Monday, March 26, 2012

The Raid (2011) - Gareth Evans

Rasanya sudah cukup lama sejak era Garin Nugroho, Indonesia belum lagi secara “bertubi tubi” mendapatkan gelar bergengsi di festival film internasional. Namun kali ini “The Raid” berhasil mendapatkan penghargaan yang sama, dan saya jadi tertarik untuk menonton film ini bersama keluarga. Penghargaan tersebut antara lain dari Toronto International Film Festival, Dublin International Film Festival, Sundance Film Festival, Busan, dll. Sayang-nya saya salah perkiraan, ternyata film ini sama sekali bukan film yang layak ditonton bersama  keluarga, adegan sadis terjadi dimana-mana, tembakan jarak dekat ke kepala, penusukan dan pembantaian yang bahkan langsung di mulai sejak adegan awal. Meski menyesal mengajak anak saya, perlu diakui ini film yang seru, akting berkelas dari Ray Sahetapy juga Pierre Gruno sangat membantu kualitas film ini secara keseluruhan.



Film ini menyadarkan kita bahwa selama ini bangsa kita seringkali memiliki keminderan ketika berhubungan dengan pihak asing, padahal justru dengan menonjolkan kekayaan budaya lokal seperti pencak silat lah yang membuat film ini memiliki “faktor x”, dan menyebabkan-nya mampu bersaing dengan film manca negara,meski tak  lepas dari peran sutradara asing Gareth Evans, yang harus diakui memiliki kualitas sinematografi action dengan kelas “khusus” bersama salah satu bule lainnya yang menjabat direktur of photography (DOP) sekaligus menjadi minoritas dua orang asing dalam film yang produksi-nya didominasi sumber daya lokal. Film  ini menjadi inspirasi bagi kita semua untuk bangga dengan nilai2 lokal yang kita miliki dan berusaha terus mengembangkan-nya menjadi  identitas bangsa. Rasanya tidak sia2  upaya Gareth mendokumentasikan pencak silat dan mempertemukan dia dengan Iko, yang akhirnya melahirkan film pertama  “Merantau” dan lantas di lanjutkan dengan film kedua “The Raid”. Gareth sendiri secara rendah hati menganggap film ini 100% Indonesia, karena pemeran, lokasi, budget, content semuanya adalah murni Indonesia.

Ceritanya sendiri bermula dari operasi rahasia pasukan khusus tanpa back-up, yang melibatkan kombinasi pasukan junior dan senior, ke sebuah apartemen tua 30 lantai yang dikuasai bos penjahat sekaligus gembong narkotik Tama Riyadi (Ray Sahetapy) selama sepuluh tahun terakhir. Namun komandan lapangan pasukan khusus ini seringkali berbeda pendapat dengan pimpinan yang di perankan oleh Letnan Wahyu (Pierre Gruno) yang dianggap menyembunyikan latar belakang penyerbuan ini. Perbedaan pendapat ini menyebabkan berkali kali diantara pasukan terjadi debat tak perlu, yang sejak awal sudah dipicu oleh ketidak setujuan Letnan Wahyu akan keterlibatan pasukan junior.

Kalah jumlah dan penguasaan medan serta penghianatan dalam tubuh pasukan elit ini menjadi kan mereka sebagai bulan-bulanan kawanan penjahat, satu persatu mereka tewas secara mengenaskan, termasuk komandan lapangan Sersan Jaka (yang diperankan dengan sangat baik oleh Joe Taslim) dan akhirnya menjadi bulan2an, psikopat bela diri merangkap centeng Tama Riyadi dengan julukan Mad Dog (Yayan Ruhian). Namun tokoh utama, Rama (Iko Uwais), berhasil bertarung dengan gagah berani dari lantai ke lantai sambil menyelamatkan salah satu anggota pasukan yang luka parah. Catatan tambahan dalam film ini adalah penggunaan tampang2 dengan raut khas muka saudara2 kita asal Maluku (Godfred Orindeod), walau terlihat wajar karena mencerminkan situasi saat ini (dipicu kasus2 perkelahian preman yang terjadi akhir2 ini), namun memang berpotensi SARA.

Menonton film ini mengingatkan saya akan sulitnya membuat film yang benar2 murni secara ide, begitu juga yang terjadi dalam film ini, tingkat kesulitan pertarungan dari lantai ke lantai mengingatkan saya akan film “Game of Death” nya Bruce Lee, CCTV yang disebar diseluruh apartemen dan dimonitor oleh sang Bos Penjahat, mengingatkan saya akan film “Sliver”-nya William Baldwin dan Sharon Stone, makian2an sepanjang film dan pertarungan melawan banyak penjahat dalam gedung bertingkat mengingatkan saya kan film “Die Hard” nya Bruce Willis, serta perkelahian brutal dan menguras tenaga, dengan shoot2 cepat mengingatkan saya akan  “Ong Bak” nya Tony Jaa.

Tetapi film ini bukan sekedar pertarungan, dia juga menyimpan misteri bahwa keterlibatan Rama dalam misi ini memiliki motivasi pribadi yaitu, mengajak abang-nya Andi (Donny Alamsyah)  kembali ke jalan benar, dan justru menjadi tangan kanan Tama Riyadi. Itu juga yang menyebabkan Rama di adegan awal sempat berjanji membawa Abang-nya kembali, pada Sang Ayah yang sudah lanjut usia. Adegan awal di mana Rama sholat subuh, dan pamitan sambil mencium perut istrinya yang hamil sangat mengharukan dan mengingatkan kita akan situasi berat yang sering dialami orang2 yang berkarir dengan mempertaruhkan nyawa. Namun di akhir cerita  misi pribadi Rama gagal, dan abang-nya tetap memilih eksis di jalan hitam, walau tetap menunjukkan rasa sayang-nya pada Sang Adik dengan membahayakan dirinya sendiri dalam menolong Rama. Adegan ini sangat ekspresif, dimana Rama digambarkan berjalan berlawanan arah dengan Andi.

Selain akting aktor2 senior, beberapa akting bagus juga ditunjukkan para pemain muda dalam film ini, meski artikulasi kata2nya sering  tak terdengar cukup jelas (bisa jadi karena tidak memiliki latar belakang teater), Donny Alamsyah yang berperan sangat baik dalam Negeri Lima Menara sebagai Ustadz Salman lagi2 menunjukkan kemampuan akting yang prima, demikian juga sang komandan Joe Taslim, dan juga Iko Uwais sendiri. Iko pemuda betawi yang memang sudah belajar silat dari umur 10 tahun dan meninggalkan profesi-nya sebagai supir di sebuah perusahaan telekomunikasibahkan harus rela mengalami robek ligamen otot dalam pertarungan dengan Yayan Ruhian yang juga habis2an dalam adegan laga seru serta mengalami tempurung lutut bergeser ketika bertarung dengan Godfred Orindeod saat seleksi pemeran tambahan. Akhir kata semoga Indonesia terus bangkit dan bukan cuma di film melainkan di semua hal positif lainnya.

1 comment:

Unknown said...

Sony Pictures Classics sedang menikmati salah satu keputusan tepat mereka untuk membeli hak edar film laga Indonesia THE RAID: REDEMPTION dengan perolehan yang menjanjikan di minggu pertama pemutarannya. Film aksi garapan Gareth Evansyang dibintangi oleh Iko Uwais, Ray Sahetapy, dan Donny Alamsyahini sukses meraup pendapatan sebesar 220.937 dollar Amerika di 24 bioskop dengan rata-rata pendapatan di tiap lokasi sebesar 15.181 dollar Amerika atau sekitar 144 juta rupiah sejak pemutarannya tanggal 23 Maret lalu. Dengan biaya produksi yang 'hanya' sekitar 1 juta Dollar, THE RAID terbukti mampu bersaing dengan film sekelas THE HUNGER GAMES dalam jadwal edar yang bersamaan. Tentunya ini menjadi sebuah prestasi tersendiri bagi film laga independen yang telah mendapat penghargaan di Toronto International Film Festival.
Kisah filmnya sendiri adalah tentang sekelompok tim khusus SWAT yang terjebak di sebuah gedung yang ditinggali bos penjahat. Dengan menonjolkan aksi silat, seni bela diri khas Indonesia, film ini mendapat kritik sangat positif dari para kritikus. Dalam situs kritik film, Rotten Tomatoes, THE RAID mendapat penilaian 86% fresh yang berarti hampir sama dengan skor THE HUNGER GAMES.

Tanggal Rilis:
8 September 2011 (Toronto International Film Festival - TIFF)
21 Maret 2012 (Indonesia)
22 Maret 2012 (Australia)
23 Maret 2012 (Amerika)