Tuesday, December 10, 2013

Umrah #2 of 7 Cobaan Demam Berdarah dan Peringatan Allah

Pagi hari kami diantar ke kantor Khalifah oleh supir dan langsung naik ke dalam bis yang akan membawa kami ke Bandara Soekarno Hatta. Namun bis ternyata tak bisa langsung berangkat, karena masih ada satu keluarga lagi yang belum juga tiba.

Dalam hati saya agak mengumpat, kok keluarga yang satu ini tidak bisa mempersiapkan diri dengan lebih baik sih ?, sehingga menyebabkan orang lain terpaksa menunggu. Lalu setelah mereka datang bis pun melaju. Rasanya agak aneh melintasi jalan yang biasa saya lalui untuk kerja di Jakarta, namun kali ini hanya melewati Jakarta, dan langsung menuju Soekarno Hatta untuk terbang ke Jeddah.

Sepanjang perjalanan, Si Sulung terlihat tidak nyaman, dan badan-nya mulai semakin panas. Istri yang curiga sebenarnya sudah melakukan pemeriksaan sebelumnya di Bio Test subuh dini hari untuk memastikan penyebab demam Si Sulung. Namun Bio Test masih memerlukan waktu untuk mengetahui hasilnya. Di salah satu tempat istirahat di Tol, bis berhenti sebentar untuk memberi kesempatan penumpang membuang hajat. Maklum perjalanan seperti ini cukup banyak diikuti orang berusia lanjut yang kemampuan menahan hajat-nya sudah menurun.

Si Sulung yang berjalan dengan gontai, saya dampingi ke toilet, namun diluar dugaan dia sangat lama berada di toilet dan sempat membuat saya kuatir. Setelah akhirnya keluar, wajah dan badan-nya terlihat merah seperti kepiting rebus. Dengan bergegas kami menuju bis, dan ironisnya kami telat masuk bis persis seperti keluarga yang datang terlambat saat kami berangkat dari Bandung. Saat itu saya merasa tamparan dari Allah SWT, agar jangan lah menghakimi orang lain sementara kita belum tentu lebih baik dari-nya. Dalam bis saya merenung dan memohon ampun pada Allah SWT. Sepertinya perjalanan ini, cobaan-nya sudah dimulai sejak niat, dan bukan setelah tiba di Mekkah.



Tak lama, Bio Test menelepon dan menyampaikan Si Sulung positif DBD, hiks kami benar2 bingung, apakah melanjutkan perjalanan sekeluarga, meninggalkan Si Sulung saja di keluarga kakak istri di Depok atau sama sekali tidak berangkat. Kami memohon bantuan Ustadz Budi untuk memintakan doa dari seluruh jamaah, yang langsung ditindak lanjuti Ustadz Budi dengan mengumumkan-nya di bis. Jika si sulung kami tinggal, maka perjalanan ini akan menjadi hal yang tidak akan memberikan ketengan batin, karena harus meninggalkan Si Sulung dalam keadaan sakit, namun jika kami semua tidak jadi berangkat, kok ya rasa-nya aneh juga, bukankah dalam ibadah seperti ini hal2 yang bersifat duniawi justru adalah hal yang harus kita tinggalkan.

Istri segera konsultasi dengan Dokter Teddy SPA, rekan kerjanya yang memang paham obat apa kiranya yang sesuai untuk situasi yang kami hadapi. Beliau menyarankan untuk membeli Trolit. lalu istri menelepon kakak perempuan-nya di Depok untuk membeli obat2an yang dimaksud karena kami tidak mungkin berhenti di apotik. Lalu kami mengatur waktu untuk ketemu di Bandara.

Setelah yakin obat2an bisa kami bawa, akhirnya dengan bismillah kami memutuskan tetap bersama apapun yang terjadi. Saya juga menelepon Ibu, dan saudara2 untuk memohon doa agar segala sesuatunya berjalan dengan baik.  Sesampai di Bandara, sementara jamaah lain masuk, kami menunggu di luar, namun kakak istri belum jua tiba. Karena kuatir kami terlambat, saya membagi tugas sehingga anak-anak dan istri langsung masuk sementara saya menunggu kakak ipar untuk serah terima obat.

Detik-detik menegangkan berlalu, dan di saat saat akhir akhirnya alangkah terharunya saya ketika kakak ipar sampai di bandara dan bukan cuma menyerahkan obat dimaksud namun sempat2nya membawa dua termos jus jambu yang diyakini sebagai obat DBD. Ternyata alih2 langsung membeli obat, mereka malah ke pasar dulu untuk membeli jambu batu, dan lalu membuat juz sebagai bekal Si Sulung, agar segera pulih. Namun terburu buru dan tidak jelas mengenai obat yang dimaksud, kakak malah membeli Oralit dan bukan Trolit. Untung saja obat lain-nya tidak salah, sehingga masih bisa kami gunakan.

Selanjutnya di http://hipohan.blogspot.co.id/2013/12/umrah-3-terbang-ke-jeddah.html


No comments: