Tuesday, March 10, 2020

Mengenang Paman – Desain Rumah


Setelah kami pindah dari Denpasar ke Bandung, ayah dan ibu mulai berpikir untuk memiliki rumah sendiri. Selama ini hal tersebut tidak terwujud, karena kami terus menerus pindah, mulai dari Bandung, ke Surabaya, Babat, Bandung, Sibolga, Denpasar dan Bandung. Ayah lalu membeli sebidang tanah di daerah Bandung Utara, seluas kira-kira 1.000 m2. 

Saat paman ke Bandung, ayah dan ibu mengajak beliau meninjau lokasi tersebut. Lokasinya sendiri memang agak sedikit ajaib, karena berada di bukit, sehingga memiliki 3 tingkatan ketinggian. Tidak kehabisan akal, paman menggambar bangunan tersebut dengan memanfaatkan tingkatan tersebut, sehingga meski rumah kami 3 lantai, namun lantai kedua dapat dicapai melalui tangga dengan hanya naik setengah level, demikian juga dari lantai ke dua menuju lantai ke tiga.

Paman menggambar rumah idaman tersebut dengan santai, di meja makan, sambil berusaha mengakomodasi semua keinginan kami. Sehingga masing2 kami memiliki kamar sendiri, sesuatu yang sudah sangat lama kami impikan. Maklumlah saat di tinggal di rumah kontrakan di jalan Galunggung, aku dan abang sekamar, ayah dan ibu sekamar dengan adikku , hanya kakak yang mendapatkan kamar sendirian. 




Karena keterbatasan dana yang dimiliki Ayah dan Ibu, paman menyarankan lantai dua dibuat menyusul, sehingga lantai 1 dan 3 diprioritaskan duluan. Hal ini dimungkinkan karena lantai 2 sama sekali tidak menggunakan lantai 1 sebagai dasar. Akhirnya rumah tersebutpun dibangun, dengan susah payah, karena dana yang dialokasikan sebenarnya dengan mengandalkan hasil penjualan tanah Ayah dan Ibu, yang berlokasi di Medan, namun tak jua laku. Sekitar tahun 1982 kami sekeluarga akhirnya pindah ke rumah tersebut, meski belum selesai. 

Kadang kalau paman sedang berkunjung ke Bandung, sesekali beliau menginap di rumah karyanya tersebut, lalu kami makan bersama dengan masakan khas Ibu seperti ayam goreng sambal, sayur daun ubi tumbuk, serta sambal tuktuk, juga telor dadar krispi (dan berantakan) khas ibu yang menggunakan tetesan jeruk nipis. Seperti biasa sambil makan paman akan bercerita banyak hal, tentang ilmu pengetahuan, situasi politik dan berbagai hal lainnya.