Setiap minggu saya melewati jalan tol kurang lebih 320 km, jadi dalam satu bulan hampir sekitar 1300 km, dan ini sudah saya lakukan 8 tahun terakhir tepatnya sejak Cipularang diresmikan 12 Juli 2005. Sebelum-nya saya hampir selalu selalu menggunakan KA, dan memutuskan untuk menggunakan mobil, dengan diresmikan-nya jalan tol ini.
Sempat mengalami macet akibat longsor beberapa kali, melihat bis terbakar, menjadi saksi tabrakan karambol 23 mobil, menabrak Rush dan ditabrak Kijang, dan merasakan bahaya-nya KM 97, karena habis turunan panjang, mendadak menikung dan di saat saat awal ada fenomena "bumpy" sekitar 200 meter setelah tikungan. Iseng2 saya mencoba membuat summary mengenai apa yang sudah saya (dan beberapa teman) alami selama ini, semoga bermanfaat sbb;
- Mobil Kura2 vs Mobil Siput : Truk salip2an, yang satu 25 km jam, dan yang mau nyalip 27 km/jam, ditonton antrian mobil dibelakang-nya.
- Mobil Ngotot di Kanan : Bis yang gak mau ngalah, panteng terus di jalur kanan, sambil menyemprotkan asap hitam serta cairan AC dan plus mungkin urin dari toilet belakang. Kadang ini juga dilakukan non bis, namun karena postur-nya lebih kecil, pandangan kita tidak terlalu terganggu.
- Mobil Diskotek : Bis yang lebih mirip lampu diskotek, bisa lebih dari 10 lampu, dengan lampu jauh merk "Super Silau" dimainin sepanjang jalan dan kadang dengan klakson multi nada serta terus2 menjaga jarak tidak boleh melebihi satu meter dibelakang anda, sambil mendengus2kan rem angin-nya. Brmmmmm rmmmm pissssssss....
- Mobil Kejutan : Bis / Truk yang mendadak pindah jalur demi menjaga kecepatan. Banyak kendaraan besar memiliki problem di akselerasi, meski memiliki torsi berlimpah, nah untuk menjaga momentum kecepatan, kadang mereka pindah jalur secara mendadak.
- Mobil Motor : Jangan kira tidak ada motor di jalan tol, ini dia pengganti motor, mobil kembar dari dua produsen Jepang ternama, salah satu legenda jalan tol, yang dikendarai bak sepeda motor, kencang, tanpa lampu sein, tak bisa melihat celah meski cuma sedikit, dan tak mungkin disalip, karena populasi-nya nyaris mencapai setengah pengguna tol.
- Mobil Bahu : Mobil yang suka ambil jalan pintas, hantam terus di bahu jalan, sambil konsentrasi penuh supaya kedua roda kiri gak mencelat ke jalur tanah atau rumput, serta spion kanan tidak menghantam bahu kiri truk yang penuh kaitan dan tonjolan.
- Mobil Nyampah : Mobil yang sambil jalan2 piknik sekeluarga, serta sepanjang jalan melemparkan sisa2 makanan, mulai dari kulit kacang, botol air mineral,ludah, dan bahkan kadang puntung rokok berasap. Tapi tidak ada yang lebih mengerikan kecuali kantong kresek muntah (maaf).
- Mobil Genit : Truk2 dengan tulisan heboh, dan gambar para "istri tarzan" dengan ekspresi haus. Anehnya kadang tulisan-nya "Maafkan Papah Sayang".
- Mobil Pejabat : Rombongan pejabat, dengan gaya ala MOGE, sangat takut berpisah dengan rombongan sekaligus tidak mau ngalah pada non rombongan. Biasanya diikuti dengan satu dua mobil yang join dalam perjalanan alias tiba2 merasa jadi anggota rombongan. Nah untuk yang ini saya mengalami sendiri rasanya di todong senjata api karena menyalip gubernur.
- Mobil Sangar : Rombongan militer, nah ini yang paling sulit disalip, mau diklakson, melihat puluhan muka tentara sangar2 sambil membawa senjata api, sudah bikin kita mikir2 10x, tidak disalip, rasanya kita gak sampai2, mau dipotong rombongan-nya sengaja mengatur jarak, dan menunjukkan gaya menyetir keberatan kalau dipotong.
- Mobil Kaget : Mobil yang memicu ngerem mendadak secara massal karena perbaikan jalan tanpa pemberitahuan beberapa jarak sebelum-nya.
- Mobil Toilet : Mobil yang mendadak jadi penutup aurat saat kebelet di jalan tol. Kadang yang terlihat semburan-nya saja, sementara pipa-nya tersembunyi di balik pintu yang sengaja dibuka.
- Mobil Ngotot Balapan : Mobil yang menganggap 100 meter sebelum pintu tol tetap merupakan arena siapa cepat dia dapat, meski antrian menumpuk dan tak peduli semprotan klakson penuh amarah bahkan kadang tetap "pede" meski tidak punya "imam" didepan-nya, sementara di belakang-nya justru sudah ada "makmum"-nya.
- Mobil Bingung : Mobil yang merasa sangat beruntung saat menemukan pintu tol nyaris tanpa antrian, dan setelah tahu ini pintu GTO (gerbang tol otomatis), mendadak merasa menjadi orang paling sial di dunia khususnya saat melihat dibelakang-nya mendadak sudah ada antrian baru.
- Mobil Ngesot : Mobil yang mendadak ngesot, karena lagi2 mendadak ada lubang jalan yang kemarin belum ada.Biasanya sih muncul karena hujan lebat malam sebelum-nya.
- Mobil On Ice : Mobil ini biasanya yang tidak mengertinya bahaya-nya melintasi genangan air dengan kecepatan tinggi, sehingga sempat ber "ice skating" ria, saat menghajar genangan. Saya pernah mengalami ini di sekitar Purwakarta, dan stir mendadak jadi sangat liar.
- Mobil Kinclong Sebentar Saja : Mobil yang mendadak diguyur air kotor penuh pasir dan sedikit lumpur, saat manteng di jalur kanan, sementara jalur sebelah, ada kombinasi mobil dengan kecepatan tinggi plus genangan air kotor serta posisi yang pas.
- Mobil Cium2an : Terjadi kalau ada kombinasi jalan lurus, kecepatan tinggi, jarak antara mobil relatif dekat, apalagi kalau jalan baru disapu gerimis. Di Padalarang saya pernah lihat sendiri sekitar 23 mobil tabrakan karambol seperti ini, beruntunglah yang paling belakang dan paling depan, sementara yang ditengah harus mencium pantat mobil lain dan menerima pantat-nya dicium mobil lain-nya lagi. Saya sendiri pernah ditabrak, dan si penabrak eh juga ditabrak, ternyata yang terakhir ini mengaku ngantuk.
- Mobil Tidak Stabil : Ini biasa-nya bagi yang nyetir sambil texting, pengen hemat gak mau nelepon, maksain pakai QWERTY keyboard, eh malah kualat dan kena tabrakan kilat. Kadang yang begini kalau diingatkan malah marah, dan sepertinya mau bilang" Apaan sih wong motor aja sekarang texting sambil jalan juga gak napa2 kok".
- Mobil Fotografer :Nah yang ini biasanya pas kecepatan mencapai puncak, mendadak berusaha ngambil momen terbaik dari jarum speedometer untuk di upload di social media, maklum kalau disuruh upload status, kosa kata-nya terbatas. Ada juga yang suka memotret mobil lain.
- Mobil Kutu Loncat : Mobil yang menyalip kendaraan didepan-nya satu per satu, dengan mode pindah jalur sesaat. Gerakan-nya seperti copet di pasar baru, gesit dan nyaris tak terdeteksi.
- Mobil Penggoda : Mobil ini tidak mau nyalip, tetapi tidak ingin orang menghalangi jalan-nya, jadi klakson dan lampu jauh serta lampu sein adalah senjata utama-nya. Seakan akan dia berkata "Minggir dari jalur ini, ini jalur-ku !".
- Mobil Busuk : Ini biasanya yang bawa unggas, bau-nya luar biasa dan biasanya ada bulu2 yang beterbangan dari mobil ini. Mobil sampah sebenarnya lebih busuk bahkan kadang meneteskan cairan sepanjang jalan, cuma jarang2 lewat jalan tol.
- Mobil Berhelm: Nah ini biasanya mobil besar tanpa bodi, tanpa dashboard, tanpa spion, cuma chasis, plus satu kursi, setir dan mesin, serta driver berhelm, sepertinya ini rute dari pabrik ke perusahaan karoseri.
- Mobil Gelap : Ini biasanya tak terlihat jelas, mendadak muncul didepan kita bagaikan hantu, lampu belakang-nya mati, atau super kotor sehingga tidak ada beda-nya nyala atau mati. Umum-nya mobil seperti ini truk yang berjalan super lambat dan berwarna hitam.
- Mobil Gurita : Biasanya mobil2 berukuran besar dan umum-nya terjadi di tanjakan khususnya saat driver-nya menginjak gas, dan brummmm asap tebal ala tinta gutita menyembur, bahkan kadang saking tebal-nya mobilnya sempat tidak terlihat.
- Mobil Hujan Buatan : Mobil yang tiba2 mendatangkan hujan (tanpa rizki) bagi mobil dibelakang-nya, karena malas dan lupa terus mengeset setelan washer di kaca depan.
- Mobil Flare : Mobil yang tiba2 melepas ban serep-nya di jalan tol persis seperti pesawat tempur melepas "flare" untuk mengecoh rudal. Teman kantor dan temen istri pernah mengalami ini, sampai si ban menghantam bemper dan radiator saking keras-nya. Kalau saya sendiri pernah dihantam pecahan vulkanisir truk depan sampai sein kanan copot.
* Teman-nya dosen saya dulu, suka ngebut di perbukitan kapur Padalarang, di jalur ini karena banyak truk bermuatan berat plus kombinasi jalan turun naik dan penuh tikungan, sangat sulit menyalip. Beliau yang memang suka memompa adrenalin dan lalu merilis teori sendiri, bahwa paling mudah melintas disini saat malam hari, karena kita bisa menggunakan lampu mobil arah berlawanan sebagai indikator ada tidaknya kendaraan di balik tikungan. Beberapa saat kemudian beliau wafat di jalan ini saat tengah malam karena menabrak truk mogok tanpa lampu dijalur berlawanan.
Tidak jelas apa karena masih puas-nya anak saya dengan "The Raid" atau memang iklan yang cukup gencar di TV, sehingga anak saya mengajak nonton "Java Heat" dengan iming2 ini bukan sekedar film indonesia, namun film internasional yang ber-"setting" di Indonesia.
Saya sendiri sempat tertarik, maklum rasanya masih jelas dalam ingatan film "Year of The Dragon" (1985) yang dibintangi Mickey Rourke, begitu juga dengan "Angel Heart" (1987) salah satu film kontroversial dimasa-nya. Jelas Mickey Rourke yang pernah jadi petinju professional ini bukan bintang sembarangan. Bagi generasi saat ini yang masih penasaran dengan siapa Mickey Rourke, tentunya bisa melihat akting dahsyat-nya di "Iron Man 2" (2010), sebagai Ivan Vanko dan adegan spektakuler-nya saat berjalan dengan percaya diri, menghadang mobil2 formula di Monaco untuk menantang Tony Stark.
Maka dengan penuh harapan saya pun join dengan anak2 menyaksikan film ini, namun ternyata harus berakhir dengan banyak kekecewaan. Hemm kenapa kecewa ? pertama; akting Kellan Lutz yang memerankan Jake justru tenggelam dibanding Ario Bayu yang memerankan detektif Hashim (meski Ario sebenanrnya terkesan terlalu melankolis untuk seorang senior di Densus88). Kedua; sosok selevel Mickey Rourke yang memerankan Malik, terlihat kurang tergali, karena skenario yang terlalu pas2an, sehingga jangankan selevel dengan akting sebagai Ivan Vanko di "Iron Man 2", setengah-nya saja rasa tidak sampai. Film ini juga menyia-nyiakan kualitas akting selevel Tio Pasukadewo ataupun Atiqah Hasiholan (meski catatan khusus buat Rio Dewanto yang memang cukup tereksplorasi dengan baik). Di lain pihak pemilihan Frans Tumbuan sebagai kepala polisi kurang pas, karena terlihat terlalu tua untuk seorang polisi aktif.

IMO film ini juga tidak cocok untuk remaja, terlalu banyak adegan merokok dan terkesan dipaksakan dimana-mana, bukan hanya di tempat terbuka seperti di rumah Hashim sebagai Densus88, bahkan di dalam ruang tertutup, seperti di mobil pengintai pun hal ini terjadi. Tak jelas apakah ini merupakan opini pribadi Conor Alyn sebagai sutradara mengenai habit kebanyakan orang Indonesia. Adegan "mesra" Kellan Lutz dengan Uli Auliani saat pulang dari "dugem" yang rasanya memaksakan budaya ala western ala Hollywood dalam film2 Indonesia.
Tidak hanya itu adegan tersamar mengenai kecenderungan Malik pada bocah lelaki seakan menghalalkan hal2 seperti ini sesuatu biasa dilakukan di Yogya (baca : Indonesia). Dan ajaibnya Malik digambarkan mencari mangsa sendirian dengan menggunakan delman. Sepertinya adegan ini cukup ajaib bagi saya. Namun untuk yang terakhir ini mengingatkan saya akan salah satu Doktor Amerika dengan inisial JW yang beberapa tahun lalu sempat digebukin samapi babak belur oleh beberapa pemuda di Yogya karena pelecehan seksual sesama jenis.
Adegan aneh lain-nya adalah penari2 di kamar Malik, menggunakan kostum tari Jawa dan lalu diam seperti patung, belum lagi adegan Malik memberi makanan sejenis kacang, seakan akan penari tsb dianggap burung. Adegan2 seperti ini ganjil dan berkonotasi sakit secara psikologis. Meski mungkin maksudnya memberi gambaran lebih jelas akan karakter Malik, namun penggambaran-mya terasa berlebihan.
Saya juga terganggu dengan muncul-nya tokoh teroris yang digambarkan berbaju koko serta kopiah muslim, namun anehnya justru muncul di pub dugem dengan tarian sensual tanpa memancing ekspresi kecurigaan dari para pengunjung pub. Serta tak lupa selalu mengucapkan "Allahu Akbar" sebelum menembaki musuh2nya.
Sinergi iklan produk dan film yang saat ini menjadi trend, juga terlihat dalam film ini. Misalnya produk minuman khas Amerika, namun sepertinya masih lebih halus dibanding film Habibie baru2 ini yang sangat terkesan dipaksakan.
Adegan puncaknya juga payah, khususnya mengingat kualitas Hashim dan Jake yang memerankan kolaborasi satuan khusus dari dua Negara. Rasanya aneh melihat mereka kewalahan menghadapi Malik saat di Candi Borobudur. Apalagi saat itu Malik sendirian dan terlihat sekali ke"tua"an-nya, ketidak idealan postur-nya dan juga kelambanan-nya sehingga menjadi lawan yang konyol dari kedua agen muda ini.
Untunglah fotografi film ini terhitung bagus, sisi eksotis Yogya yang meski terlihat kelam tapi tetap menarik sekaligus eksotis. Begitu juga adegan menyetir di antara sawah2 terlihat cantik, dan sepintas ada sudut2 ala Walter Spies pelukis Jerman yang sangat ahli dalam menonjolkan aspek tradisional. Sayangnya saya merasa fotografi film ini masih gagal saat tidak mampu menunjukkan keindahan Candi Borobudur.
Hari ini di kantor mendadak ada training motivasi dari seorang pembicara wanita bernama Ellies Sutrisna, meski relatif singkat namun ada hal yang menarik pada materi yang disampaikan Ellies. Uniknya pada sesi ini ternyata bisa dikatakan hanya ada satu slide utama yang dibahas.
Pada slide tersebut pada awalnya ada gambar dua sketsa manusia, yang satu diatas dengan wajah tersenyum , tangan terbuka keatas dan yang satu dibawah dengan wajah cemberut dengan tangan terkulai. Kedua sosok tersebut dipisahkan sebuah garis yang dinamai problem. Lantas Ellis bertanya, sosok manakah yang anda pilih ? maka nyaris seluruh audiens memilih sosok wajah tersenyum. Bagaimana caranya untuk sampai kesana ?, maka Ellies mengingatkan "Kita adalah apa yang kita pikirkan".
Lalu muncul sebuah kata disamping Si Wajah Cemberut yaitu "VICTIM", hemm kenapa dia menjadi "VICTIM" , ternyata karena melakukan BENDS sbb;
(B)lame, cenderung menyalahkan apapun disekitarnya.
(E)xcuses, selalu memiliki alasan dibanding mengakui bahwa sesuatu terjadi karena salahnya sendiri.
(N)egative, selalu memiliki prasangka padahal belum tentu terjadi.
(D)enial, selalu memilih menyangkal dibanding melakukan introspeksi.
(S)carcity, selalu merasa "kurang" dalam hal apapun.
Sikap2 diatas inilah yang menarik seseorang kebawah, dan disebut sebagai failure magnet. Kemudian muncul sebuah kata di samping Si Wajah Tersenyum, yaitu kata "VICTOR", kenapa menjadi "VICTOR", ternyata karena melakukan PROVE sbb;
(P)roactive, karakter ini selalu berusaha "make things happen", selalu memiliki plan A sekaligus plan B, dan lain lain.
(R)esponsible, selalu maju kedepan dan berani bertanggung jawab, baik gagal maupun sukses.
(O)wnership, selalu menempatkan diri sebagai "pemilik" darisuatu proses.
(V)isionary, selalu memiliki visi jauh kedepan dan terus berkembang.
(E)xcellence. melakukan segala sesuatu untuk meraih hasil yang terbaik.
Sebaliknya sikap2 seperti inilah yang memunculkan seseorang keatas dan sukses mengatasi problem. Faktor2 inilah yang disebut sebagai success magnet.
Akhir training, Ellies menekankan untuk terus belajar, sebagaimana peserta training Ellies yang bahkan masih terus semangat belajar meski sudah berusia 86 tahun. Dengan motto 3B
(Belajar, Berprestasi dan Berbagi) Ellies yakin setiap orang akan meraih kesuksesan. Hemm berbagi ? ya betul tanpa orang2 yang mau berbagi dengan kita, maka kita tidak akan pernah bisa seperti sekarang, orang tua yang memberikan kasih dan sayang, guru2 yang memberikan ilmu, sahabat2 yang selalu mendampingi dan menolong, team kita yang selalu mendukung, dan semua orang2 yang ada di sekeliling kita.
Slide terakhir menggambarkan Singa (meski Ellies menyebutnya Harimau) sedang mengejar Rusa, terus Ellies bertanya "mau jadi Rusa atau mau jadi Singa", tentu sebagian besar memilih Singa, namun Ellis menyampaikan meski Singa kalau tidak bisa berlari cepat, lalu tidak mendapat makan, maka tetap saja akan mati kelaparan. Sebalik-nya memilih menjadi Rusa tetap saja memerlukan kecepatan yang jauh lebih tinggi dari Singa agar tidak dimangsa. Jadi baik Rusa ataupun Singa tetap saja kita harus berlari lebih cepat dari sesuatu yang kita incar atau justru sesuatu yang mengincar kita. Karena itu sangat penting untuk terus meningkatkan kualitas diri.
Mengikuti suksesnya buku "99 Cahaya di Langit Eropa", Hanum Rais lagi2 merilis buku setipe. Meski sedang membaca Jules Verne, saya putuskan untuk secara paralel membaca buku Hanum yang menggoda ini. Saat membaca bab2 awal saya mengira buku ini merupakan petualangan tiga crew acara televisi menjelang Ramadhan dengan anggaran terbatas, ternyata saya salah.
Masing2 bab, dalam buku ini ternyata merupakan merupakan cerita yang berdiri sendiri, namun pada intinya tetap merupakan pertemuan budaya timur dan barat. Pada sebagian bab, Allah seakan akan selalu mengirim orang lain sebagai utusan-nya untuk membantu tokoh2 dalam buku ini. Khususnya "Pahlawanku Si Cadar Hitam" tulisan Tuti Amaliah.
Hemm Tuti ? Ya benar, ada tiga penulis wanita dalam buku ini, selain Hanum Rais (12 bab), dan Tuti Amaliah (6 bab) adalah Wardatul Ula (2 bab). Namun jangan kuatir, ketiga-nya tetap membuat karya yang kualitas-nya kurang lebih sama, meski cerita Tuti terasa lebih detail.
Sosok orang lain dalam kisah Uje, mengingatkan saya akan pesan almarhum Ustadz Uje, untuk berbaik baik dengan orang lain, karena dalam setiap aktivitas kita selalu ada orang lain yang membantu, bahkan saat kematian datang, orang lain yang memandikan, orang lain yang mengkafani, orang lain yang memakamkan, dan orang lain pula yang mendoakan. Ironis-nya kita sering mengabaikan orang lain dalam kehidupan sehari hari kita.
Salah satu bab paling menarik bagi saya adalah bab "Tapak Kemuliaan di Sisilia" yang bercerita tentang pengalaman Ivano. Ivano seorang muslim keturunan Sisilia yang berprasangka buruk pada Roger de Sicily, dan saat terungkap-nya ukiran Surat Al Fatihah di Katedral Palermo dengan stempel "Da Ruggero II di Sicilia". Ivano menangis sesenggukan dengan kepala menunduk di depan Katedral menyesali prasangka buruk-nya. Kisah ini juga mengingatkan saya akan wafat-nya Muhammad Al Fatih saat bercita-cita membebaskan Roma.
Bab2 lain-nya yang menarik adalah "Bunda Ikoy Si Perempuan Jam" . Bunda Ikoy adalah seorang wanita muslim yang menjadi pekerja perakitan jam di Ipsach, Swiss. Hidup di lingkungan yang begitu jauh dari tanah air, justru membuat-nya semakin bertekad menjadi "agent of moslem" yang baik. Dan itu dia tunjukkan saat harus berinteraksi dengan masyarakat sekitar.
Sedangkan bab menarik lain-nya "Karena Saya Tak Gaul" merupakan pengalaman Tuti Amaliah yang harus menyelesaikan S2, sekaligus mengurus kedua anak-nya yang masih kecil, namun mampu meraih prestasi meski sempat dianggap enteng oleh sebagian komunitas barat di kampus-nya.
Buku ini ditutup tahun 2010 saat Hanum melaksanakan ibadah Haji (dimana saya dan istri juga sedang berada di lokasi yang sama namun saying-nya tidak berjumpa) dan Hanum mengalami pengalaman religius aneh, yang menguatkan niat-nya untuk terus menulis. Hemm bagi penggemar karya Hanum "99 Cahaya di Langit Eropa", buku inilah the lost puzzle yang melengkapi keseluruhan cerita sebelumnya.
Sejak kecil saya sudah membaca komik Jules Verne khususnya yang ini namun baru skr ini berkesempatan membaca-nya, dan ternyata cukup mengagetkan tebal-nya, serta sangat detail cerita-nya. Saat saya kecil komik-nya saya temukan dalam kliping majalah/koran koleksi ayah, dan saya sangat terkesan dengan sosok Kapten Nemo, serta akhir tragis dari cerita Verne.
Dalam buku yang dipublikasikan di 1870 ini Verne menunjukkan pengetahuan-nya soal geografi, soal berbagai jenis kapal dan pengetahuan kelautan termasuk dampak tekanan di laut dalam, jurang dasar laut, jenis2 samudera, dll. Bukan cuma itu, salah satu bagian paling menarik adalah perkembangan psikologis Kapten Nemo, yang menunjukkan Verne bahkan juga memahami soal kejiwaaan dengan baik.
Kisah-nya sendiri bermula di tahun 1866 saat terjadi penampakan di berbagai samudera mahluk raksasa hitam, yang diduga menyerang beberapa kapal. Pada awalnya para ahli menduga bahwa mahluk itu merupakan sejenis Narwhal. Lalu diputuskan untuk mengirim Fregat Penyerang Abraham Lincoln, dan dari sinilah kisah petualangan tersebut dimulai.
Cara penulisan Verne sendiri mengingatkan saya akan Conan Doyle, terkesan sangat realistis, detail, dan sistematis. Hemm tak aneh buku ini salah satu yang terbaik dan layak menjadi legenda.