Sunday, January 12, 2014

Stolen Innocence - Elissa Wall

Akhirnya tamat juga buku setebal nyaris 400 halaman ini. Karya Elissa Wall ini bercerita tentang kaum Mormon yang melakukan berbagai praktek unik dan dalam lingkungan sangat tertutup. Elissa yang tadinya merupakan salah satu dari pengikut kaum ini pelan-pelan akhirnya berusaha untuk lepas meski mengalami sangat banyak kesulitan. Komunitas yang sempat diikuti Elissa sejatinya merupakan salah satu pecahan dari Mormon dan menamakan dirinya sebagai FLDS (Fundamentalist Church of Later Day Saints) .

Buku ini diterbitkan tahun 2008, tahun dimana Elissa sudah keluar dari komunitas Mormon dan berhasil melawan ketakutan-nya untuk memperkarakan Warren Jeffs, salah satu Nabi palsu dalam komunitas tersebut.

Warren akhirnya terbukti bersalah, karena membiarkan terjadinya kekerasan seksual pada anak dibawah umur. Terbuka juga praktek Warren dalam menikahi mantan istri ayah-nya sendiri Rulon Jeffs, indoktrinasi, penghancuran entitas keluarga  komunitas yang dianggapnya sebagai haknya secara penuh, juga ramalan gagalnya mengenai kiamat di tahun 2000. Warren juga menggunakan harta kaum Mormon untuk berbagai kepentingan pribadi-nya. Cara berpakaian kaum ini dengan rambut dikepang dan gaun tertutup serta panjang mengingatkan saya akan film Little House On The Prairie karya Michael Landon . Namun mereka tidak benar benar menutup diri seperti halnya kaum Badui kalau di Indonesia, karena mereka masih terbuka pada penggunaan telepon genggam, mobil, dan lain-lain.


Namun meski Elissa menang dan Warren dipenjara, komunitas ini terus aktif, dan berhasil memutuskan hubungan Elissa dengan kedua adik dan ibu-nya.  Membaca cerita ini mengingatkan saya akan salah satu kisah legendaris Sir Arthur Conan Doyle, yang akhirnya sempat memunculkan tuntutan kaum Mormon, dan bisa selesai setelah adanya permintaan maaf dari pewaris Doyle.

Elissa yang lahir di Salt Lake City, Utah ini akhirnya hidup bahagia dengan Lamont, suaminya yang juga kabur dari FLDS (atau kadang dikenal sebagai "The Work"). Namun akhir cerita ini tidak sama bahagianya bagi sebelas saudara lelaki dan dua belas saudara perempuan-nya.

Saya akhiri review ini dengan nasihat Ibu Elissa yakni Sharon bahwa "Setan bertambah kuat, saat orang baik tidak bertindak". Nasihat yang ironisnya membuat Elissa berani bertindak, namun justru sebaliknya dengan ibu-nya.

No comments: