Saturday, April 28, 2012

5 cm - Donny Dhirgantoro

Saat mulai membaca buku 380 halaman ini, di pertengahan  saya mulai jenuh, karena dialog-nya cenderung dangkal dan berbau keseharian, sebagaimana novel pop pada umum-nya. Juga cukup banyak salah penulisan khusus-nya artis2 asing yang lagu2nya dikutip oleh Donny. Sempat hampir berhenti beberapa kali, saya pikir tanggung juga, karena status buku ini sebagai salah satu” best seller national” masih membuat saya penasaran, sehingga dengan susah payah saya teruskan. Namun menjelang pertengahan, saat para tokoh-nya reuni setelah 3 bulan tidak bertemu lalu memutuskan untuk mendaki ke Mahameru (3676), cerita-nya menjadi lebih mengalir.




Beberapa hal yang membuat saya kesulitan menamatkan buku ini adalah penggambaran karakter tokoh-nya yang terlalu apa adanya, seperti Ian yang digambarkan sebagai peminat film mesum, dan Riani salah satu yang paling menentang akhirnya malah digambarkan kadang ikut2an meminjam, sehingga terkesan penulis menganggap ini sebagai hal yang wajar2 saja. Lalu penggambaran pikiran kotor Zafran terhadap Arinda adik Arial, terlalu mengumbar ketidak pantasan. Untung lah makin kesini, hal2 tersebut tidak lagi dibahas secara mendetail oleh Donny.
Dalam buku ini, sangat banyak “theme song” yang digunakan, mungkin bisa mendekati lima puluh lagu, menggambarkan pengetahuan musik Donny yang saya nilai cukup lumayan, meski terbatas pada generasi-nya saja. Generasi pembaca diatas atau dibawah Donny, atau yang aliran-nya berbeda mungkin akan sulit terlibat dalam suasana ini karena tidak mengenal lagunya. Saya sendiri yang meski penggemar musik, juga tidak menemukan banyak interseksi dengan selera Donny karena perbedaan aliran, kecuali beberapa track yang cukup mendunia seperti “Just The Way You Are”-nya Billy Joel atau “Fly Me To The Moon” nya Frank Sinatra misalnya.

Sepertinya Donny, memang seorang pencinta alam, sehingga penggambaran suasana pendakian menjadi lebih nyata dan menarik. Namun salah, kalau orang mengira tokoh utama dalam buku hanya berlima (Ian, Genta, Rani, Arial dan Zafran), karena dalam pendakian adik Ariel yang digambarkan sebagai persis Arial namun versi perempuan-nya juga turut serta. Dalam pendakian, sekelompok sahabat ini juga selalu berusaha tidak membuang sampah sembarangan, tidak ingin menyambut godaan Edelweis, dan berusaha menerapkan “Take Nothing But Pictures, Leave Nothing But Footprints”.

Hal menarik dalam buku ini selain suasana pendakian, adalah pertemuan mereka dengan “mahluk” yang merupakan salah satu sahabat dari kelompok pendakian lainnya namun hilang dalam ekspedisi terdahulu serta jaringan cinta diantara para tokoh, dimana Genta mencintai Rani, Rani sebaliknya malah mencintai Zafran, Zafran malah mencintai Arinda, dan ironisnya Arinda malah mencintai Genta. Selain itu beberapa ungkapan yang sangat menarik meski sudah cukup sering kita dengar seperti “Sebaik-baiknya Manusia Adalah Yang Bisa Memberi Manfaat bagi Orang Lain”, atau saat Arial meski bertubuh paling kekar nyaris menyerah menjelang puncak, perkataan rekan2nya  “This World is For Those Who Wants To Fight” membuat Arial bangkit kembali.

Terus, pasti banyak orang penasaran dengan judul buku ini, yang dimaksud Donny,  5 cm adalah jarak mimpi dengan kening kita, begitu dekat selama kita mau berusaha, dan dengan kaki yang mau berjalan lebih jauh, dengan tangan yang berbuat lebih banyak, dengan mata yang selalu terbuka, dengan tekad yang lebih keras, dan dengan mulut yang selalu mengucap doa, maka setiap orang akan mampu mencapai apa yang dia idam2kan.

Adegan mengharukan adalah saat mereka mencapai puncak tepat di 17/8 setelah melewati danau, padang rumput, hutan, jurang, hujan batu, dingin yang mencekam dll dan sambil sesenggukan mereka menangis menyanyikan lagu Indonesia Raya, ini mengingatkan saya akan perasaan yang sama ketika wisuda di Sasana Budaya Ganesha tahun 1999 tepat setahun setelah gerakan reformasi  1998 yang menelan cukup banyak korban, Indonesia Raya membuat saya tersedu sedu. Review ini saya tutup dengan kata2 Henry Dunant yang dikutip dalam buku ini, “Sebuah Negara Tidak Akan Pernah Kekurangan Pemimpin Apabila Anak Mudanya Sering Bertualang di Hutan,Gunung dan Lautan”.

2 comments:

Anonymous said...

Pak.. mungkin novel ini terlalu ringan untuk bapak, jadi susah di-tamat-in.. hehe.. *Bcanda Pak.. ; )p
novel ini saya baca pertama kali waktu kuliah, skitar tahun 2006-an..
pertama baca saya langsung suka novel ini.
penggambaran tokoh yg ringan, dan visualisasi jalan cerita yang mudah tapi tidak ng-bosenin sepertinya jadi identitas Donny. terlebih di novel kedua-nya, yg kbetulan judulnya "2"..
banyak banget nilai moral dan quote2 yagn saya ambil dari novel ini.
tentang persahabatan, hidup, cinta dan petualangan ke alam terbuka..
sampai skarang novel ini jadi salah satu novel yang saya ga pernah bosen dibaca.. :)

NB : saya belum msh belum dapet "greatest design" nih Pak.. :(

-Adit

Husni I. Pohan said...

He he iya sih, emang nih novel "full of quote", btw greatest design belum dapat, kalau gw nemu mau dibeliin ?