Saturday, March 24, 2018

How The World Works Buku #2 dari 4 : “The Prosperous Few and the Restless Many,”- Noam Chomsky

The term 'globalisation' is conventionally used to refer to the specific form of investor-rights integration designed by wealth and power, for their own interests. 

Noam Chomsky




Resensi kali ini adalah bagian kedua dari kompilasi How The World Works, yang merupakan  kolaborasi dari empat seri tulisan mengenai analisa dan investigasi Chomsky.

  • What Uncle Sam Really Wants,
  • The Prosperous Few and the Restless Many,
  • Secrets, Lies and Democracy, and
  • The Common Good.


Judul kali ini menggambarkan bagaimana makna kesejahteraan hanya bagi segelintir orang saja, sementara dibawah sana, ada kegelisahan yang luar biasa. Chomsky menuliskan pemikirannya dengan kecerdasan yang mengagumkan, meski berada di barisan para penonton dia menunjukkan apa sebenarnya jalan cerita yang dimainkan oleh para dalang.

Dalam buku kedua ini Chomsky juga membahas Israel, Palestina, pecahnya Yugoslavia dan juga Gandhi. Selain membahas kolonialisme gaya baru, juga dibahas mengenai kolonialisme gaya lama yang sesungguhnya menghancurkan banyak bangsa di dunia.  Sebagaimana contoh di Bengali, ketika pedagang merangkap tentara Inggris datang, Bengali adalah suatu kawasan yang maju, bahkan para pedagang Inggris menyebutnya bagaikan surga. Dulu Bengali merupakan daerah agrikultur kaya yang menghasilkan kapas terbaik dunia, mereka juga memiliki industri manufaktur yang maju, bahkan mampu produksi kapal bagi angkatan perang Inggris dalam perang Napoleon. Lalu Inggris melakukan perampasan tanah, mengubah lahan produktif pertanian menjadi ladang opium, dan terjadilah kelaparan dahsyat di Bengali, yang akhirnya menjadi Bangladesh salah satu simbol negara yang erat dengan keputusasaaan dan ketakberdayaan hingga kini.

Chomsky juga menjelaskan bagaimana penaklukan dilakukan dengan pemisahan (Devide Et Impera). Dan ajaibnya Inggris menggunakan Bangsa India yang satu untuk menyerang Bangsa India lainnya. Ketika puncak kekuasaan Inggris di India tercapai, mereka hanya memerlukan 150.000 orang Inggris saja. Cukup dengan mengeksploitasi konflik diantara penduduk lokal dan menjadikan yang satu sebagai kolaborator mereka untuk menghancurkan yang lain.  Bagi Chomsky orang-orang seperti Reagan, Bush, pasti akan bekerja bagi Rusia dan dengan senang hati mengirim warga Amerika ke kamp konsentrasi jika Rusia menjajah Amerika.

Lebih jauh lagi dimata Chomsky, masyarakat barat di era kolonialisme memiliki budaya kekerasan yang nyaris tak tertandingi. Mereka menghancurkan semua negara jajahan yang lebih mirip invasi barbar. Sejarah masyarakat barat sendiri sesuai dengan tulisan Adam Smith adalah sejarah dengan perang-perang pemusnahan.  

Bagaimana dengan kolonialisme baru ? bagi Chomsky, globalisasi lah kambing hitamnya, yang menurutnya tak lebih dari ekspor pekerjaan ke wilayah dengan tingkat penindasan tinggi dan upah rendah sekaligus mengurangi tenaga kerja produktif dalam negeri. Satu-satunya tujuan adalah meningkatkan keuntungan korporasi, hal ini tambah mudah kaena kemajuan teknologi komunikasi, dan transaksi modal yang kian bebas. Di lain sisi, pengangguran semakin meningkat di negara-negara maju.

Pasar bebas yang didiktekan barat menggelontorkan sumber daya pada kelompok kaya di dunia ketiga. Kelompok ini dengan mudah menguasai ekonomi nasional, jika anda menguasai ekonomi nasional, maka secara otomatis anda menguasai negara. Jika nasional sudah dikuasai, maka secara otomatis akan masuk dalam ekonomi internasional dan pada gilirannya pemerintahan internasional. Inilah yang dinamakan dengan zaman imperialisme baru.

Instituasi imperialis baru bagi Chomsky terdiri dari IMF, World Bank, dan juga struktur-struktur perdagangan seperti NAFTA, dan GATT. Pertemuan eksekutif seperti G7 tak lebih dari pertemuan ekonomi tingkat tinggi sekaligus pukulan telak bagi demokrasi, dimana parlemen dan rakyat tak lagi memiliki peran penting. Ironisnya rakyat tidak memiliki akses yang cukup mengenai apa yang sebenarnya terjadi (karena media juga sudah dikuasai kelompok kaya ini), yang mereka rasakan hanya segala sesuatu tak berjalan dengan baik.

Seperti yang terjadi di GM, ketika 24 pabrik mereka di Amerika Utara tutup, pada saat yang sama mereka membuka pabrik mulai dari Jerman Timur, Meksiko, Thailand dan banyak negara lain dengan upah senilai 40% dari pabrik-pabrik mereka sebelumnya. Tak tanggung-tanggung di Jerman Timur GM investasi senilai USD 700 juta.



Kebetulan beberapa saat lalu, saya membaca komunikasi Fadli Zon dan Steve Hanke, yang dengan jelas menyebutkan bahwa peran IMF sesuai arahan Clinton, untuk mendestabilisasi dan menggulingkan Soeharto. Dengan demikian apa yang dikemukakan Chomsky terbukti sudah. Silahkan cek link http://wow.tribunnews.com/2018/03/05/ekonom-amerika-steve-hanke-benarkan-pernyataan-fadli-zon-soal-peran-imf-di-indonesia?page=all&_ga=2.18489470.676931501.1521849306-2081938024.1499430647

No comments: