Thursday, October 01, 2015

Kenangan Soal Mobil Part #2 dari 9 : Suzuki



Suzuki  Futura 1993

Sebenarnya daya dan istri lebih tertarik dengan Suzuki Futura GRV, apa daya harga 18.5 juta yang ditawarkan tak dapat kami penuhi, sehingga dengan dana 16 juta yang ada, Suzuki Futura karoseri Alexander lah yang kami boyong. Saat Si Sulung lahir, inilah kendaraan utama keluarga.

Mobil ini saya beli di Alton Jaya Motor, di bilangan jalan Macan, sesaat setelah Si Sulung lahir. pada masa itu mobil seperti ini tidak dibuat secara utuh oleh ATPM melainkan perusahaan karoseri. Mobil ini karoserinya dibuat oleh Alexander. Bagasinya agak unik, tidak bisa langsung ditutup melainkan harus menekan lengan tuas ke arah dalam. Suatu hari, saat berlibur ke TMII, salah satu anggota keluarga memaksa menutup pintu namun tak tahu bagaimana seharusnya, dan si tuas akhirnya bengkok parah.

Pengalaman menarik dengan mobil ini adalah saat saya keluar mendadak dari area RS Al Ihsan, dan menyebabkan seorang pengendara motor yang sedang asik ngebut, kaget dan membanting stang ke kanan lalu jumpalitan di got di sisi kanan jalan. Uniknya istri saya lah  yang merawat si pengendara motor sembari dia terus menerus mengumpat tentang pengemudi Suzuki Futura Alexander yang membuatnya celaka.

Pengalaman lainnya adalah saat tugas ke Jakarta, mobil saya tinggal seharian di pelataran parkir Stasiun Kereta Api Bandung, eh ketika kembali langsung mengalami susah starter, ternyata "bonggolan" CDI nya sudah lenyap. Sabtu pagi akhirnya dapat part bekasnya di bilangan Banceuy, meski perasaan saya mengatakan ini masih CDI yang sama. Serta sempat ada perselisihan dengan calo part bekas di Banceuy. 

Lalu pengalaman lain saat mobil mendadak terbatuk-batuk, karena rotax alias pompa bensin-nya tewas (sementara mobil merk lain masih mengandalkan membran) , untung saya bisa ketemu bengkel yang bisa menggulung ulang kumparan pompa elektrik bensinnya, maklum kalau beli satu bonggol lumayan mahal. Di tahun itu penggunaaan rotax dan CDi untuk mobil masih langka, salut untuk Suzuki bisa memulai lebih dahulu. 

Suzuki Futura Grand Real Van  1997

Akhirnya impian memiliki Suzuki GRV tercapai, meski harus menunggu beberapa tahun. Si pemilik aslinya seorang dosen yang tinggal di bilangan Margacinta dan kebetulan mau mengganti mobilnya dengan Toyota Kijang. Kondisi mobil ini ketika kami terima sangat baik, dan benar-benar terawat apik.




Dengan mobil inilah kami akhirnya menempuh salah satu perjalanan jauh yakni ke Batu, Jawa Timur alias rumah kakak. Belakangan kami baru menyadari, Kakak tinggal di sebuah komplek yang ternyata bertetangga dengan Noordin M. Top.




Problem yang sering muncul pada mobil ini adalah panas mesin masuk ke kabin, dan AC entah kenapa sering terjadi pembekuan, sehingga kadang mendadak tidak dingin. Selebihnya cukup oke, kecuali CDI yang memang harus diberi sangkar, karena termasuk part yang sering hilang kalau parkir sembarangan. 

Suzuki Katana GX 1998

Ini mungkin salah satu pembelian mobil bekas terburuk, kondisi mobil agak berat, penuh dengan baret disana sini, namun pada saat itu kami sangat membutuhkan mobil ke tiga khusus untuk mengantar anak-anak. Kadang Si Sulung pulang dari sekolah dengan kepala benjol. Maklum sepanjang jalan kepalanya terbentur-bentur ke jendela akibat tertidur serta dampak suspensi Katana yang terkenal keras.




Mobil ini juga memerlukan servis yang agak khusus sampai mesin-nya benar-benar nyaman, namun sampai dengan kami jual kembali rasanya mobil ini memang tidak pernah benar-benar nyaman.  




Teringat juga senior saya di ITB yang istrinya berulang kali mengalami keguguran saat menggunakan mobil setipe. Akhirnya melahirkan setelah mendengarkan nasihat sahabatnya untuk segera mengganti mobil.  

Suzuki Karimun 2004

Saat melintas di daerah Pajajaran terlihat Suzuki Karimun merah mulus dan baru berusia setahun lebih, pertama lihat dan langsung jatuh cinta, akhirnya Si Karimun kami boyong pulang. Karena sekolah anak di Sekolah Alam Dago jalanannya cukup curam, maka saya mengikuti saran Karimun Club dengan mengganti pulley AC, dan sejak itu mesin 1000 cc nya tidak pernah lagi masalah meski harus menempuh jalan menanjak sambil mendaki dengan AC menyala. Sementara awalnya AC harus dimatikan setiap kali menanjak melintasi jalan tersebut. 




Sayang kakak ipar saya, saat menggunakan mobil ini ternyata  tabrakan dengan angkot, lalu setelah di reparasi, supir baru kami bernama Yana lagi-lagi tabrakan dengan angkot, dua kali tabrakan dengan angkot akhirnya Si Karimun  terpaksa kami lepas. Karimun generasi setelahnya yang dibuat di India tidak berhasil menarik minat saya yang secara desain terlihat kalah kelas.



Sampai sekarang kalau melihat Karimun generasi ini, saya selalu berpikir seandainya saja Suzuki merilis ulang namun dengan hanya mengganti mesin, suspensi dan interior, mobil ini pasti masih sangat menarik, karena desainnya yang manis dan kompak. 

Suzuki SX4 Sedan / Baleno 1998

Ini salah satu mobil terbaik yang pernah saya miliki, kedap suara, air bag sepasang, dilengkapi dengan ABS (anti lock braking system), BA (brake assist), EBD (electronic brake distribution),  sound system jernih, posisi duduk yang nyaman, interior berkelas dan detail.




Meski penampilan sedan, namun kaki2nya mengandung gen cross over, demikian juga ground clearancenya yang mencapai 18.5 cm. Bahkan bukan cuma itu, perasaan juga menjadi lebih tenang karena timing belt-nya sudah menggunakan chain.




Namun karena sudah berusia menjelang empat tahun, akhirnya saya  melepas mobil ini, sayangnya meski harga beli lebih mahal dari SX4 hatchback, ternyata harga secondnya justru SX4 Sedan lebih murah. Sampai sekarang kalau melihat mobil ini dijalan, masih terlihat desainnya yang asik, meski tampak belakang kurang oke karena model lampu yang tidak pas.

Pengalaman menarik adalah saat "menyundul" tukang ojek yang berhenti mendadak di Jalan Ciparay, serta menyundul Toyota Rush di jalan tol, akibat texting sembarangan. Namun tidak ada kerusakan parah.    

Suzuki APV 2008

Sejak awal saya sudah suka Suzuki APV, namun entah kenapa istri tidak pernah setuju, namun pucuk dicinta ulampun tiba, karena anak2 akan mengganti kendaraan andalan mereka, maka saya mengusulkan APV sebagai pengganti.  Setelah bolak balik ke showroom dan cek di Pikiran Rakyat, akhirnya saya memutuskan untuk membeli Suzuki APV di salah sebuah showroom di bilangan Suniaraja.




Selain ukurannya yang besar APV SGX yang saya beli juga memiliki Captain Seat, sehingga memudahkan penumpang untuk bolak balik ke belakang. Sayangnya istri tetap tidak suka dan mengeluh mual setiap kali memakai ini, bisa jadi karena ground clearance yang tinggi sehingga lebih terasa mengayun.




Namun saat supir saya ditabrak motor dan mengalami patah tulang tibia dan fibula serta sendi telapak terputar, Si Sulung yang masih SMA terpaksa menggunakan APV ini untuk pertama kali, selama tiga bulan, dan akhirnya sempat mengalami copot bemper belakang setelah papasan paksa dengan angkot di bilangan jalan Ciparay. Lalu menyusul rusaknya bemper depan akibat insiden triplek terbang di jalan tol, karena Si Supir tak bisa menghindar ketika muatan truk di depan melayang di terpa angin. Setelah itu saya melepas APV meski saya masih merasa untuk mobil “cape” ini salah satu pilihan terbaik. 

Jika anda sosok yang peduli dengan mobil, memiliki mobil kedua seperti ini bisa memudahkan keluarga besar jika sesekali memerlukan pinjaman kendaraan tanpa anda merasa harus kuatir berlebihan. Sementara mobil pertama tetap menjadi privilege anda. Terbukti ketika beberapa kali keluarga besar datang, mobil ini memang jadi andalan atau seperti saat abang saya pindah rumah.  

Silahkan lanjut ke artikel berikutnya http://hipohan.blogspot.co.id/2015/10/kenangan-soal-mobil-part-3-dari-8-vw.html

No comments: