Friday, January 03, 2014

The Odessa File - Frederick Forsyth

Sudah lama sekali saya tidak membaca karya Frederick Forsyth, salah satu master dalam novel dengan detail tingkat tinggi. Jadi ingat sosok beliau yang sering muncul dalam iklan Rolex di majalah Tempo, perusahaan jam yang juga menjunjung tinggi hal2 detail dalam produk mereka.

Kali ini Forsyth, menulis tentang sebuah novel yang diterbitkan pertama kali ditahun 1971 ini dengan adegan bunuh diri seorang Yahudi tua bernama Salomon Tauber.  Tauber lolos dari kamp pembantaian Nazi di Riga dan merupakan satu dari sedikit korban yang lolos. Namun semangat Tauber yang selama ini bertahan hidup  malah memutuskan mengakhiri hidupnya karena kecewa melihat sang jagal dari Riga Eduard Roschmann ternyata tetap hidup dan berhasil menyamar sebagai orang baik-baik. Tauber lantas meninggalkan catatan harian, yang menginspirasi seorang wartawan bernama Peter Miller.

Catatan Tauber khususnya saat harus menjebloskan istrinya sendiri dalam pusaran maut cukup membuat pembaca sesak nafas. Tauber yang berupaya bertahan hidup dengan segala cara termasuk menjadi musuh bagi kaumnya sendiri demi janjinya pada seorang wanita tua, suatu hari harus mengantarkan isterinya, belahan jiwanya menuju gerbong tempat eksekusi. Selama dua puluh tahun ia mencoba mengartikan arti tatapan mata terakhir Esther istrinya. Apakah cinta, kebencian, penghinaan atau rasa kasihan, kebingungan, bahkan mungkin pengertian? Saat itu tanggal 29 Agustus 1942. Hari itu jiwa di dalam tubuhnya telah mati.



Miller memutuskan untuk menggunakan catatan itu, melacak jejak Roschmann. Namun kelompok Odessa yang selama ini berkepentingan melindungi mantan penjahat SS berusaha menghalangi. Berkali kali Miller berhasil lolos dari jebakan Odessa dan akhirnya membawanya pada sebuah kelompok kecil Yahudi fanatik yang bekerjasama dengan Mossad.

Kelompok fanatik ini lantas menggunakan Miller sebagai penyusup ke jaringan Odessa setelah dua agen mereka sebelumnya lenyap dan tewas. Kelompok ini lantas melatih Miller dan memberikan-nya identitas baru. Modus pemberian identitas baru ini mengingatkan saya akan The Forth Protocol, novel Forsyth yang lain dan pernah difilmkan dengan Pierce Brosnan sebagai pemeran utama. Jika kita mengira kelompok ini menggunakan Miller, maka kita wajar kecewa dan kaget, karena kejutan di akhir novel ini. Sayang sekali kematian Tauber tidak terbalas, dan Roschmann melarikan diri ke Buenos Aries, yang memang menjadi tempat perlindungan eks pasukan SS.

Sepanjang novel, kita menjadi tegang dengan style Miller yang ceroboh, alih2 menggunakan transportasi massal sesuai petunjuk agen intelijen Israel, Miller malah menggunakan Jaguar menyolok sepanjang cerita, dan memudahkan algojo Odessa melacaknya.  Sayang Forsyth sepertinya masih terprovokasi jumlah korban 6 juta  Yahudi yang tewas saat itu, dan melupakan korban2 dari ras lain-nya. Kita perlu membaca karya Donny Rickyanto http://hipohan.blogspot.com/2012/05/yahudi-dalang-pd-i-dan-pd-ii-nya-donny.html untuk dapat melihat secara berimbang bahwa "Jumlah total yang tewas di kamp Auschwitz, Bergenbelsen sd Abteilung adalah 271.301 jiwa sesuai laporan ICRC, sementara laporan lain dari Sonderstandesamt berkisar antara 282.077 sd 373.468. Lantas kenapa sangat banyak yang akhirnya mati dalam kamp ? kematian dalam kamp terjadi karena pada masa itu Jerman mengalami kesulitan bahan pangan yang luar biasa akibat pengepungan oleh tentara sekutu".

Sebagai mana karya Forsyth yang lain dalam The Day of The Jackal saat sang pembunuh bayaran meracik peluru khusus untuk membunuh presiden Perancis, pengarang kelahiran 25/8/1938 ini kembali pamer kemampuan menulis detail-nya, saat algojo Odessa Mackensen merancang bom untuk meledakkan Jaguar Miller. Hemm benar-benar teknik menulis yang luar biasa dan banyak menginspirasi generasi penulis setelahnya.

Kaburnya Roschmann yang menggunakan nama sandi Vulkan, akhirnya sekaligus menggagalkan proyek pembuatan roket roket Mesir, yang belum dapat diluncurkan ke Israel karena memerlukan teknologi radio control yang dikembangkan Vulkan. Buku ini membahas secara singkat  mengenai konflik di internal pasukan Jerman, khususnya antara Wehrmacht dan SS. Berbeda dengan cerita silat yang penjahatnya terbunuh di akhir cerita, "kemenangan" kecil Miller hanya berupa gagalnya proyek roket Mesir tersebut, dan keberhasilan melacak identitas palsu Roschmann.


No comments: