Sunday, September 08, 2013

Buddha - Deepak Chopra

Berharap bisa membaca buku dengan kualitas selevel tulisan Sindhunata pengarang "Anak Bajang Menggiring Angin", ternyata tidak kesampaian. Sepertinya pergolakan perasaan Siddharta dalam tulisan Chopra kurang menggigit.

Namun demikian tetap menarik, mengikuti perjalanan Siddharta, Gautama dan lalu menjadi Buddha. Bagaimanapun pencerahan yang dialami biksu2 setelah-nya mampu membawa keyakinan ini melintas lokasi yang luas secara geografi, Tibet, Nepal, China, Jepang, Korea, Sri Lanka, Thailand, Kamboja, Myanmar, Vietnam, Malaysia dan bahkan Indonesia.

Setelah membaca tiga buku Ajahn Brahm, saya jadi tertarik membaca kisah Buddha, meski tadinya sempat lebih tertarik mengoleksi Osamu Tezuka, namun akhirnya pilihan saya jatuh pada karya Deepak Chopra ini.



Buku ini juga menyisakan tanda tanya dalam benak saya, mengenai hubungan Hindu dengan Buddha, dan kenapa saat ini di India agama Hindu masih menjadi mayoritas, meski India justru adalah negara tempat Buddha dilahirkan. Sebaliknya Buddha pada suatu masa diterima di daerah2 lain-nya di muka bumi, sementara Hindu hanya bisa menancapkan pengaruh sampai di Indonesia saja, dan lalu menyisakan Bali. 

Meski samar terlihat juga pemberontakan Buddha pada tradisi kasta Hindu, dimana saat masih menjadi Siddharta, dia  tertarik pada wanita desa biasa yakni Sujata dan sahabat dekatnya yang merupakan anak kepala istal kuda yakni Channa. Saat dimana kasta memegang peranan penting, jangankan menyentuh fisiknya, bahkan bayangan-nya sajapun merupakan hal yang harus dihindari kasta yang lebih rendah.

Siddharta akhirnya tercerahkan saat melihat suatu desa yang diisolasi ayah-nya terisi dengan kumpulan manusia malang yang mengisi periode diantara masa kelahiran dan kematian dengan penuh kesengsaraan. Sesuai dengan ramalan, saat Siddharta melihat kesengsaraan, maka istana tak lagi menjadi tempat yang menarik bagi-nya.

Hal unik lain-nya meski tidak menyinggung tokoh dewa dan interaksinya dengan Buddha, juga tidak dibahas secara jelas mengenai dzat ketuhanan dalam novel ini. Anehnya sosok yang mewakili dunia gelap yakni Mara justru muncul sebagai setan yang selalu menggoda dan kadang merasuk dalam diri manusia seperti Devadatta, pemerkosa sekaligus pembunuh Sujata. 

Siapa Chopra ? Dia penulis sekitar 70 buku dimana 21 diantaranya meraih New York Times Bestsellers. Chopra juga merupakan pendiri Chopra Center bersama ahli syaraf David Simon yang menggunakan pendekatan ayurveda dimana metode ini meng-implementasikan  pendekatan fisik dan psikis untuk mengobati selain juga bergerak di bidang pendidikan serta penelitian.

Namun Chopra juga dikenal sebagai sosok kontroversial khususnya kritik2nya dalam dunia medis dan sains. Metodenya kadang dianggap sebagai hal yang menjauhkan penderita dari pengobatan medis modern untuk penyakit2 tertentu yang normalnya bisa diselesaikan dengan cara biasa.

No comments: