Monday, February 01, 2016

Belajar dari Supir Uber #1 Mulailah Lebih Awal

Seminggu yang lalu saya ikut dengan teman untuk meeting dengan salah satu pelanggan perusahaan kami, di bilangan Kebon Sirih, Jakarta Pusat. Selesai meeting, saat menjelang sore teman segera mengontak Uber untuk kembali ke kantor. Karena Supir Uber masih dalam perjalanan, waktu 10 menit tersisa kami gunakan untuk menikmati jajanan Mie Ayam di pinggir jalan. Tak lama Supir Uber dengan Toyota Avanza Veloz yang terlihat masih "bening" pun tiba, dari rambut putih yang menyembul dari sisi topi petnya, sepertinya beliau sudah cukup menikmati asam garam kehidupan. 

Pak Supir lalu bertanya, kami dari Bank X ya  ? "ya !", demikian kami jawab, dan ternyata beliau mantan Wakil Kepala Divisi di Bank tersebut. Lantas saya pun mulai bertanya dan dijawab beliau dengan ramah. Beliau pensiun dari Bank X 3 tahun yang lalu, dan sekarang beliau sudah menginjak usia 58 tahun. Sejak tiga bulan yang lalu, beliau memutuskan untuk menjadi Supir Uber. 

Lalu beliau pun memulai cerita jalan kehidupannya, saat ini beliau memiliki tiga orang anak, Si Sulung (lelaki) kini bekerja di salah satu Perusahaan Tambang Batubara di Kalimantan, Si Tengah (lelaki) kini menjadi karyawan di Pertamina Plaju, sedangkan Si Bungsu (wanita) yang lulusan Psikologi Klinis kini menjadi salah satu staff di sebuah sekolah berkebutuhan khusus. Beliau sangat bersyukur ketiga putra dan putrinya sudah berhasil mandiri, dan fokus beliau kini adalah mencari nafkah secukupnya dan memiliki kesibukan di masa tua. 

Tiga tahun yang lalu, setelah pensiun beliau memutuskan untuk terjun di Bisnis, memilih mitra yang tidak tepat dan menggunakan seluruh tabungan yang dimiliki mengakibatkan beliau kehilangan belasan milyar, untung saja masih ada sedikit dana, dan rumah yang dimiliki beliau masih dapat diselamatkan. Sempat tertekan selama beberapa waktu dan memutuskan untuk bergabung dengan Gojek, putra dan putri beliau menyarankan untuk lebih baik menjadi Supir Uber. Bagaimanapun dengan usia seperti beliau, Gojek akan terasa lebih berat. 

Setelah memastikan anak dan istri setuju dan tidak "malu" akan profesi yang dipilih, beliau akhirnya membeli Toyota Avanza Veloz secara kredit, dan mendaftar ke Uber dan memulai profesi sebagai Supir Uber sejak 3 bulan lalu. Saat ini beliau dengan bekerja secara wajar bisa meraih Rp. 300.000 per hari, jika bekerja lebih keras sebenarnya dapat menghasilkan pendapatan lebih besar, namun beliau tidak mau memaksakan diri secara berlebihan. 

Pesan beliau yang menarik adalah, 


  • Janganlah kita fokus terus menerus membesarkan perusahaan orang lain, namun sisihkan energi untuk membangun bisnis sendiri sejak awal. 
  • Mulailah lebih awal, karena kita bisa melatih diri kita untuk menghadapi berbagai resiko bisnis sehingga memiliki intuisi yang lebih terlatih sekaligus terbiasa menghadapi berbagai situasi.   
  • Pilih mitra yang tepat dan jangan menempatkan semua modal yang dimiliki pada satu peluang, alias jangan menempatkan semua telur dalam satu keranjang. 
  • Ketika semua tidak berjalan sebagaimana seharusnya tetap hadapi dengan kepala tegak, bersikap tenang dan tetap bersabar. 
Hemm, apakah beliau sukses dalam berbisnis ? jelas tidak, namun nasihat dari seseorang yang mengalami kegagalan kadang sama bernilainya dengan yang sukses, bagi saya nasihat beliau tetap kisah yang menarik dan inspiratif. Semoga bermanfaat bagi pembaca yang masih terlena membesarkan perusahaan milik orang lain namun mengabaikan potensi diri sendiri. 

Lanjut ke http://hipohan.blogspot.co.id/2016/02/belajar-dari-supir-uber-2-memanfaatkan.html


No comments: