Wednesday, May 10, 2017

Kuala Lumpur – Penang Part #5 dari 8 : Penang, Islander Lodge, Chocolate and Coffee Museum, Rumah Api Fort Cornwallis, dan Queen Victoria Clock Tower.


Bangun di pagi hari kami langsung sarapan nasi goreng yang kami pesan malam sebelumnya dari  Selera Ampang, berkemas dan langsung ke lobby untuk memesan Uber menuju KL Sentral Train Station. Sehubungan dengan hari buruh dimana Kuala Lumpur memberlakukan libur, alhamdulillah jalan sangat lancar, hanya 10 menit kami akhirnya sampai pada jam 07:17 menempuh jarak 7,35 km dengan biaya 11,09 RM, kali ini dengan driver keturunan India yang bernama Kasinathan dan lagi-lagi pakai Nissan Almeera yang cukup populer di Malaysia. Melihat populasi Nissan di Malaysia, saya jadi ingat kata-kata Carlos Ghosn petinggi Nissan yang meresmikan pabrik baru Mitsubishi baru-baru ini (setelah sebagian sahamnya di beli Nissan), bahwa di seluruh dunia penjualan Nissan lebih tinggi dari Mitsubishi kecuali di Indonesia.   

KL Sentral terlihat resik dan megah, petunjuk-petunjuk arah terlihat jelas, dan terlihat sama modernnya dengan airport KLIA. Sambi menunggu gate yang akan dibuka 15 menit sebelum berangkatm kami sarapan di McDonald, lalu saya mengecek apakah tiket online yang saya print dengan printer rumahan, sudah bisa dipakai tanpa penukaran ulang di loket, dan alhamdulillah ternyata bisa.




Saat tiga tahun lalu jalan-jalan, kami sempat berkenalan dengan guide asal Malaysia bernama Bu Christina alias Chin Pek See, sosoknya yang keibuan dan ramah serta lincah walau sudah berusia 66 tahun, membuat kami teringat saat merencanakan perjalanan ke Penang. Kebetulan beliau memang tinggal di Penang, sehingga gayung bersambut ketika kami menyampaikan rencana kami. Akhirnya beliau bersedia menjemput kami di Butterworth, mengantar selama dua hari sudah termasuk supir, toyota Hi Ace baru, supir, toll dan parkir. Semua biayanya sekitar 850 RM.

Kereta ETS meski didesain untuk bisa mencapai kecepatan 160 km/jam, namun sepanjang perjalanan indikator menunjukkan kecepatan maksimal 140 km/jam, dan menjelang Buttterworth di Penang Daratan, semakin banyak stasiun dimana kereta harus berhenti. Keretanya bersih, dan kami sempat diberikan snack untuk sekedar penangkal perut yang keroncongan. Masuk Ipoh saya mengabari Bu Christine posisi kami dan beliau konfirmasi meeting point kami, yakni pintu depan lift kedatangan.

Bagi yang tertarik memanfaatkan jasa Bu Christine bisa mengontak beliau di +60124211081, meski sudah sepuh namun Bu Christine masih sangat lincah dan aktif menggunakan whatsapp. Beliau juga dapat dikontak melalui facebook dengan menggunakan nama Chin Pen See. 






Bu Christine bersama Pak Aheng sang driver setelah melewati jembatan buatan Korea Selatan yang menghubungkan Penang Daratan dengan Penang Island sepanjang 13,5 km, langsung membawa kami ke restoran favorit halal yang sayangnya tutup. Lalu sambil berjalan kaki di antara gerimis hujan kami menuju lokasi lainnya. Akhirnya kami menikmati masakaan Thailand di Nana Tomyam di Lebuh Dickens. Masakannya benar-benar lezat dan harum, tujuh macam masakan dengan harga sangat bersahabat, dan semua itemnya tidak ada yang mengecewakan, dengan rasa khas asamnya masakan Thailand. Tidak aneh jika dari Penang masuk 10 besar lokasi dunia untuk keistimewaan kulinernya. Dari sini hotel kami hanya berjarak 200 meteran, sehingga kami memutuskan untuk langsung check in dan menyimpan koper.









Hotel kecil ini menggunakan struktur bangunan lama lalu direnovasi namun tetap dengan ciri khas lama seperti desain lantai dan tangganya. Sempat terjadi debat hangat dengan front office,  karena saya mengira kami sudah melakukan pembayaran secara online namun ternyata memang belum. Tarif untuk family suite terbilang murah yakni 188 RM plus deposit senilai 50 RM. Kamarnya cukup lega, meski kamar mandinya agak kecil. Namun secara keseluruhan mengingat lokasi yang strategis, hotel yang bersih ini cukup menyenangkan.




Destinasi pertama kami adalah Chocolate and Coffee Museum, berlokasi di Lebuh Leith, tempat ini  adalah satu lokasi yang cukup sering dikunjungi wisatawan. Pramuniaganya sangat ramah dan menawarkan sampel untuk setiap jenis coklat. Juga tersedia berbagai sampel kopi dengan ramuan coklat yang disediakan dalam gelas-gelas kecil. Sayang kita tidak diperbolehkan memotret bagian dalam ruangan.  Buat saya dan keluarga yang sebelumnya sudah pernah ke Beryl’s Chocolate Kingdom apa yang ditawarkan tempat ini masih kurang lebih sama.




Destinasi selanjutnya, Rumah Api Fort Cornwallis, merupakan mercusuar di Lebuh Tun Syed Sheh Barakbah. Bangunan ini dibangun tahun 1882, dan ini bukan melulu mercusuar, karena memang dilengkapi meriam dibagian depannya menghadap ke laut lepas. Berbeda dengan kebanyakan mercusuar yang kita lihat di Indonesia dimana bangunannya dibuat dari bata dan semen, bangunan ini dibuat dalam konstruksi kerangka besi bercat putih setinggi 21 meter dan dapat mengamati kondisi perairan sejauh 16 mil laut.  Di bagian depan bangunan terlihat beberapa pedagang dengan mobil box yang bagian belakangnya terbuka dan menjual berbagai macam penganan khususnya irisan buah segar dan kacang kuda, demikian penduduk Penang menyebutnya.






Queen Victoria Memorial Clock Tower di Lebuh Light, menjadi landmark Penang tujuan kami berikutnya. Didirikan tahun 1897 dengan rancang bangun oleh Cheah Chen Eok setinggi 30 meter yang didedikasikan pada Ratu Victoria dari Inggris. Tak lama setelah hujan akhirnya berhenti, cuaca khas tropis dipinggir laut menyengat kami saat mengabadikan beberapa gambar di sekitar menara jam ini. 




Link berikutnya di http://hipohan.blogspot.co.id/2017/05/kuala-lumpur-penang-part-6-dari-8.html

No comments: