Thursday, October 01, 2015

Kenangan Soal Mobil Part #4 dari 9 : Toyota



Toyota Kijang SX 1996

Setelah menggunakan Suzuki Futura untuk beberapa lama, kini saatnya membeli Toyota Kijang 1800, idaman keluarga Indonesia. Pertama kali melihat di iklan sekitar tahun 1994,   rasanya ingin sekali memiliki Kijang, namun baru kesampaian beli bekasnya tahun 2000. Dalam iklan yang belakangan diprotes tersebut digambarkan sebuah Kijang diisi penuh dengan keluarga namun tanpa dinding mobil, alias mirip dengan truk-truk telanjang yang sering kita lihat di Tol Cikampek dengan supir berhelm. 

Namun ada kisah aneh saat mobil ini dibeli di salah satu showroom bersuasana gelap di bilangan jalan Buah Batu. Saat saya melihat  odometernya masih puluhan ribu, dan interior dalam keadaan mulus. Sesampainya di rumah ternyata odometer sudah 200.000 sekian dan dashboard pecah. Saya yang biasanya teliti seakan-akan kehilangan ketelitian saya selama ini, sampai saat ini saya merasa ada faktor lain yang membuat saya “tertipu”.

Toyota Kijang SGX 1994

Tak lama menggunakan Kijang SX, setiap kali lewat dijalan saya malah mulai tertarik dengan SGX, tampilan dengan dashboard yang lebih lengkap fiturnya, velg yang lebih gagah, fitur2 lain seperti power windows, footstep aluminium serta tentu saja over fender hitamnya yang memikat membuat saya memutuskan membeli Kijang SGX. Kali ini saya peroleh dari pemilik showroom keturunan Arab di bilangan Karawitan.




Meski justru lebih tua dua tahun akhirnya cita-cita memiliki Kijang 1800 SGX tercapai juga , meski lagi-lagi tertipu karena terlihat kalau mobil ini pernah tabrakan frontal yang cukup parah. Seingat saya saat membeli hujan memang turun dengan derasnya, moral of storynya jangan pernah memutuskan membeli sesuatu dengan terburu-buru, pikirkanlah dengan matang dan tetap cermat. Tak apa sedikit terlambat ambil keputusan namun tiada penyesalan di belakang hari. 



Toyota Avanza G 2004

Setelah bertahun tahun selalu membeli used car, mobil inilah untuk pertama kali menjadi mobil pertama yang saya beli dari baru, memang beda rasanya bisa memilih warna mobil yang biasanya sulit kita lakukan dengan used car.  Yang membuat saya kagum dengan mobil ini adalah kaki-kakinya yang kuat, mesin bandel, dan harga jual kembali tinggi, bayangkan saya beli dengan Rp. 110 juta di tahun 2004, dan dijual kembali dengan Rp. 105 juta di tahun 2009. Namun harga sebenarnya adalah Rp 100 juta, karena indent enam bulan, saya memutuskan untuk menambah dana Rp 10 Juta, agar bisa langsung dapat kurang dari seminggu. Sayang meski tadinya ingin warna hijau, akhirnya karena butuh cepat,  saya memutuskan setuju dengan warna biru.

Mobil ini kami beli di Tunas Toyota, bilangan Jalan Gatot Subroto, tadinya saya pikir ini merupakan group yang sama dengan Astra, ternyata Tunas merupakan Partner Reseller, itu sebabnya layanan servicenya tidak menggunakan jaringan Auto2000, dan salesnya membuka kemungkinan untuk membeli secara "nakal" alias tanpa indent dengan memanfaatkan pemodal yang mau membeli duluan. 





Salah satu pengalaman unik dengan mobil ini adalah, saya termasuk pemakai pertama Avanza, dan langsung diboyong ke Denpasar, menempuh perjalanan yang berkesan hingga kini. Mobil ini saat itu banyak memancing perhatian karena memang masih sangat sedikit ditemui di jalanan, apalagi warnyanya yang memang tidak umum alias biru, sementara saat itu warna mobil yang paling umum adalah hitam dan silver. 



Silahkan lanjut ke artikel berikutnya http://hipohan.blogspot.co.id/2015/10/kenangan-soal-mobil-part-5-dari-8.html

No comments: