Friday, December 02, 2011

Pastikan ada peluang, baru investasi kemudian.

Saat kuliah aku dan sahabat karibku (yang sekarang merantau ke New Zealand setelah sempat ikut proyek pembuatan salah satu film komedi bersama Padhayangan), membuat ikatan mahasiswa penggemar fotografi. Ternyata dapat sambutan yang cukup hangat, dan bukan cuma yang berminat pada fotografi ikut bergabung melainkan juga yang berminat menjadi model. Pada masa itu hobi fotografi masih sangat mahal, bukan cuma karena kamera tetapi lebih ke film dan proses cuci cetaknya. Uniknya perasaan deg2an menunggu hasil pencucian lalu proses cetak menjadi sensasi tersendiri yang saat ini mungkin tidak lagi diperlukan karena kita bisa langsung melihat hasilnya via memory card yang sudah built ini dalam perangkatnya.

Singkat kata setelah beberapa kali kegiatan klub fotografi, di mana  kami dapat dengan bebasnya memotret para model kampus yang tercantik atau paling tidak merasa dirinya “cantik”, kami mulai tertarik untuk aktivitas yang berbau bisnis, lantas dengan perangkat ala kadarnya milik sahabatku, dan juga dengan modal pengalaman-nya sebagai salah satu fotografer majalah wanita ibukota, serta bantuan kakak perempuanku yang kebetulan bekerja di Savoy Homann, salah satu Hotel yang menjadi “landmark” Bandung dan terletak depan Gedung Asia Afrika, kami membuat brosur, yang berisi profil hotel tsb, lengkap dengan desain grafisnya serta efek fotografi yang kami buat dengan satu set filter “cokin”. Lantas draft brosur tersebut oleh Kakakku diserahkan ke General Affairs Dept Hotel, yang dengan serta merta ternyata menyatakan ketertarikannya pada karya kami. Lantas kami ditawarkan untuk membuat brosur,dan diberi kesempatan untuk tinggal beberapa malam di Hotel (termasuk Hotel Panghegar yang pada saat itu memang satu group dengan Savoy Homann), mengamati kegiatannya, mendokumentasikan obyek2 paling menarik seperti Restoran Berputar di atap Hotek Panghegar.

Sejak saat itu kami mulai mendapatkan proyek2 lainnya selain sesekali memotret pernikahan, disamping itu kamipun mulai dapat order dari Hotel lainnya seperti Hotel Pasundan. Namun kami sering sekali kesulitan dengan lampu ala kadar-nya yang kami miliki begitu juga dengan kamera yang kami gunakan. Meski sahabatku sudah menggunakan Nikon dan aku sendiri Pentax, tetapi kami tidak memiliki lampu yang lebih baik serta Polaroid yang memungkinkan pengambilan awal untuk memastikan semua pencahayaan sudah sesuai. Kami juga tidak memiliki “spot meter” ataupun “light meter” untuk mengukur intensitas cahaya sehingga dapat menentukan “diafragma”, “asa” dan “shutter speed” yang sesuai.

Karena berambisi dapat menghasilkan karya yang lebih baik, maka kami mulai berpikir untuk mencari modal. Saat itu aku teringat adik ibu yang paling kecil dan yang tersukses di antara Ibu bersaudara akan datang ke Bandung. Lalu aku dan sahabatku segera menyiapkan presentasi sederhana mengenai usaha yang kami bangun ini. Beliau manggut2 mendengar betapa begitu menggebu gebu dan bersemangatnya kami. Setelah panjang lebar bercerita dengan berbusa busa serta menyebutkan suatu nilai yang kami perlukan, Paman lalu bertanya mana “pipeline” kami, dan berapa potensi per item prospek dan kapan terealisir pengembalian dana-nya. Sangat kaget mendengar pertanyaan itu, kami cuma bisa terdiam. Lalu Paman berkata, ini bukan soal duit tetapi bagaimana pertanggung jawaban kalian terhadap pemodal, dan belajarlah meyakinkan orang secara komprehensif.

Saat itu aku sangat malu pada sahabatku, mengingat kami sejak awal berpendapat bahwa Paman adalah jalan keluar dari kesulitan finansil kami, tetapi dengan berjalannya waktu, kini aku menyadari apa yang dimaksud Paman, sebagai investor sejati sangat wajar Paman meragukan nilai yang ditanam dapat berkembang, kalau kami sendiri tak tahu persis situasi pasar. Hal ini menjadi sesuatu yang selalu aku ingat hingga sekarang.

3 comments:

Bayu.nz said...
This comment has been removed by the author.
Bayu.nz said...

Sempat terharu saya mengingat kisah tersebut, itulah cikal bakalnya saya menggeluti bidang audio-visual dan multimedia sampai sekarang ini di NZ. Berdasarkan portfolio yang kami bangun dari hasil2 kami itu, saya memulai karir di RCTI, kemudian ANTV, Broadcast Design Indonesia, produksi film layar lebar, sampai akhirnya bekerja sebagai Executive Producer di Production Company terbesar di dunia, Freemantle Media, sebelum akhirnya saya hijrah ke New Zealand ini. Pendapat Paman dari sobat saya itu ada benarnya, namun saya lebih banyak menerapkan semacam "manajemen hati" yang berdasarkan kepercayaan dan keyakinan, yang sering hasilnya jauh lebih baik daripada berdasarkan angka2 pada Forecast Castflow. Tergantung dari kita bagaimana menyikapinya.. Salam Bang!

Bayu.nz said...

Sempat terharu saya mengingat kisah tersebut, itulah cikal bakalnya saya menggeluti bidang audio-visual dan multimedia sampai sekarang ini di NZ. Berdasarkan portfolio yang kami bangun dari hasil2 kami itu, saya memulai karir di RCTI, kemudian ANTV, Broadcast Design Indonesia, produksi film layar lebar, sampai akhirnya bekerja sebagai Executive Producer di Production Company terbesar di dunia, Freemantle Media, sebelum akhirnya saya hijrah ke New Zealand ini. Pendapat Paman dari sobat saya itu ada benarnya, namun saya lebih banyak menerapkan semacam "manajemen hati" yang berdasarkan kepercayaan dan keyakinan, yang sering hasilnya jauh lebih baik daripada berdasarkan angka2 pada Forecast Castflow. Tergantung dari kita bagaimana menyikapinya.. Salam Bang!