Thursday, April 09, 2015

Jalan-jalan ke Pangandaran Part #4 of 5 Sunrise di Pantai Timur, dan Tiga Gua di Cagar Alam.

Pagi harinya kami berjalan kaki dari Hotel ke Pantai Timur untuk melihat Sunrise. Nampak perahu-perahu besar berjarak ratusan meter dari bibir pantai membuang sauh. Setelah menikmati Sunrise kami berjalan kaki ke lokasi tempat sarapan kemarin untuk sarapan nasi goreng dan melakukan acara brefing pada seluruh karyawan di lantai dua.




Selesai sarapan kami berjalan kaki menyusuri Pantai  Timur ke Cagar Alam. Lokasi Cagar Alam ini unik, karena kalau dilihat dari atas bagaikan buah yang diletakkan ditengah laut dengan Pantai Barat dan Pantai Timur sebagai tempat bergantung ke Pulau Jawa. Di pelataran depan nampak beberapa rusa yang terlihat sangat jinak. Nampak dikejauhan Pulau Nusa Kambangan yang tersohor. Anehnya kalau dilihat dari atas, tidak terlihat batas yang jelas antara Pulau Nusa Kambangan dengan Pulau Jawa. Cukup bervariasi vegetasi disini termasuk hutan sekunder tua dan sisanya adalah hutan primer. Pohon-pohon yang dominan antara lain Laban (Vitex Pubescens), Kisegel (Dilenia Excelsea), dan Marong (Cratoxylon Formosum). Selain itu banyak juga terdapat jenis-jenis pohon seperti Reungas (Buchanania Arborencens), Kondang (Ficus Variegata), Teureup (Artocarpus Elsatica),  Nyamplung (Callophylum Inophylum), Waru laut (Hibiscus Tiliaceus), Ketapang (Terminalia Cattapa), dan Butun (Baringtonia Aistica). Di dataran rendahnya terdapat hutan tanaman yang terdiri dari tanaman jati (Tectona Grandis), Mahoni (Swietenia Mahagoni) dan Komis (Acacia Auriculirformis).




Lalu kami menyusuri Cagar Alam dan masuk ke tiga gua, yang pertama bernama Gua Panggung, bagian dalamnya terang dan gelombang air laut mampu masuk ke dalam gua. Dibagian depan nampak sekumpulan pemandu wisata yang menjaga kotak sumbangan dan berkata dengan suara agak keras “Silahkan yang mau menyumbang, mau rombongan silahkan mau sendiri-sendiri juga silahkan” yang diulang ulang terus saat rombongan kami masuk sehingga membuat susanan tidak nyaman. Dibagian atas gua nampak bentuk seperti panggung batu dengan makam dibagian atas. Bau kemenyan bakar dan bunga sangat menusuk hidung. Makam tersebut dihias dengan payung berwarna hijau dan dikelilingi pagar yang diselimuti kain berwarna hijau juga. Suparmin wanti-wanti agar jangan memotret dengan mengenakan sandal, karena tidak akan mungkin berhasil. Istri yang tahu saya suka iseng langsung mencegah saya mencobanya. Kakak perempuan saya yang memiliki indra keenam dan turut ikut, mendadak pucat, dan tidak mau naik ke atas panggung batu dimana makam berada. Kakak melihat mahluk halus berpakaian prajurit zaman dahulu dengan wajah tidak ramah.

Sebagian pemuda dalam rombongan langsung mencoba memotret tanpa mengenakan sandal, dan merasa puas ketika fotonya berhasil diabadikan. Saat mereka dengan bangganya mengatakan pada Suparmin keberhasilan mereka memotret, Suparmin dengan jenaka mengatakan itukan dipotret pakai kamera, coba kalau potret memakai sandal pasti tidak akan berhasil,...yahh ternyata kami kena jebakan.

Gua kedua yakni Gua Parat yang artinya “menembus” (karena memang keluar kearah laut), terlihat lebih menyeramkan, kami harus membawa senter karena gua sepanjang 200 meter ini benar-benar gelap. Sempat ada perselisihan di luar gua, karena para pemuda penjaga di gua pertama memaksa kami menyewa senter mereka, sementara dari travel kami sudah dilengkapi dengan tujuh senter. Dibagian pintu masuk gua, nampak dua makam, namun Suparmin mengatakan kedua makam itu dan juga makam sebelumnya hanyalah makam simbol, kedua makam di gua kedua tidak diperlakukan sebagaimana makam di gua pertama, tidak tercium bau kemenyan dan juga tidak dihias. Suasana dalam gua benar-benar gelap, bahkan tangan sendiri saja tidak terlihat, kita juga harus awas karena dasar gua tidak rata karena stalakmit sementara bagian atas gua terdapat berbagai staklaktit. Terlihat sepasang batu berbentuk alat kelamin wanita dan pria, lalu dalam gua ternyata ada gua lain yang berisi landak besar yang mau muncul jika kita memberi kacang, batu cekung yang berisi air bening yang menetes dari staklaktit.  Saya jadi ingat Joe si Indian, tokoh antagonis dalam buku Mark Twain, Tom Sawyer yang sempat dijadikan lagu oleh Rush, band progressive asal Canada.




Di Gua Parat, kakak kembali gelisah karena dia melihat puluhan mahluk halus bergelantungan di dinding-dinding gua dan nampak bahagia saat melihat anggota rombongan yang memegang batu kelamin merasa yakin kalau memegang batu lawan jenis akan mendapatkan jodoh serta  memegang kedua batu kelamin akan mengawetkan pasangan. Mahluk mahluk ini dalam penglihatan kakak turun dari dinding dan mendekati salah seorang anggota rombongan yang tengah hamil muda, kakak kuatir sekali karyawan kami kesurupan, namun akhirnya kami dapat melewati gua ini dengan aman, meski sempat kaget melihat biawak sebesar manusia di sisi kanan pintu keluar dan ratusan kelelawar di langit-langit gua.  

Gua terakhir bernama Gua Miring, karena untuk memasukinya kami harus menipiskan dan memiringkan badan. Untung saja akhirnya saya bisa melewati sisi tersempit sekaligus termiring dari gua tersebut meski punggung sudah bergesekan dengan permukan kasar gua.  Di bagian atas nampak banyak sekali kelelawar bergelantungan. Di gua ini juga ada berbagai bentuk aneh seperti keluarga kuntilanak, pocong, malaikat dan tengkorak. Suparmin mengatakan jangan pernah ke gua ini diatas jam 17:00, kami semua saling menatap berpandangan, lalu lanjutnya, karena jam 17:00 adalah batas terakhir penjualan tiket ..yiahhh lagi-lagi kena jebakan.

Lanjut ke http://hipohan.blogspot.co.id/2015/04/jalan-jalan-ke-pangandaran-part-5.html

No comments: