Tuesday, July 25, 2017

Jalan-jalan ke Garut Part #1 dari 3 : Alun-Alun Garut, Masjid Agung, Warung Senggol dan Kampung Muara Sunda.


Saat anak-anak masih kecil, Garut termasuk favorit kami sekeluarga, khsusnya kawasan Cipanas. Kami paling sering menginap di Sumber Alam, pernah sekali di Sabda Alam, lalu sekali di Danau Dariza dan pernah juga sekali di Tirta Alam 2. Untuk kuliner dulu, kami biasanya memilih Restoran Pujasega Jalan Otto Iskandar Dinata. Saat mertua masih ada, ternyata Garut juga merupakan destinasi favorit keluarga mertua.

Saya sendiri lebih suka Sumber Alam, karena kita bisa menikmati air panas secara private, sementara lokasi lain cenderung menyediakan kolam bersama. Namun semakin menjauhi Gunung Guntur, suplai air panasnya pun semakin terbatas. Sebagian yang benar-benar ingin nuansa yang lebih alami tanpa tv, tanpa listrik dan menggunakan perahu, akan memilih Kampung Sampireun, sekitar 13 km dari Cipanas.

Bagi saya sekeluarga karena pernah beberapa kali terjebak di kemacetan luar biasa di Nagreg, istri lebih suka mencoret Garut dari alternatif destinasi wisata kami. Meski secara jarak hanya butuh 1 jam, asalkan tidak bentrok dengan hari gajian atau bubaran shift karyawan Kahatex. Sepanjang jalan kita bisa menikmati Ubi Cilembu dan Tahu Sumedang yang banyak tersedia persis sebelum masuk Nagrek. Selain itu banyak rumah makan tradisional seperti Restoran Asep Stroberi yang terkenal dengan Nasi Liwetnya.

Sabtu lalu, terkait acara Bakti Sosial FK Unpad 87 sekaligus reuni 30 tahun, istri minta saya untuk mendampinginya, karena kebetulan dia diminta menjadi salah satu panitia. Alhasil kami berangkat Sabtu 22/7/2017 dini hari dengan enam kardus berat berisi obat yang nyaris memenuhi bagasi, untung saja Dahon (Dan tentu saja helm berikut sepatu) saya masih bisa diselipkan, sehingga saya bisa menjalankan agenda pribadi sambil menunggu istri. Setelah sempat terjebak di dua lokasi Kahatex yang menjadikan Sabtu sebagai hari gajian, kami akhirnya sarapan di Resto Laksana, semangkok Sop Iga dan semangkok Sop Buntut panas serta Teh Hangat , berhasil meredam situasi psikologis akibat macet Kahatex.

Acara FK Unpad sendiri berlangsung di Pendopo Kabupaten Garut, begitu parkir mobil, lalu saya mulai hunting, dan yang terdekat tentu saja adalah Masjid Agung Garut yang berdiri sejak 1809. Renovasi terakhir dilakukan 1994 dan selesai pada 1998. Penampakan masjid ini terlihat akrab, karena memang jadi cover buku laris Garut Kota Illuminati. Saat ini saya kira julukan yang lebih pas bukan Kota Illuminati melainkan Kota Kapau, nyaris di setiap keramaian ada Rumah Makan Kapau alias Padang. Bahkan kita bisa melihat rumah gadangnya sekalian di Resort Danau Dariza. Kembali ke Masjid, saat renovasi ini, ada sedikit penyesuaian arah kiblat yang melibatkan ahli geodesi dari ITB.




Saat menjelang siang  istri keluar sebentar, lalu kami berdua cek Tripadvisor, dan mulai memilih destinasi kuliner,  sayangnya Sate Maranggi Pak Nur terlalu jauh dari lokasi pendopo, dan Mie Baso Parahyangan juga ternyata tutup, sehingga kami memilih Warung Senggol jalan Ciledug 176. Ternyata masakannya memang enak dan tidak mengecewakan. Ada tiga jenis nasi disini, Nasi Putih, Nasi Liwet dan Nasi Jeruk. Tanpa ragu saya memilih Nasi Jeruk, lalu sepotong dada ayam goreng dengan lumuran sambal cabai hijau, satu tusuk sate “ati ampela”, sepiring kecil jamur goreng dan semangkok Es Cikapayang.  Berdua dengan istri total biaya sekitar 80 ribuan.






Kami lalu kembali ke Pendopo, di bagian depan pendopo terdapat taman, lalu di depan taman nampak sebuah bangunan berpanggung atau berkolong setinggi dua meteran, yang biasa disebut babancong, dan berguna bagi pembesar zaman dulu untuk menyaksikan keramaian atau lokasi pidato.  





Akhirnya menjelang jam 13:00, para alumni bergerak ke Kampung Muara Sunda untuk makan siang. Saya dan istri yang sudah makan hanya mencicipi sedikit demi sedikit, termasuk Tumis Iga yang menjadi menu andalannya, namun buat saya masih belum cocok di lidah. Suasana makan disini cukup enak, mushallanya bersih, ditengah-tengah ada kolam ikan, dan jejeran lokasi lesehan di bagian belakang langsung berhadapan dengan sawah, bisa dibayangkan bagaimana mengantuknya kita ditiup angin sepoi-sepoi setelah makan ikan bakar.  





Lanjut ke link http://hipohan.blogspot.co.id/2017/07/jalan-jalan-ke-garut-part-2-dari-3.html