Monday, February 27, 2012

Dreams of My Father nya Obama

Bagi saya buku ini sangat tidak terduga, Obama memilih untuk blak2an termasuk sisi gelap dalam kehidupan remaja-nya saat menggunakan ganja ataupun mabuk2an sampai pagi dengan teman2-nya. Saya rasa ini mungkin topik “penggunaan ganja” yang juga pernah diangkat presenter nyeleneh Panji, dan akhirnya memicu jubir Presiden SBY ikut mengomentari Panji. Obama sendiri menyampaikan bahwa buku ini diperlukan untuk memberikan gambaran yang "benar" dan dibuat sendiri oleh Obama, untuk menangkis kampanye negatif tentang sosok Obama.

Obama juga menyinggung kehidupan masa kecil-nya di Indonesia, rumah-nya yang bagai kebun binatang lengkap dengan buaya dan kera. Ayah tiri-nya yang galau dan sering bangun malam sambil minum whiskey, serta tak lupa rasa daging anjing, serangga goreng, ataupun kesukaan-nya akan buah rambutan dan tidak dapat berhenti sebelum sakit perut. Permainan masa lalu di Jakarta seperti sepak bola, layangan, badminton ataupun mengikat ekor capung dengan seutas tali, tak lupa diceritakan juga oleh Obama. Bahkan bukan cuma hal itu, jalan yang macet dan pengemis ada dimana-mana juga merupakan sepotong kenangan tentang Indonesia yang terus melekat dalam sanubari Obama.  

Meski ditinggal Ayah-nya selagi kecil, namun Obama akhir-nya dapat bertemu Ayah kandung-nya, saat ybs berkunjung ke Amerika untuk berobat. Obama pun akhirnya mengetahui bahwa Ayah-nya menikah lagi dan memiliki 5 anak sekaligus saudara tiri Obama di Kenya. Interaksi di saat dewasa ini berlangsung dengan tidak mudah. Perasaan asing dan kecewa dengan Ayah kandung-nya dan terutama karena ditinggal sejak kecil membuat Obama bersusah payah menerima kehadiran sosok tersebut. Namun sebelum intensitas hubungan mereka membaik, Obama harus menerima kabar kalau Ayah-nya meninggal dalam usia 51 karena kecelakaan lalu lintas setelah kembali ke Kenya.

Kejutan juga bagi saya menyadari friksi rasial masih terjadi di Hawaii, yang notabene secara ras cukup beragam dibanding kebanyakan daerah di Amerika dan dialami Obama saat kembali ke rumah nenek dan kakek-nya sepulang dari perjalanan dari Indonesia. Terlihat juga bagaimana Obama kesulitan menempatkan diri-nya sebagai kulit berwarna yang memiliki latar belakang unik, kakek dan nenek dari pihak Ibu kulit putih meski juga juga diwarnai dengan darah Indian Cherokee, ayah muslim Kenya dan ayah tiri Indonesia, dan adik satu-satunya yang juga berdarah separuh Indonesia.



Saat2 beberapa teman-nya terjebak obat2an dan ditangkap polisi, sementara Obama sendiri masih galau akan masa depan-nya, Ibu-nya yang sedang disibukkan dengan kegiatan mencari nafkah dan kembali kuliah berusaha untuk secara intensif berdiskusi dengan satu2nya anak lelaki-nya. Bab soal ini mengingatkan saya akan perjuangan seorang anak lelaki untuk menjadi dewasa, seperti yang saya alami dengan anak saya sendiri dan juga mengingatkan saya akan David Gilmour dalam buku-nya "Klub Film".

Semakin kesini buku ini menjadi semakin menarik, dan bab mengenai Auma, yaitu kakak Obama dari istri pertama Ayah-nya menjadi awal-nya, kemudian pertemuan dengan Roy abang tirinya yang masih menyimpan kekecewaan pada Ayah mereka, lalu puncaknya adalah perjalanan ke Kenya, dimana Obama menemui istri lain dari Ayah-nya, Bibi-nya, Paman-nya, dan lain2. Obama merasa menemukan akar dari kehidupan-nya yang seakan akan lepas saat di Amerika. Lalu dia mulai mencoba belajar tentang penyebab kisah hidup Ayah-nya yang penuh onak dan duri meski meraih gelar Doktor, dan berharap dapat menemukan jalan yang lebih baik untuk survive.

Selain Bab tersebut, pada bab "Mata Biru Ruby", ada hal yang dapat kita jadikan inspirasi, yaitu pada saat Obama menjadi aktivis di Altgeld Gardens, Chicago. Obama berkisah tentang perjuangan, yaitu tentang Mrs. Stevens seorang aktivis kesehatan yang mengalami masalah penglihatan karena katarak. Pada waktu itu ia bekerja sebagai sekretaris, akan tetapi karena kuatir dipecat sedangkan mencari pekerjaan lain dengan mata yang nyaris buta hampir2 tidak mungkin, dia menyelinap ke kamar mandi setiap kali harus membaca memo atasan-nya dan dengan kaca pembesar dia lalu menghapalkan setiap baris agar bisa diketik. Lalu dia terpaksa bekerja sampai malam untuk menyelesaikan laporan yang harus siap keesokan paginya. Dengan cara ini tak seorang pun tahu bahwa dia nyaris buta selama setahun, lalu dengan gaji yang dia hemat selama setahun itu dia menjalani operasi untuk memulihkan mata-nya.

Fokus utama buku ini adalah bab yang menceritakan saat "kepulangan" Obama ke Kenya. Dalam salah satu bab, Obama bertemu tetua yang tahu persis sejarah Suku Luo. Tetua tersebut juga bercerita asal mula datang-nya kulit putih yang pada awal-nya hanya mereka duga sebagai pedagang sebagaimana orang2 Arab yang pada masa itu yang berdagang sampai ke Kenya.  Lambat laun para pedagang kulit putih, mulai menguasai tanah, memberlakukan mata uang dalam perdagangan dan memungut pajak. Mereka juga membayar preman2 lokal Luo yang menjadi centeng mereka, Lalu lebih banyak lagi senjata yang masuk, dan penduduk yang melawan dipukuli atau ditembak, serta rumah-nya dibakar. Namun demikian kepulangan Obama ke Kenya ini membuat Obama seakan terlahir kembali dan memiliki identitas yang lama hilang saat ia berada di Amerika.

Buku ini ditutup dengan pernikahan Obama, dan bagaimana abang tiri-nya justru menjadi salah satu bagian paling penting dalam upacara tersebut hadir dan turut men"support" Obama. Memeluk Islam membuat abang tiri-nya mengubah nama dari nama barat (Roy) menjadi nama Kenya (Abongo) dan memberikan harga diri serta landasan yang kuat bagi takdir-nya sebagai kulit hitam. Bahkan begitu dekatnya Abongo pada nenek Obama dan Ibu-nya sehingga ia menganggap mereka sebagai ibu-nya sendiri, dan mereka pun sebaliknya menganggap Abongo sebagai anak sendiri. Kalimat terakhir Obama terkait momen pernikahan, dan dukungan abang tiri-nya sangat berkesan dan mengakhiri semua kebingungan akan identitas Obama dengan "Saat itu aku merasa menjadi orang paling beruntung di Dunia".

13 Prinsip

Kali ini saya ingin menulis tentang sosok salah satu atasan saya selama berkarir 23 tahun dalam dunia IT. Tidak ada manusia yang sempurna, sepertinya juga hal-nya saya dan tentu saja beliau. Dalam hal ini saya juga tidak berniat  bicara benar atau salah, urusan benar dan salah saya serahkan kembali pada pembaca. Singkat kata begitu juga salah satu atasan saya yang dengan cara beliau yang seringkali tidak mau dengar penjelasan orang lain, nyaris selalu merasa benar, “sumbu-nya” pendek, kurang sabar, curiga terus dan tidak segan2 mem”permalu”kan seseorang dalam forum bahkan kadang di depan anggota team-nya sendiri. Dalam salah satu meeting saya sempat mencoba menghitung kata "nggak" yang sangat sering beliau ucapkan dan ternyata dapat mencapai frekuensi 70x dalam satu jam.

Salah seorang rekan yang cukup intensif interaksinya dengan beliau, pernah memberikan perumpamaan, bahwa ini mirip seperti membuat pedang, yang kualitas-nya hanya bisa dihasilkan dengan proses tempa berkali kali agar dapat menjadi tajam. Tapi memang kenyataan di lapangan, sebagian dari mantan team beliau umum-nya adalah pribadi yang tangguh, dan kuat menghadapi tekanan, walau sebagian yang lain ada juga yang gugur dalam perjalanan.

Harus diakui dengan gaya seperti ini suasana kerja memang jadi kurang nyaman tetapi meski demikian, sosok “legendaris” seperti beliau punya sisi positif yang layak dipelajari, dan saya mencoba untuk menganalisa 13 prinsip beliau yang bisa kita sempurnakan untuk mengembangkan karakter leader dan managerial kita sendiri. Dalam prinsip2 yang dijalankan beliau, saya menambahkan tanda bintang 1 sd 5, untuk memberikan penilaian terhadap prinsip tersebut. Untuk yang bintang-nya kurang dari 5, tentu saja diperlukan penyempurnaan agar prinsip ini jadi lebih “baik” untuk di-implementasikan.

1. Prinsip #1 Data (*****)
a. Strategi

i. Berbicaralah dengan data.
b. Penjelasan
i. Tidak ada gunanya penjelasan jika tidak dilengkapi data pendukung.



2. Prinsip #2 Penguasaan masalah (****)
a. Strategi

i. Kuasai pemahaman secara konsep
ii. Sekaligus pahami secara detail.

iii. Pastikan anda mengetahui persis bagaimana suatu pekerjaan dilakukan.
b. Penjelasan
i. Saat anda berbicara tipe audiens tak dapat dipastikan, dan dengan menguasai konsep sekaligus detail, maka semua pertanyaan akan dapat kita jawab.

ii. Dengan menguasai masalah anda juga dapat melakukan kontrol secara komprehensif terhadap team anda, dan dengan demikian anda tidak pernah akan kuatir ditinggalkan team.


3. Prinsip #3 Menjawab pertanyaan (***)
a. Strategi

i. Jawablah pertanyaan dengan keyakinan.
b. Penjelasan
i. Menjawab dengan ragu2,menyebabkan jawaban benar sekalipun jadi terlihat salah.
ii. Jawablah tanpa ragu  meski kadang di dalam hati kita tidak yakin.



4. Prinsip #4 Plan (*****)
a. Strategi

i. Pastikan selalu setiap plan memiliki tanggal deadline.
ii. Pastikan juga PIC dari setiap plan yang dibuat.

b. Penjelasan
i. Jika harus menyinggung plan, pastikan ada tanggal deadline sebagai komitmen, tidak ada gunanya plan jika tidak ada deadline yang dapat disepakati.
ii. Lakukan kontrol ketat terhadap plan yang sudah dibuat.



5. Prinsip #5 Kepercayaan (***)
a. Strategi

i. Lebih baik tidak percaya dulu dibanding percaya dulu namun tertipu.
ii. Uji kemampuan team anda dengan berbagai pertanyaan.

b. Penjelasan
i. Lebih mudah menaikkan di banding menurunkan,
ii. Lebih mudah memberi dari pada menarik kembali,
iii. Jangan pernah ragu atau menggunakan hati jika harus menghukum, jika bisa dimaafkan maka “bina”lah, jika tidak bisa dimaafkan maka “binasa”kan lah.
iv. “Negatif thinking” harus kita pelihara dan dapat membuat kita waspada.



6. Prinsip #6 Presentasi (*****)
a. Strategi

i. Jangan gunakan banyak singkatan.
ii. Gunakan istilah yang familier dengan audiens.
iii. Lakukan simulasi sebelum presentasi yang sebenarnya.

b. Penjelasan
i. Buatlah yang audiens inginkan dan bukan yang anda bisa buat.



7. Prinsip #7 Meeting (*****)
a. Strategi
 
i. Hargai waktu dan orang yang mengundang.
ii. Datanglah lebih awal jika harus bertemu, karena tidak ada yang bisa memrediksi apa yang terjadi.
iii. Fokuslah pada lawan bicara dan tujuan diskusi.

b. Penjelasan
i. Tak ada guna-nya meeting jika kita semua sibuk dengan urusan masing2.
ii. Jika harus merespon email,sms,bbm, atau telepon, maka jika masih bisa ditunda balaslah setelah meeting, jika harus menjawab telepon penting sampaikan anda sedang meeting sehingga lawan bicara akan fokus pada hal2 penting saja.



8. Prinsip #8 Target (****)
a. Strategi

i. Buat target yang tinggi namun tetap realistis.
ii. Kontrol secara rutin.
iii. Naikkan target jika target sebelumnya dapat dicapai kurang dari waktu yang disepakati.

b. Penjelasan
i. Target yang tinggi membuat orang menjadi “deg2an” dan ini bagus untuk memberi stress positif.
ii. Setiap orang harus kerja keras, kenaikan target bagi yang pencapaian-nya bagus akan menyebabkan kita dapat meng-utilisasi secara maksimal sumber daya yang punya kualitas lebih. 



9. Prinsip #9 Keuangan (*****)
a. Strategi

i. Berhematlah seakan akan uang perusahaan adalah uang anda sendiri.
ii. Jujurlah dengan uang atau asset perusahaan, meski hanya selembar kertas HVS.
b. Penjelasan

i. Gunakan uang hanya untuk hal2 yang benar2 perlu.
ii. Gunakan pengeluaran dengan bertanggung jawab.
c. Kasus
i. Kenapa harus ganti notebook per tiga tahun, jika usia notebook dapat mencapai 5 tahun



10. Prinsip #10 eMail ethics (***)
a. Strategi

i. Jangan tunda2 membalas eMail meski di hari libur sekalipun.
ii. Jawab dengan efisien dan jelas.
iii. Jika diskusi via eMail jadi berlarut dan melibatkan lebih banyak pihak, maka segera undang untuk meeting dan buat kesepakatan.

b. Penjelasan
i. Respon eMail yang cepat sehingga pengirim dapat segera mendapatkan jawaban, dan jika harus diselesaikan secara tatap muka langsung maka lakukanlah.


11. Prinsip #11 Peningkatan kualitas  (***)
a. Strategi

i. Training hanya untuk hal2 sangat penting, jika tidak akan dipraktek-kan tidak ada guna-nya training.
ii. Jangan takut pada hal2 yang baru, dibalik hal2 baru ada manfaat yang kelak akan anda raih.
b. Penjelasan
i. Tidak ada gunanya training jika tidak dipraktek-kan, dilain pihak menguasai lebih banyak pengetahuan lewat praktek langsung akan membuat kualitas  kita meningkat.



12. Prinsip #12 Disiplin (***)
a. Strategi

i. Datang lah tepat waktu dan menjadi contoh bagi team anda.
b. Penjelasan
i. Waktu sangat mahal, jadi gunakan dengan bijaksana.
c. Kasus
i. Selama puluhan tahun berkarir, beliau memang konsisten, nyaris selalu datang sejam lebih awal dan dua jam lebih larut, bahkan beliau bisa dikontak nyaris 24 jam, meski sedang berada di luar negeri yang jam-nya selisih ekstrim dengan Indonesia.



13. Prinsip #13 Manajemen Resiko
a. Strategi

i. Pastikan kita sudah menghitung semua resiko yang mungkin.
ii. Namun jika sudah terjadi, jangan lari dan hadapi dengan kepala tegak.
iii. Jangan tunda2 untuk mengambil putusan, karena tidak mengambil putusan juga merupakan putusan, dan  sering kali menjadi putusan yang salah.

b. Penjelasan
i. Jika semua resiko sudah diperhitungkan maka, apapun hadapilah.
c. Kasus
i. Kasus #1 : Dalam sebuah implementasi aplikasi enterprise, semakin lama semakin tidak terlihat ujung-nya, jika berhenti sekarang maka akan kena denda, jika tidak berhenti pengeluaran jalan terus, maka setelah diputuskan tidak mungkin selesai dan segera untuk berhenti meski kena denda.
ii. Kasus #2 : Dalam sebuah proyek maintenance, perencanaan awal gagal karena tidak memperhitungkan usia perangkat, akibatnya SLA terus menerus miss, dan terkena denda, jika dibiarkan maka nama perusahaan jadi jelek, namun jika harus mengganti perangkat biaya-nya cukup besar, maka karena nama lebih penting, diputuskan untuk mengganti perangkat lama dengan perangkat baru.
iii. Kasus #3 : Dalam sebuah proyek implementasi aplikasi services desk, mitra tidak sanggup mencapai target, meski kita sudah mengeluarkan dana sangat besar, jika mitra terus dipaksa maka sudah jelas target tetap tidak tercapai, maka diputuskan untuk meng”cover” pekerjaan mitra meski “rugi” namun keperceyaan customer terjaga, dan mendapatkan proyek lain dari customer.




Wednesday, February 22, 2012

Black Forest nya Agents of Mercy

Rindu dengan Flower Kings dan masih menunggu album setelah “ The Sum of No Evil” ? Mengharapkan album baru Peter Gabriel bersama Genesis setelah bertahun tahun hanya mendengar "From Genesis to Revelation”,  “Tresspass”, “Selling England By The Pound”, “Lamb Lies Down on Broadway”, “Nursery Crime” dan “Foxtrot” ?, kalau jawaban pertanyaan tersebut adalah ya, maka dengarlah Agents of Mercy. Saat ini grup besutan gitaris Swedia dengan petikan mistis yakni Roine Stolt ini sudah merilis tiga album, namun saya baru sempat ekplorasi “The Black Forest”.  Dua album lainnya yaitu “Dramarama” dan “The Fading Ghosts of Twilight”.



Vokal yang khas dan sahdu dan menyihir (meskipun cukup sulit membedakan yang mana Ned Sylvan dan yang mana Roine Stolt), suara gitar yang menyayat ala David Gilmour,  lantas suara flute sayup sayup dan suasana psychedelic yang dibangun benar benar sangat nikmat . Total track sepanjang 56 menit ini benar benar memuaskan kerinduan sound klasik.

01.The Black Forest (****)
02.A Quiet Little Town (**)
03.Elegy (*****)
04.Black Sunday (**)
05.Citadel (**)
06.Between Sun & Moon (****)
07.Freak Of Life (**)
08.Kingdom Of Heaven (****)

Pembuka di track “The Black Forest”, agak mengagetkan, namun vokal yang cantik lalu membius kita, dan tak sadar ikut bersenandung khusus-nya di kata2 “Power and Glory…”. Track “A Quiet Little Town”  biasa saja, dan kurang lebih track “Black Sunday yang agak sedikit berbau rock’n roll. Namun ancungan jempol dapat kita berikan pada track “Elegy”, yang langsung membius dengan kualitas vokal prima dan nada2 yang sulit diduga meski terkesan muram.  Track “Elegy” mengingatkan saya salah satu track Flower Kings favorit saya yang juga muram yaitu “Dream on Dreamer” dari album “Space Revolver”.

Pada track  “Between Sun and Moon” kita kembali  diingatkan track cantik ini pada lagu2 ala Flower Kings. Track “Freak of Life” agak menurunkan tensi dari keasyikan track sebelumnya, namun dihiasi dengan paduan suara ala Spock’s Beard. Track terakhir “Kingdom of Heaven” diawali dengan nada2 aneh dan terkesan sumbang, lalu sound moog ala group progressive klasik dan dentingan gitar akustik, lalu solo gitar menyayat nan asyik selama nyaris dua menit, dan ditutup kembali dengan dentingan gitar akustik.

Kesimpulan saya, album ini layak koleksi, dan lewatnya baik Genesis era Peter Gabriel ataupun Flower Kings tetap lahir kembali dan hidup di era kini. Meski demikian sentuhan drum ala Flower Kings yang ketukan-nya dan sound-nya sangat khas jadi hilang, karena dalam album ini meski ada Roine Stolt dan Jonas Reingold namun seksi drum dimainkan oleh Walle Wahlgreen .

Notes From Qatar 2” nya Muhammad Assad

Kalau buku pertama semboyan-nya adalah Positive, Persistence, Pray maka di buku kedua semboyan-nya adalah Honest, Humble dan Helpful. Nah kenapa dengan tiga semboyan baru ini atau disingkat dengan 3H.

“H” pertama adalah Honest yang otomatis berhubungan dengan integritas, meski Assad menyebutkan dua hal yaitu perbuatan dan perkataan, maka ada baiknya saya tambahkan yang ketiga yaitu pikiran. Artinya orang jujur adalah orang yang integritas-nya tinggi, dan perkataan, pikiran serta tindakan semua-nya  selaras.

“H” yang kedua adalah rendah hati, tentu saja hidup sederhana merupakan bagian dari sikap rendah hati. Untuk ini Assad mengutip banyak tokoh yang luar biasa, salah satunya Warren Buffet, yaitu salah satu orang terkaya di dunia. Saat ini beliau masih tinggal di rumah sederhana miliknya yang dibeli dengan harga 300 jutaan, sejak 50 tahun yang lalu dengan kendaraan tua yang dia beli sejak 2001. Pergi kemana mana tidak dengan pesawat pribadi meski dia memiliki salah satu perusahaan Jet terbesar di dunia. Pada 2006 dia mendonasikan 30,7 Miliar USD kepada Gates Foundation, dan tercatat sebagai sumbangan amal terbesar dalam sejarah Amerika. Barangkali saya perlu mengingatkan  satu tokoh rendah hati yang termasyhur sepanjang sejarah tak lain dan tak bukan Mahatma Gandhi.

“H” yang ketiga adalah Helpful, yaitu penolong terhadap sesama. Assad mengutip hadis Nabi “Sebaik baik manusia diantara kamu adalah yang paling banyak memberi manfaat pada sesama”. Lalu diikuti kategorisasi menurut Emha Ainun Nadjib, mulai dari Manusia Wajib (yang keberadaanya dibutuhkan orang lain), Manusia Sunnah (yang keberadaan-nya dibutuhkan, namun tanpa-nya segala sesuatu tetap dapat berjalan dengan baik), Manusia Mubah (yang dia ada atau dia tidak ada tidak mengubah apa2) , Manusia Makruh (yang jika dia tidak ada tidak apa2, tetapi jika hadir justru mendatangkan keburukan) dan Manusia Haram (satu2nya yang diharapkan dari jenis ini adalah jika dia tiada). Point penting dalam “H” yang ketiga adalah Helpful adalah investasi terbaik, karena menolong orang berarti menolong diri kita sendiri, bisa saat ini bisa juga kelak.



Sedikit kritik bagi Assad adalah halaman 15, dimana disebutkan selama 10 abad Islam memimpin peradaban, berhasil menaklukkan dua imperium terkuat pada masa itu, Yunani dan Romawi. Nah mungkin yang dimaksud Assad adalah Persia dan Romawi.

Kritikan berikutnya, adalah saat kunjungan Assad di Belanda, saya mengagumi kejujuran Assad menceritakan bahwa dia sempat jalan2 ke Red District, karena tergiur omongan sobat-nya Vidi, bahwa belum ke Belanda kalau belum ke Red District. Meski Assad mungkin cuma iseng dan tidak melakukan apa2 (dan saya percaya itu), tapi hal ini tidak seharusnya dilakukan. Karena Assad sekarang jadi idola banyak orang dan jadi panutan, ada baiknya Assad justru menganjurkan jangan meniru apa yang sudah dia lakukan, dan dia menyesal terbujuk oleh Vidi misalnya. Semoga Assad dapat lebih bijak lagi dalam bersikap kedepan, atau bahwa tidak ke Belanda kalau tidak mengunjungi bendungan, misalnya.

 Kritikan terakhir adalah perbedaan makna "silaturahim" dan "silaturahmi", yang mana seharusnya adalah "silaturahim", karena rahmi artinya “nyeri saat melahirkan”, jadi "silaturahmi" artinya menyambungkan rasa nyeri saat melahirkan, sedangkan "silaturahim" artinya “menyambungkan kekerabatan / persaudaraan”. Namun dalam buku ini setelah Assad wanti2 menggunakan istilah tersebut, malah muncul lagi dua kata “silaturahmi” yakni di Halaman 273 paragraf #4 dan Halaman 286 paragraf #1, he he mudah2an di edisi selanjutnya kesalahan ini dikoreksi.

Secara isi, NFQ2  ini menunjukkan kemajuan Assad dalam merangkai kata2 dibanding NFQ#1, dan cerita nyata sumbangan sahabat2 Assad semakin memperkuat keyakinan kita akan dahsyat-nya sedekah. Semoga dengan inspirasi dari buku ini, sedekah lebih banyak diamalkan dan akan lebih banyak lagi orang2 tak mampu yang tertolong.

Monday, February 20, 2012

Sekali Peristiwa di Banten Selatan nya Pramoedya

Buku ini pertama kali diterbitkan di 1958, tujuh tahun setelah “Bukan Pasar Malam”. Mengingat buku ini pernah diterbitkan Lekra di 1959, sepertinya memang ada modus tertentu dari sudut pandang Lekra untuk menerbitkan ulang buku ini dan bukannya buku seperti “Bukan Pasar Malam”. Temanya yang berhubungan dengan perlawanan rakyat sepertinya cocok pada masa itu untuk diangkat. Sedangkan “Bukan Pasar Malam” sepertinya terlalu religius dan melankolis bagi Lekra dan mungkin justru bertendensi melemahkan perlawanan.



Format-nya sendiri cukup unik, yaitu gabungan antara novel dan skenario. Saya pribadi kurang suka format skenario karena rasanya kita tidak berhadapan dengan dunia nyata, tetapi dunia sandiwara. Namun demikian karena masih menyisakan gaya penulisan novel, buku ini tetap enak dibaca. Cara bercerita Pram yang tidak menggurui dan memosisikan pembaca sebagai  bagian dari cerita membuat kita terus menerus penasaran dengan akhir cerita. Memang salah satu kelebihan Pram sebagai “pencerita “ membuat situasi yang memaksa pembaca memiliki pandangan sendiri.
Ceritanya bermula dari hasil reportasi singkat Pram di wilayah Banten Selatan yang subur namun rentan dengan penjarahan dan pembunuhan. Tanah2 rakyat di rampasi oleh tuan tanah saat terjadi pengungsian, yang mana para pengungsi  tanpa sadar mau saja menempelkan jari sebagai cap asal bisa meninggalkan daerah-nya, dan saat kembali baru mereka menyadari kalau cap tersebut adalah tanda serah terima atas tanah yang mereka tinggalkan.

Pada saat itu gerombolan DI banyak melakukan pencegatan, pembakaran rumah, pembunuhan dan penculikan, dalam kisah ini digambarkan tokoh Juragan Musa yang anehnya tak pernah di ganggu DI. Suatu saat Juragan Musa konflik dengan Ranta, yang meski orang kecil namun berwatak keras dan pemberani. Marah karena dikerjain dan dijebak oleh Juragan Musa serta rumah-nya dibakar, maka Ranta memberanikan diri untuk melaporkan kecurigaan penduduk kalau Juragan Musa adalah salah satu petinggi DI ke Komandan Tentara setempat. Sang Komandan setempat segera menindak lanjuti laporan tersebut dan menggalang kekuatan dengan bantuan Ranta.

Untuk lebih memberdayakan masyarakat, Komandan yang kekurangan prajurit akhirnya memilih Ranta menjadi lurah, yang akhirnya dapat menggalang kekuatan rakyat untuk melawan grombolan DI. Ranta yang meski tidak bisa membaca akhirnya dapat diterima sebagai pemimpin, dan walau dengan senjata ala kadarnya, dalam beberapa kali pertempuran dapat mengalahkan gerombolan dan menyadarkan masyarakat bahwa jika bersama sama, apapun akan dapat kita lakukan. Bagaimana Ranta mengatur strategi tempur memberikan kesan bahwa Pram menggunakan latar belakang-nya sebagai tentara untuk menggambarkan-nya, sehingga terkesan realistis.

Cerita berakhir dengan “happy ending”, dimana Ranta akhirnya dikukuhkan sebagai lurah baru, penduduk menyadari penting-nya kerja sama, istri Juragan Musa bahkan kembali dari pelarian, menyadari kesalahan suaminya dan bersedia mengajarkan para wanita di desa membaca. Kalimat yang menarik  dalam buku ini adalah “Dimana mana aku selalu dengar, yang benar juga yang akhirnya menang. Itu benar. Benar sekali. Tapi kapan ? Kebenaran tidak datang dari langit, dia mesti diperjuangkan untuk menjadi benar”.

 

 

Bukan Pasar Malam nya Pramoedya

Imbas dari membaca buku “Pram Melawan” terbitan Nalar, saya jadi tergerak untuk mulai mengoleksi buku Pram. Meski pernah menammatkan tetralogi kaliber magnum opus karya beliau di Pulau Buru yaitu “Bumi Manusia”, “Anak Semua Bangsa”, “Jejak Langkah” dan “Rumah Kaca “namun saya baru menyadari tak satupun buku Pram yang saya punya.

Setelah perburuan di beberapa toko buku, akhirnya saya sudah berhasil mendapatkan 11 karya beliau diantaranya adalah “Bukan Pasar Malam” yang pertama kali diterbitkan Balai Pustaka di 1951. Buku ini meski tipis, namun justru salah satu karya yang paling disukai Romo Mangun. Dalam buku “Pram Melawan”, disebutkan juga bahwa Romo Mangun, sempat mengunjungi Pram di Pulau Buru, dan lantas menyampaikan kalau karya2 Pram menginspirasi beliu untuk menulis. Pada masa itu Pram juga mengingatkan Romo Mangun tidak ada warisan terbaik dari seorang intelektual selain buku, yang akan terus menjadi obyek yang dapat menjadi pelajaran bagi generasi berikutnya.



Apa yang menarik dari karya Pram dengan wajah baru dan dengan penerbit “Lentera Dipantara” ? pertama tama tentu saja cover karya Ong Hari Wahyu. Lupakan artwork-nya Hasta Mitra yang terkesan asal-asalan. Harus diakui selera Ong khusus-nya soal warna bukan karya murahan. Teknik melukis-nya sangat ekspresif seperti yang dia tunjukkan di karya Pram "Sekali Peristiwa di Benten Selatan", bahkan bagi saya tidak kalah dengan maestro lukis seperti S. Sudjojono (1913-1985) dan mengangkat karya Pram ini ke kelas yang lebih tinggi lagi.

“Bukan Pasar Malam”, dibuka dengan kalimat “Dan di dunia ini, manusia bukan berduyun duyun lahir di dunia dan berduyun duyun kembali pulang, seperti dunia dalam pasar malam, seorang seorang mereka datang dan seorang seorang mereka pergi. Dan yang belum pergi dengan cemas cemas menunggu saat nyawa-nya terbang entah kemana”. Bagi saya ada menarik yang dalam dalam kalimat tersebut, ini adalah kalimat yang religius, dan menjelaskan ada tempat awal, dan ada tempat kembali sedangkan pasar malam adalah ibarat dunia dengan segala kesenangan-nya, serta setiap kita tinggal menunggu gilirannya.

Ceritanya sendiri sangatlah sederhana, tentang seorang anak sulung yang pergi jauh, lantas mendengar kabar adik-nya yang sakit, mengirim surat  “teguran kasar” pada Ayah-nya dan lantas mendapatkan kabar baru justru  Ayah-nya lah yang sakit lebih parah. Dengan meminjam dana dari sana dan sini Sang Anak (bersama istrinya) pulang dengan rasa menyesal, lalu menemani Ayah-nya yang sekarat sampai dengan maut menjemput.  Akan tetapi pergulatan pikiran yang dirasakan Sang Anak, saat menerima kabar, perjalanan dengan Kereta Api, dan masa lalu di kota kecil (Blora) yang tiba tiba menariknya dalam kenangan masa kecil, diutarakan Pram dengan memikat. Tetapi seorang penulis yang baik memang mampu menuliskan hal sederhana menjadi sesuatu yang memikat, persis seperti karya Samuel Beckett yaitu “Menunggu Godot”, tentang dua gelandangan dan tiga lelaki lain-nya yang menunggu Godot, dan tak pernah muncul hingga cerita berakhir.

Lagi lagi Pram menunjukkan keunggulan “photographic memory” yang dia miliki dengan menjelaskan setiap daerah yang dilalui kereta. Lengkap dengan kenangan dia saat menjadi tentara dalam menghadapi penjajahan. Di akhir cerita, saya jadi mengerti kenapa buku ini sampai menjadi karya Pram terbaik versi  Romo Mangun, dan sangat layak untuk dijadikan koleksi.

Saturday, February 18, 2012

Kartun Riwayat Peradaban Modern nya Larry Gonick

Kali ini saya akan coba review seri peradaban Larry Gonick, yang berhubungan dengan dua buku terakhir  sekaligus penutup dari seluruh lima seri kartun kebudayaan. Dalam buku ini dibahas mulai dari petualangan Kolombus, awal konstitusi di Amerika, Bastille hingga penyerangan Amerika ke Irak baru2 ini. Buku ini juga membahas munculnya Machiavelli (dengan karya-nya Il Principe atau Sang Penguasa) , Martin Luther, Karl Marx, Descartes, Galileo, Isaac Newton dan Inigo de Loyola. Juga muncul-nya tokoh2 seperti Stalin, Hitler, Kennedy, Nixon dan bahkan Osama Bin Laden, dll.




Kualitas gambar Gonick sendiri masih stabil, tidak bagus tetapi juga tidak jelek, akan tetapi Gonick punya selera humor yang baik, jadi meski tekniknya tidak sebagus Uderzo atau Herge, yah kita bisa menerima-nya. Akurasi sejarah dibanding tiga seri kartun riwayat peradaban sebelumnya relatif tidak terlalu kontroversial. Dan beberapa gambarnya menyinggung Kapten Haddock serta anak muda yang berpakaian seperti penduduk di sekitar tibet, sepertinya menyiratkan kalau Gonick penggemar Herge juga.

Pada buku pertama digambarkan bagaimana ekspansi Eropa ke berbagai daerah di muka bumi, penjajahan, pembunuhan, penjarahan yang dilakukan bangsa Portugis dan Spanyol demi emas, perak dan benda berharga lainnya dan ironisnya dilakukan atas nama kristenisasi dan atas persetujuan Paus. Pada saat itu karena  Spanyol dan Portugis terus menerus bertikai mengenai daerah jajahan, maka Paus Alexander I, bagaikan Nabi Sualeman, mengajukan gagasan membagi dua dunia, sebelah barat milik Spanyol dan sebelah timur milik Portugis, tanpa memikirkan bahwa pada setiap belahan tersebut sebenarnya sudah ada penduduk asli yang tinggal selama berabad abad.

Pada awalnya semua penjajahan itu selalu seakan akan berkedok perdagangan, lalu setelah melihat potensi yang luar biasa dari daerah2 baru, para penjajah Spanyol dan Portugis mulai memikirkan cara2 yang lebih cepat mendatangkan keuntungan.  Dengan persenjataan yang lebih modern dan strategi perang yang dimiliki maka para penguasa di daerah jajahan pada awalnya berusaha untuk memberikan berbagai hadiah pada para penjajah sambil berharap sebagai balasan-nya para penjajah segera pergi.  Namun alih2 pergi, berbagai hadiah seperti emas, batu2 berharga, berbagai perhiasan dari bulu, dan budak, justru membuat para penjajah semakin rakus.

Sebagaimana yang terjadi antara Cortez sang penjajah Spanyol dan Moctezuma di Meksiko, yang akhirnya berujung dengan pembantaian besar2an kaum penduduk asli dan lantas kristenisasi.  Para penjajah juga menularkan penyakit2 yang pada masa itu belum dikenal di daerah jajahan seperti cacar yang mengakibatkan banyak sekali kematian massal bahkan sampai penduduk terpencil di pegunungan. Begitu juga yang terjadi antara penjajah Portugis, Vasco da Gama saat memperdaya Kozhikode di India. Cara penularan penyakit ini juga dilakukan Amerika dengan membagikan selimut bekas penderita cacar yang nyaris memusnahkan beberapa suku Indian di Amerika.

Saat mayoritas Eropa bergolak dengan pertentangan antara Protestan dan Katolik,  Belanda yang tidak terlalu perduli dengan Agama justru mulai menunjukkan perkembangan yang lebih maju. Di Belanda, ada faktor alam yang membuat mereka meletakkan Agama sebagai prioritas kedua. Faktor alam tersebut adalah rendahnya dataran Belanda, yang membuat karakter masyarakat-nya lebih mementingkan persatuan.  Uniknya Belanda juga dijelaskan oleh Gonick saat mereka mencoba mendekati  Jepang, tak segan2 menginjak gambar Sang Perawan Maria, yang digunakan Jepang sebagai filter untuk mencegah kristenisasi, sementara penjajah Eropa lain tidak tega melakukan-nya. Sayang dalam buku ini tidak dijelaskan secara rinci bagaimana negara Eropa seperti Belanda gantian memperdaya dan menghisap Hindia Belanda (nama Indonesia dahulu).

Lalu muncullah kekuatan Baru yaitu Britannia yang menggerus daerah jajahan Prancis di Amerika lalu menjajah India (dinasti Mughal).  Negara Eropa yang semakin sulit mengelola daerah jajahan, lalu mulai melegalisir perbudakan yang diculik dari negara2 Afrika untuk diperkerjakan di daerah jajahan. Namun seorang rasionalis Britannia David Hume, mencetuskan ide kalau perbudakan tidak-lah manusiawi, dan dengan ini Britannia lantas punya alasan untuk mencegat kapal siapapun di laut untuk memastikan perbudakan tidak lagi dijalankan. Namun sedikit demi sedikit Britannia mulai kesulitan mengelola daerah jajahan, pergerakan warga di daerah pendudukan Amerika menggunakan Prancis untuk memukul balik Britannia yang semakin lama semakin menghisap Amerika dengan aturan perpajakan yang semakin lama semakin tidak adil. Mungkin para pembaca masih ingat film Mel Gibson “Patriot” yang membahas pemberontakan Amerika terhadap penjajahan Inggris.

Di Prancis jatuhnya kerajaan akhirnya mengantarkan Napoleon menjadi pemimpin. Napoleon lalu mulai menyerang kiri dan kanan, dan menduduki Mesir. Napoleon juga memimpin eksplorasi “Rosetta Stone” yang akhirnya digunakan sebagai referensi alfabet untuk belajar sejarah peradaban Mesir. Meski sempat mengalami kekalahan melawan Admiral Britannia Nelson karena Napoleon tak begitu fasih dalam perang laut. Napoleon berhasil mencapai banyak kemajuan dalam pemerintahan-nya. Misal-nya kitab hukum, sistem metriks, matematika, seni dan keuangan.

Lalu Britannia mulai bangkit kembali dengan revolusi mesin industri, pendirian pabrik pabrik yang memungkinkan produksi dengan kualitas yang lebih baik dari cara manual dan dengan harga yang jauh lebih murah.  Britannia memulai kembali perdagangan ala tipu daya dengan Cina sebagai sasaran, melihat Cina yang terus menerus menutup diri, Inggris menggunakan candu untuk menaklukkan Cina. Para penduduk Cina yang mengira candu adalah obat, akhirnya kecanduan, dan Inggris menggunakan “kecanduan” tersebut untuk melakukan perdagangan berat sebelah.  Pada 1830 jutaan orang Cina membuang buang waktu mereka hanya untuk candu yang justru di Inggris sendiri malah dilarang karena dianggap berbahaya.

Lalu Jerman dan Jepang memulai kebangkitan, dimulai dengan kebangkitan teknologi lalu militer yang akhirnya melakukan blunder yaitu blunder Jerman dengan menyerang Rusia, dan blunder Jepang dengan menyerang Amerika, yang akhirnya menyeret mereka dalam perang yang lebih besar dengan musuh2 yang lebih tangguh meski tadinya sudah jadi penguasa di daerah masing2. Amerika lantas membantu Eropa menghajar Jerman dan dengan teknologi yang dicetuskan Einstein membumi hanguskan Hiroshima dan Nagasaki. Sehingga muncullah kekuatan baru dunia yaitu Rusia dan Amerika, rasanya mengerikan sekali kalau saat itu tidak terjadi “perang dingin” mengingat kedua negara memiliki persenjatan nuklir terbesar di dunia. Sayang dalam buku tidak dibahas bagaimana kekuatan Jepang akhirnya mengusir Belanda dari daerah jajahan-nya.

Dalam buku ini dijelaskan juga kaum Yahudi yang terusir dimana-mana, lantas diberi izin oleh Britannia menggusur kaum Palestina, dan menyebabkan masalah yang tak pernah selesai hingga kini. Dan akhirnya yang kita tunggu2, Indonesia muncul juga diwakili oleh Soekarno sebagai bangsa yang pertama tama mengumumkan kemerdekaan-nya dari penjajah Eropa meski hanya satu strip di halaman 215 buku kedua.

Akhir kata dalam kedua buku ini sebagaimana tiga buku seri peradaban sebelumnya, kita dapat menyimpulkan bawah hal2 buruk yang diakibatkan manusia ternyata luar biasa banyaknya dan penghancuran, pembunuhan, penjarahan terus menerus terjadi sepanjang Zaman dan semua itu disebabkan nafsu serakah. Seperti juga firman Allah dalam Al Quran Al Baqarah 2 ayat 11-12 "Dan bila dikatakan kepada mereka, janganlah kalian membuat kerusakan di muka bumi. Mereka menjawab, sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan. Ingatlah sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar". Juga seperti yang dikatakan Muhammad Ali Jinnah tokoh Pakistan  "This world is enough for every man’s need but it is not enough for a man’s greed".  Apa yang akan terjadi kelak ?, bisa jadi akan muncul perang baru antara Iran dan Amerika, dan apakah ini akan memicu perang dunia berikutnya, tak seorangpun tahu.

Friday, February 17, 2012

Kartun Komunikasi nya Larry Gonick

Tertarik dengan kartun peradaban, saya memutuskan untuk melengkapi koleksi dengan membeli kartun komunikasi buat Si Sulung, dan seperti biasa tentu bapak-nya dulu yang baca. Cover-nya sendiri sudah cukup provokatif dengan menampilkan Menara Babel, yang konon kabarnya menjadi inspirasi gedung Uni Eropa bahkan tidak tanggung2 lengkap dengan bagian yang tidak selesai.

 








Apa itu Menara Babel, ini bangunan yang dirancang sekumpulan arsitek Irak, diinspirasi keinginan  untuk berkomunikasi dengan Tuhan dan dengan menggunakan bahasa tunggal, yang pada masa itu diasumsikan berada di tempat tinggi. Namun alih alih ketinggian berandai andai soal komunikasi, justru ironisnya bangunan ini tidak pernah selesai karena masalah komunikasi di antara pelaksana. Seperti yang diceritakan  dalam Alkitab, justru bangunan ini dikutuk oleh Sang Pencipta sehingga menjadi kelahiran banyak-nya bahasa di dunia hingga kini.


Anehnya, baru2 ini poster resmi gedung Uni Eropa malah menjadikan bangunan ini sebagai inspirasi dengan semboyan “Many Tongues One Voice” dilengkapi ilustrasi 11 bintang yang justru lebih mirip silhuet “Baphomet”.  Ada apa di balik ini, kita hanya bisa menduga duga.

Kembali ke Larry Gonick, pada perkembangan-nya ada banyak sekali bahasa, bahkan termasuk bahasa2 yang tidak jelas bagaimana ia diciptakan atau yang memang jelas asal usulnya dan dibuat pada era manusia modern. Mulai dari bahasa tubuh, isyarat, pantomim, ASCII, bahasa pemrograman, sampai ratusan bahasa lainnya. Bahkan menambahkan apa yang ditulis Larry Gonick, ada beberapa bahasa yang pembuatan-nya di trigger oleh film, seperti  bahasa Klingon dalam film StarTrek dan bahasa peri dalam trilogi Lord of The Ring karya Peter Jackson.











Singkat kata berbeda dengan buku Larry Gonick lain-nya, buku ini pun sepertinya bermasalah dari sisi komunikasi. Karena IMHO ternyata gagal menyederhanakan ilmu komunikasi meski sudah menggunakan media kartun. Tetapi meski demikian ada satu halaman yang tidak jelas sumbernya dan buat saya sangat menarik, yaitu kalimat

Aku mendengar, dan aku lupa
Aku melihat dan aku ingat
Aku melakukan dan aku mengerti

Kalimat ini menjadi inspirasi bagi kita bahwa untuk mengerti sesuatu , satu2nya jalan adalah dengan melakukan-nya.






Thursday, February 16, 2012

Notes From Qatar nya Muhammad Assad

Tadinya saya beli buku ini untuk anak sulung saya, tetapi tergoda dengan komentar Jusuf Kalla, Din Syamsuddin, Sandiaga Uno, dll, maka saya putuskan untuk membaca-nya terlebih dahulu. Kesimpulan saya, buku yang enak dibaca, dengan bahasa mengalir, mengedepankan rasio dan di kaitkan dengan ayat Qur’an serta hadits Nabi membuat buku ini bukan cuma enak melainkan juga bermanfaat.



Secara format buku mirip dengan buku Dahlan Iskan yang baru selesai saya baca, bisa jadi karena menggunakan blog, sehingga tema yang dibahas beragam, dan hampir disetiap artikel di lampirkan juga komentar atau postingan dari pembaca-nya. Beberapa artikel yang buat saya menarik adalah


3p’s Secret for Scholarship Hunter (****).
Dahsyat-nya sedekah (*****)
Business Class For Free (*****)
Ingin Badan Bertato ? (****)
Menembus Penjagaan VIP (*****)

Total notes, dibuku ini ada 28 notes, lantas kenapa hanya lima notes diatas yang menarik buat saya sedangkan notes2 lain rata2 saya berikan bintang tiga, jawaban-nya adalah, karena lebih banyak membahasa aplikasi agama dalam kehidupan, untuk yang ini topik yang dibahas sudah cukup sering saya baca dari berbagai sumber, meski demikian untuk kalangan pembaca lain, bisa jadi ini tetap merupakan topik yang menarik, karena cara Assad menulis yang sama sekali tidak terkesan menggurui dan menggunakan bahasa yang cair dan cocok untuk generasi-nya.
Untuk 5 notes diatas, karena muatan pengalaman pribadi Assad, maka otomatis ini menjadi sesuatu yang spesifik dan sangat menarik bagi saya. Akan tetapi tentu saja tidak ada gading yang retak, saya berharap ada revisi di buku ini untuk beberapa hal, agar tidak cuma bagus secara tulisan tetapi juga kuat secara fakta. 


Notes “Idul Adha : Esensi Kepatuhan Seorang Hamba” disebutkan bahwa Ibadah Haji dimana ratusan juta orang berkumpul di tempat yang sama. Sepanjang pengetahuan saya dalam musim haji, yang berkumpul tidak lebih dari sepuluh juta. Hal ini diakibatkan adanya pembatasan dari Saudi Arabia, karena kapasitas Saudi dalam mengakomodasi jamaah. Saudi Arabia juga menetapkan kuota yang misalnya pada 2011, satu jamaah untuk setiap seribu penduduk. Itu sebabnya jamaah Indonesia pada musim haji 2010 misalnya hanya bisa mengirim 230.000 jamaah.

Notes “Membentuk Generasi Tangguh”, menyebutkan populasi Muslim 1,5 milyar sedangkan Yahudi 14 juta, dan Assad menyebutkan populasi Muslim 110% lebih banyak dari Yahudi, padalah seharusnya 10.714% atau 1:107.

Notes “Maaf, Tolong dan Terima Kasih”, mengutip penelitian Masaru Emoto, saya percaya bahwa air memang salah satu substansi luar biasa yang ada di dunia, saya juga yakin air mampu menyimpan data, dan akan bereaksi sebagaimana doa yang dipanjatkan orang yang berinteraksi dengan-nya. Tubuh kita didominasi air, otak salah satu organ yang kandungan airnya sangat tinggi, dan tanpa air kita tidak akan hidup. Namun penelitian Masaru Emoto sampai saat ini masih kontroversial, karena tidak menggunakan kaidah2 penelitian yang standar, misalnya dalam menetapkan teori berdasarkan jumlah sampel, dll. Jadi IMHO penelitian Masaru Emoto bagi saya masih memerlukan waktu untuk dapat diyakini sebagai penelitian yang sah.

Hal2 khusus yang menarik, adalah kisah professor yang bertanya pada muridnya nilai sebuah uang, setelah di buat lecek atau bahkan diinjak, tentu saja nilai uang tersebut tidak berubah, karena “value” uang tersebut melekat pada dirinya. Hal lain mengenai akibat tato pada Fredrik Ljungberg, yang mengalami keracunan tinta dan mengakibatkan performansinya di Arsenal menurun drastis. Lalu kisah kocak Assad yang pantang menyerah untuk menembus tiga lapis penjaga saat acara wisuda kakak kelasnya dengan menggandeng ulama besar Mesir Sheikh Al Qharadawi. Pembagian tiga klasifikasi tipe karakter manusia ala Paul Stoltz saat  mendaki gunung, Quitters yang keluar dari pertarungan, Campers, yang mengira sudah mencapai puncak dan puas dengan apa yang sudah mereka peroleh, serta Climbers, yang terus mendaki sampai mencapai puncak. Serta kisah sukses Lee Myung Bak, yang menjadi CEO Hyundai bahkan Presiden Korea Selatan, meski hanya anak petani serta tukang sayur dan memulai karir dari buruh pabrik, dan saat kuliah harus dengan merangkap sebagai tukang sapu jalanan.

Akhir kata, buku sangat saya rekomendasikan dengan catatan ada baiknya Assad memperbaiki kualitas data yang ada sehingga tidak cuma inspiratif tetapi juga akurat, terimakasih untuk Assad yang dengan kisahnya dapat menjadi inspirasi bagi generasinya, semoga diberikan Allah jalan terbaik untuk dapat lebih berguna bagi sesama-nya kelak.

A Dramatic Turn of Events nya Dream Theater

Tadinya tak ada yang tahu persis apa dampak-nya jika Portnoy keluar dari Dream Theater, maklum-lah ybs pendiri, sekaligus unik dengan gaya “autis” drum-nya yang khas. Pengagum Neil Peart ini dianggap meletakkan dasar2 penting bagi teknik drum untuk grup dengan aliran progressive metal. Ketika akhirnya album ADTOE dirilis sebagai album ke 11, tanpa Portnoy untuk pertama kalinya, kekuatiran kita ternyata sama sekali tak perlu. Dengan Mangini,  Dream Theater, justru kembali ke khittah-nya yang lebih kental nuansa progressive-nya terutama setelah beberapa album terakhir yang semakin lama semakin berkonotasi metal seperti “Train of Thought”, Systematic of Chaos” ataupun “Octavarium”, dan secara pribadi album ini dapat memuaskan dahaga saya akan album yang sekelas dan sewarna dengan “Scene From a Memory”. 



Mangini sendiri, ternyata adalah pengganti yang benar2 tepat, menyingkirkan drummer2 top seperti Virgil Donati, Derek Roddy, dll dalam proses audisi yang mewajibkan tiga track dan membutuhkan rata2 tiga jam per audisi, Mangini terpilih karena memiliki nilai lebih, dengan menunjukkan kecintaan-nya pada musik Dream Theater. Permainan-nya yang pas, dan tidak berlebihan (seperti yang biasa ditunjukkan Portnoy) serta mampu memberikan bingkai yang pas dan akurat bagi skill jenius Petrucci dan Rudess.   Sekaligus mampu menjawab ketika skill teknis di butuhkan, seperti pada beberapa track kita disodori pukulan dengan gaya polyrhytm, ataupun double bass yang rapat dan bersih menunjukkan level Mangini sama sekali tidak kalah dengan Portnoy.

Berikut penilaian saya pada masing2 track.

01. On the Backs of Angel (****)
02. Build Me Up, Break Me Down (**)
03. Lost Not Forgotten (***)
04. This Is The Life (*****)
05. Bridges In The Sky (****)
06. Outcry (*****)
07. Far From Heaven (*****)
08. Breaking All Illussion (*****)
09. Beneath the Surface  (*****)

Track “On The Backs of Angel” bagi saya setingkat dengan track “Bridges in The Sky”, meski cukup bagus, namun porsi musik di dalam-nya terkesan tidak menyatu dengan keseluruhan bagian utama track tersebut. Meski “On The Backs of Angel” meraih nominasi di Grammy Award dalam kategori “Best Hard/Rock Performance Category” bagi saya track ini masih kalah dengan “Outcry” dan “Breaking All Illussions”, yang komposisi-nya lebih menyatu.  “Breaking All Illussion”  bahkan dihiasi dengan solo gitar yang panjang dan menawan dari Petrucci, sedangkan kelebihan “Outcry” adalah ending yang megah mengingatkan saya akan lagu2 Genesis, meski di bagian akhirnya lebih mirip dengan salah satu track “The Wall” nya Pink Floyd ketika sekumpulan penonton meneriakkan kata2 “Breaking The Wall”  berkali-kali.

Bersama track2 indah lainnya seperti “This Is The Life”, “Far from Heaven”  dan “Beneath The Surface” , dua track panjang “Breaking All The Illussions” serta “Outcry” inilah yang bagi saya layak melambungkan album sepanjang 77 menit  ini ke posisi yang sama dengan “Scene from a Memory”. Meski begitu tetap ada track yang pas2an dan tidak dapat menyamai keindahan track lainnya, dan bagi saya itu adalah track “Build Me Up, Break Me Down”. Track ini  mengingatkan saya akan salah satu track di album solo pertama James La Brie “Element of Persuasion”. Untuk track “Far From Heaven” mengingatkan saya akan track sejenis di era Kevin Moore, tepatnya track “Wait for Sleep” dalam album “Images and Word” .

Salut juga untuk perhatian group ini pada artwork, dan memilih Hugh Syme yang sangat menjiwai artwork band2 rock ataupun metal sebagai desainer cover album ini. Bisa jadi karena Hugh syme juga pada dasarnya seorang rocker, dan pernah membantu beberapa group rock seperti misalnya Rush untuk seksi additional keyboard. Syme juga lah yang berada di  belakang artwork album Dream Theater yang lain seperti Systematic  Chaos, Greatest Hits dan Chaos in Motion.

Meski pada awalnya penilaian saya terhadap album ini standar saja, tetapi dengan sering-nya mendengar, penilaian tersebut terus meningkat, dan puncak keindahan-nya terasa setelah pengulangan 7x keatas.  Keputusan untuk mereview belakangan, sepertinya adalah putusan yang tepat, sehingga dapat lebih menggambarkan album ini secara komprehensif, dan saya sampai pada kesimpulan akhir, yaitu album ini mengobati kerinduan akan keindahan musik progressive sehingga sangat direkomendasikan untuk dieskplorasi, meski bagi penggemar yang lebih ke sisi metal Dream Theater, album ini menjadi terlalu kompleks untuk dicerna.