Thursday, April 09, 2015

Jalan-jalan ke Pangandaran Part #5 of 5 Kerajaan Monyet di Cagar Alam dan Berlayar menuju Batu Buaya, Batu Layar dan kembali ke Bandung


Sebenarnya ada tujuh gua di Pangandaran, empat gua lainnya yakni Gua Sumur Mudal, Gua Lanang, Gua Cirengganis, Gua Karang Bolong sayang tidak sempat kami jelajahi. Keluar dari Gua Miring, kami langsung menuju lokasi monyet, setelah memanggil monyet-monyet tersebut dengan kacang maka monyet-monyet pun keluar dari hutan. Sebelumnya Suparmin sudah wanti-wanti agar kami tidak membawa minuman, khususnya yang berwarna, karena akan dirampas oleh monyet-monyet. Suparmin juga melarang kacang yang sudah diulurkan tidak ditarik lagi, karena monyet-monyet ini tidak akan segan segan menggigit tangan kita. Saya sendiri trauma dengan ulah monyet Uluwatu yang merampas kaca mata lebih memilih menghindar.

Dari sini kami langsung menaiki perahu nelayan, bagi yang snorkling disarankan menggunakan perahu yang sama, sedangkan yang hanya berlayar ke Batu Buaya dan Batu Layar menaiki perahu yang berbeda. Lantas kamipun menuju laut, angin bertiup kencang, air yang berwarna kehijauan tampak indah, di sisi kiri nampak puluhan jaring apung milik nelayan sedangkan di sisi kanan terlihat  Batu Buaya dan lalu Batu Layar. Dinamakan Batu Buaya karena bagian punggung-nya terlihat berduri duri layaknya kulit buaya, sedangkan Batu Layar terlihat seperti haluan Titanic yang seakan mengancam menabrak perahu kami. Sayang anggota yang snorkling tidak bisa dengan jelas melihat karang di dasar laut karena kondisi air yang sedang tidak tenang. Saya dan istri teringat pengalaman yang sama saat snorkling di Bali, sudah jauh-jauh ke tengah laut, ternyata karang-karang nya tertutup pasir akibat kondisi laut yang sedang tidak tenang.




Kembali ke tempat asal, kami menuju Warung Bu Suparmin, dan meminum Kelapa Muda sambil menunggu semua rombongan berkumpul. Sambil menunggu kami memborong rujak dan gula aren. Setelahnya barulah kami makan siang di Risma salah satu warung seafood terkenal di Pantai Timur. Selama perjalanan sepertinya masakan di Warung Risma yang paling lezat, Ikan Bakar, Udang Saos Mentega, Kangkung Ca, Cumi Goreng Tepung langsung kami santap dalam keadaan letih dan lapar. Setelahnya kami kembali ke Hotel  dan langsung bersiap siap pulang. Dalam perjalanan tak lupa kami mampir di Toko Owen untuk membeli oleh-oleh, tepat jam 14:00 kami berangkat dan setelah berjuang menempuh kemacetan akhirnya sampai di Bandung jam 01:00 dini hari. Khusus oleh-oleh sebaiknya jangan ragu membeli apapun yang menurut anda berkualitas dan murah saat di Pangandaran, karena Owen pun ternyata tidak lengkap-lengkap amat. Tadinya kami kira Owen merupakan One Stop Shopping layaknya Brawijaya di Batu, namun sepertinya masih perlu waktu



Kesan saya pada Pangandaran kali ini jauh lebih baik di banding kunjungan sebelumnya. Ternyata Pangandaran menyimpan potensi luar biasa dengan berbagai keunikan alam dan berada pada lokasi yang saling berdekatan. Mulai dari Green Canyon, Body Rafting, Tujuh Gua, lebih dari lima pantai (Pantai Pananjung/Cagar Alam, Pantai Batu Karas, Pantai Batu Hiu, Pantai Barat dan Pantai Timur yang masing-masing memiliki keunikan) , snorkling, sepeda/sepeda-mobil sewaan, menyusuri laut dengan perahu nelayan, dan berbagai atraksi air lainnya.  Karena lokasi pantai yang unik, kita bahkan bisa melihat sunset dan sunrise, tak aneh kalau Pantai Pangandaran di nobatkan sebagai Pantai Terbaik di Jawa oleh AsiaRooms. Namun untuk kesini jarak yang ditempuh cukup jauh dan pada saat week end kami harus melalui Nagrek yang terkenal macet. Suatu hari  nanti tentu saja kami berharap akan kembali, dan menuntaskan obsesi kami untuk menyantap lobster bakar yang masih saja belum sempat disantap pada dua kali kunjungan kami. 

No comments: