Tuesday, October 08, 2013

Inferno - Dan Brown

Cukup lama sudah Dan Brown tidak memunculkan karya baru, dan seperti biasa Brown merilis karya dengan benang merah sejarah dan dirangkai sana sini seolah olah fakta. Tema apa yang kali ini yang menjadi inspirasi-nya ? Jika dalam novel sebelum-nya Brown banyak mengulas sejarah Katolik, disini Brown menjadikan karya Dante Alighieri berjudul Inferno (alias neraka)  sebagai inspirasi. Dikombinasikan dengan psikopat yang terobsesi dengan depopulasi manusia, maka ini lah yang menjadi tema utama Dan Brown kali ini. Tak lupa Brown juga mengangkat set dalam bentuk realita sehingga tokoh Langdon tertipu oleh kelompok pimpinan Provos yang menjadikan ilusi sebagai bagian dari pekerjaan mereka, dan sekaligus mengingatkan saya akan Truman Show, film besutan Peter Weir yang dibintangi Jim Carrey.

Inferno adalah dunia bawah yang muncul dalam puisi 14.233 baris Dante di abad 14 an, The Divine Comedy, dimana Neraka digambarkan secara rumit dan dihuni oleh arwah, jiwa tanpa raga yang terperangkap diantara hidup dan mati. Namun Inferno tidak berdiri sendiri, misalnya Brown juga mengangkat karya Botticelli alias Map of Hell, lukisan tentang tingkatan dalam neraka dengan warna2 neraka alias merah, sepia dan coklat yang terinspirasi dari karya Dante, begitu juga dengan Michelangelo yang ternyata pengagum Dante.


Selalu menarik membaca karya Brown yang adegan demi adegan-nya bergerak cepat dan berkejaran dengan adegan2 lain serta disusun dalam bab2 pendek dengan akhir menegangkan namun tak selesai, sehingga memaksa kita maju ke bab berikutnya.

Dalam buku ini Langdon tiba2 masuk rumah sakit di Florence dengan kepala berdarah, sedangkan dia sendiri tidak tahu bagaimana dia bisa ada di Florence dan dengan cara apa kepala-nya berdarah. Setiap bab memuncul pertanyaan baru, meski menjawab pertanyaan di bab sebelum-nya.

Tak lupa Brown memasukkan tokoh wanita sebagai pasangan Brown sekaligus salah satu resep menulis sukses-nya. Kali ini tokoh itu diperankan Sienna Brooks, gadis jenius yang mengalami masalah sosial karena kecerdasan-nya. Problem sosial gadis ini mengingatkan saya akan tokoh Lisbeth Salander dalam trilogi Stieg Larsson. Namun ketika kita mengira bahwa pasangan-nya kali ini adalah duet yang pas, maka kita masuk dalam jebakan Brown

Jadi lagi2 kita menyantap racikan Brown sebagai koki yang meramu sejarah, benda2 seni, simbologi, kode serta  sains di bidang genetika menjadi bacaan dengan intensitas tinggi. Apakah tema Brown ini sesuatu yang baru ?, saya rasa tidak, karena dua pengarang Indonesia yakni Zaynur Ridwan (Novus Ordo Seclorum) dan Rizki Ridyasmara (Codex) sudah membahas konspirasi dibalik rancangan kematian massal dalam novel mereka masing2 beberapa tahun yang lalu.

Salah satu bab cukup mengagetkan saya karena Brown mengutip suara adzan, dengan "La ilaha illa Allah" alias "Tiada Tuhan Selain Allah" saat setting cerita bergeser ke Istanbul. Brown juga sepintas membahas sejarah Islam di kawasan ini, termasuk peristiwa di Selat Bosphorus dan juga Muhammad Al Fatih. Serta memasukkan Istana Biru dan Hagia Sophia sebagai bagian dalam cerita.

Akhir kata, komentar yang paling kena terhadap buku yang menarik ini adalah dari USA Today "Brown sangat ahli membuat pembaca percaya bahwa buku dan gang tua berdebu menyamarkan konspirasi global".




No comments: