Friday, December 23, 2011

Indonesia Incorporated - Zaynur Ridwan

Membaca buku Rizky Ridyasmara, saya tertarik dengan nama Zaynur Ridwan di halaman belakang yang disebut Rizky sebagai salah satu bacaan yang menginspirasi. Maka saya mulailah perburuan karya Zaynur, dan di Gunung Agung Kwitang, dan akhirnya salah satu dari empat buku beliau saya temukan, dan begitu ada waktu luang beberapa hari kemudian segera saya santap panas2.

Buku ini lagi2 menunjukkan betapa banyak penulis muda potensial Indonesia saat ini, yang meski datang jauh dari Sulawesi Selatan tetapi langsung dengan karya kelas dunia. Skenario-nya meski kompleks tetapi kuat, rapi dan tersusun bagaikan puzzle2 yang baru pada 3/5 buku mulai terlihat interseksi-nya. Berbeda dengan trilogy novel Rizky Ridyasmara, yang masih tergagap gagap menggabungkan fiksi dan realita sehingga masih belum terasa kuat sebagai novel, sebaliknya Zaynur sangat kuat sebagai novel.

Puzzle2 di buku ini entah kenapa mengingatkan saya akan perkamen miniatur Kapal Unicorn Sir Francis Haddock di komik Tintin karya Herge, yang harus dikumpulkan semua agar  gambaran utuh dari misteri, menunjukkan koordinat sebenarnya dari bangkai Kapal Unicorn.

Buku ini menggambarkan keraguan Zaynur akan  dampak dari polusi terhadap panas bumi, karena saat ini, siklus matahari lah menurut Zaynur yang menjadi penyebab utama panas bumi. Akan tetapi ada pihak2 tertentu di dunia yang sengaja menghembuskan isu ini, sebagai alasan untuk intervensi terhadap negara2 berkembang, sehingga negara2 maju dapat memantau, menekan dan bahkan memaksa negara2 lain untuk mengikuti aturan main yang mereka buat, dan lantas pelan2 akan menjadikan dunia sebagai “New World Order”. Zaynur juga meragukan teori evolusi yang sampai saat ini masih belum menemukan rantai yang hilang, meski sudah sangat banyak fosil yang ditemukan di dunia. Bagi Zaynur kedua hal ini tak lebih dari kemunafikan saintis yang ditunggangi kepentingan tertentu. 



Apa2 yang dituliskan Zaynur dibuku ini, mengingatkan kita kembali, betapa kaya-nya Indonesia, dan bagaimana ironisnya kekayaan Negara ini justru "dijual" pada tahun 1967 oleh Soeharto pada kelompok konspirasi tokoh Eropa, yang menggunakan strategi hutang untuk menundukkan Indonesia sebagai bentuk penjajahan baru. Sebagaimana Freeport, yang dihisap habis2an, dengan hanya menyisakan kurang dari 7% bagi Indonesia, dan bahkan dibawah 2% bagi masyarakat Papua, begitu juga yang mengancam banyak daerah lain di Indonesia yang mengandung bahan2 tambang terbaik di dunia.

Artwork buku ini harus diancungi jempol, pemilihan warna-nya berkelas, meski gambar2 pendukung di dalam buku-nya justru sebaliknya, sangat kecil dan kabur. Sayangnya rasa penasaran terhadap sosok penulis juga tidak terpuaskan karena tidak dituliskan secara jelas termasuk referensi yang digunakan dalam buku ini.



 

2 comments:

Unknown said...

Saya tahu Zaynur Ridwan Sekitar September lalu Pak. Cara menulisnya sangat mengingatkan saya dengan Dan Brown. Benar-benar setara dengan novel internasional.... Banyak hal yang ingin saya tanyakan pada beliau. Tetapi kayaknya tau biografinya saja susah...

Anonymous said...

Saya setuju, saya juga penggemar Dan Brown , setelah saya membaca The Greatest Design karya Zaynur Ridwan, saya begitu kaget bahwa ada penulis indonesia yang menulis novel dengan cerita fiksi misteri yang begitu bagus dan epik seperti penulis hebat Internasional