDH) dan Jentera Biang Lala (JBL). Meski topik ronggeng cukup sensitif, namun pendapat kritikus justru cukup positif sehingga bahkan RDP dianggap memiliki muatan dakwah. Beberapa resensi sempat menganggap RDP terlalu vulgar namun berubah pikiran setelah membaca LKDH dan JBL. 

RDP juga memberikan pemahaman tradisi dan budaya lokal, mulai dari Tempe Bongkrek sampai dengan Bukak Klambu. Sayang Rasus, dalam akhir RDP, sang tokoh utama yang meski memiliki kesempatan menjadi "pahlawan" Dukuh Paruk, justru secara mentah-mentah menolak tawaran Srintil menjadi istrinya. Namun sebagian novel memang tidak harus berakhir dengan bahagia,layaknya Raumanen karya Marianne Katoppo, salah satu legenda karya sastra klasik kesusasteraan Indonesia. 

Review bagian kedua dari trilogi ini dapat dilihat di link 
http://hipohan.blogspot.com/2014/09/lintang-kemukus-dini-hari-nya-ahmad.html


No comments: