Tuesday, January 14, 2020

Mengenang Paman – Konflik di Pematang Sawah


Antara tahun 1968 sd 1971, Bandung masih sangat dingin, dan persawahan dengan mudah kita temukan dimana-mana. Meski sudah ada angkutan umum, karena jumlahnya masih sedikit,  maka alat transportasi yang umum saat itu adalah becak, sepeda atau jalan kaki. Untuk berangkat dari kawasan Jalan Nilem ke SMA BPI yang berlokasi di Jalan Burangrang, paman memilih jalan kaki dan melewati pematang sawah menempuh jarak sekitar 1,7 km sekali jalan.
Selain paman, ada juga seorang pemuda bernama Riswan yang juga tinggal bersama kami. Karena ayah dan ibu juga adalah sosok perantauan maka ayah dan ibu selalu dengan tangan terbuka menerima siapapun yang merantau dan butuh sekedar tempat berteduh serta mau menerima makanan apa adanya. 

Antara paman dan Riswan akhirnya terjalinlah hubungan persahabatan, dan paman yang memang barkarakter petarung, senang sekali manakala mendengar cerita Riswan tentang duel ala anak Medan yang diakui Riswan sudah menjadi makanan sehari-harinya. Akhir kata paman menganggap Riswan benar-benar seorang jagoan tulen yang layak dijadikan contoh. 

Suatu hari saat berjalan kaki menuju sekolah, karena sawah sedang menggenang, maka kebanyakan orang yang berjalan kaki tentu saja memilih lewat pematang. Namun nampak kawanan pemuda yang sedang menempuh pematang sawah yang sama namun berlawanan arah dengan paman. Alhasil bertemulah mereka di tengah, dan paman tak mau turun dari pematang, begitu juga dengan kawanan pemuda tsb. Paman dengan galak meminta mereka yang turun, namun mereka yang juga kesal menolak dan mulai menunjukkan hanya duel yang bisa mengakhiri siapa sebenarnya Raja Pematang Sawah. 

Untung paman, detik-detik terakhir menyadari bahwa dia bakal kalah kalau sendirian, lalu paman yang tidak kehilangan akal menyindir mereka yang paman nilai hanya berani bertarung secara keroyokan. Tak hanya menyindir, paman lalu membentak kawanan tsb “Hai kalian yang cuma berani keroyokan, kalau memang kalian berani , tunggu di sini, saya akan memanggil saudara saya, dan kami berdua akan menghajar kalian !”. Lalu paman bergegas menuju rumah, dan mengajak Riswan duel sebagaimana cerita-cerita duel yang biasa diceritakan beliau. 

Anehnya Riswan terlihat terkejut, enggan, dan tak mau terlibat, dan bahkan terlihat sedikit pucat karena rencana pertarungan tersebut. Alhasil paman kecewa berat menyadari cerita Riswan nyatanya bertolak belakang dengan kenyataan, namun untuk kembali ke pematang, paman pun agak jerih kalau harus berhadapan dengan kawanan tersebut. Akhirnya hari itu dan beberapa masa ke depan, paman terpaksa menempuh rute yang berbeda setelah gagal mengajak Riswan duel.  Lalu mencoret Riswan dari daftar idola. 

No comments: