Wednesday, July 29, 2015

Inspirasi dari Singapore, Malaysia dan Thailand Part #6 of 9 : Hat Yai


Pagi harinya kami tidak breakfast di restoran hotel sebagaimana kebiasaan, namun diantar langsung ke kamar, sepertinya hotel sedang sangat penuh. Namun nasi gorengnya cukup sedap, dan memesan nasi goreng apapun di Thailand selalu sama, warnanya keputihan, cenderung asin (tanpa kecap manis), dengan potongan udang dan cumi.


Lalu kami langsung ke Nora Plaza, untuk membeli pernik-pernik khas Thailand. Disini ada berbagai barang kerajinan seperti sepatu kulit Gajah, Dompet Kulit Pari dan Kulit Buaya (tidak tanggung-tanggung dompet kulit buayanya bahkan dengan asesoris bagian ekornya sekalian). Di sisi kiri ada penjual sarang burung beku, kami sempat beli segelas untuk dinikmati di Bus setelah menunggu cair. 







Beres dari Nora, sekarang saatnya mencari makanan khas Thailand, lalu kami ke Thai Lee Seng Product. Tokonya dibagi menjadi dua sisi, sisi kiri semuanya hewani sedangkan sisi kanan nabati. Kami membeli Kerupuk Lengkeng, Kerupuk Duren, sementara di sisi kiri ternyata ada dendeng buaya, dan juga dendeng pari. Sebelum pulang kami menikmati Coconut Ice Cream yang sangat sedap. Namun Bu Ita bilang di Samila Beach, Coconut Ice Creamnya lebih lengkap. Belanja disini harus agak hati-hati selain tanpa struk, cara menghitungnya cepat sekali, sebaiknya tetap minta cek satu per satu, apalagi cukup banyak traveller merasa kembaliannya salah. 






Dari sini kami menuju Thai Honey, dan membeli produk madu satu-satunya di dunia, karena terbuat dari sari bunga Poppy yang sering sekali menjadi bahan pembuatan marijuana / heroin dan ditanam di daerah pegunungan oleh orang-orang Myanmar. Sama seperti wanita penjual berjilbab di depan hotel, gadis yang mendemokan produk madu juga layaknya artis. Gadis tersebut mengingatkan madu yang asli jika diteteskan tidak putus, dan jika disiram air dan lalu digoyang akan menyisakan motif sarang lebah dan langsung mendemokannya di depan kami. Setiap anggota rombongan diberi satu gelas air putih campur madu yang diminum dalam keadaan dingin. 




Lalu kami menuju Renau Restaurant, yang juga menyediakan berbagai produk makanan di sisi depan, sementara disisi belakang terdapat restoran dengan hamparan danau. Renau mungkin menjadi salah satu tempat makan terenak selain Kun Thai Restauran di Penang. Kami yang kelaparan langsung menyantap hidangan disini dengan bersemangat. 








Dari Renau, kami menuju Sleeping Budha, namun saya rasa lebih spektakuler yang pernah kami lihat saat travelling keliling Jawa tempo hari, baik ukuran maupun keindahan detailnya. Di sisi kanan patung nampak berbagai patung biksu tua yang sedang bersemedhi. Dasar patung hanya terdiri dari ukiran sederhana, jadi memang Sleeping Budha di Hat Yai yang kira kira sepanjang 20m dan tinggi sekitar 5m saya kira kalah kelas dengan Sleeping Budha di Desa Bejijong, Vihara Majapahit Trowulan. Sedangkan ukuran Sleeping Budha di Trowulan yang konon kabarnya nomor tiga terbesar di dunia, yakni pxlxt 22mx6mx4,5m.








Perjalanan kami lanjutkan ke Pantai Samila, yang terkenal dengan pemandangan pulau-pulau kecil, pantainya yang bersih, patung Putri Duyung serta Coconut Ice Cream yang asli. Ice Cream ini dilengkapi  dengan potongan buah, remukan kacang, coklat, potongan2 kelapa muda mini, kolang kaling,  dan roti, benar-benar Ice Cream yang lezat. Sambil meninggalkan Pantai Samila, kami diajak Pak Fauzi mengamati patung lengkungan ekor naga yang kepalanya akhirnya di temukan beberapa ratus meter di depan kami, tak kalah dengan Merlion, patung kepala naga ini pun menyemburkan air.  











Lalu kami menuju ketinggian alias Tang Kuan Hill, untuk berkunjung ke kuil Dewi Kwan Im yang dihiasi patung seribu Buddha. Perjalanan mendaki cukup terjal dan Bis sempat terasa sangat sulit untuk melaju. Sempat surprise melihat patung Guan Gong salah satu tokoh yang saya kagumi dalam Sam Kok berdiri dengan wajah garang menatap semua pengunjung yang masuk.  Naik beberapa puluh tangga keatas kita akan menemukan Patung Kwan Im, dan di latar belakangnya nampak bukit dengan patung kuning emas di kejauhan. Saat kembali ke Bis salah satu Oma kembali membuat ulah dengan datang belakangan karena memaksakan diri naik ke tangga teratas meski dilarang Tour Guide. 

Kembali dari Kuil Devi Kwan Im, karena hari terakhir di Hat Yai, maka Pak Fauzi mengajak kami sekali lagi ke Kaysorn, dimana dijual oleh-oleh namun dengan kualitas yang lebih tinggi. 





Catatan Perjalanan 

  • Di Thailand semua transaksi nyaris tanpa struk, sehingga menyulitkan kita untuk cek biaya yang sudah dikeluarkan. 
  • Silahkan cek link  http://hipohan.blogspot.com/2014/12/petualangan-mengelilingi-jawa-part-7-of.html, untuk informasi Sleeping Budha di Desa Bejijong, Trowulan. 
  • Thailand lebih seru untuk urusan oleh-oleh, sehingga kami kehabisan Baht, dan persediaan kami terbesar justru Ringgit. 
Lanjut ke http://hipohan.blogspot.co.id/2015/07/inspirasi-dari-singapore-malaysia-dan_38.html

No comments: