Friday, January 31, 2020

Jalan2 ke Tana Toraja – Part #5 dari 6 : Kete Kesu dan Pasar Rantepao


Jam 12:53 kami sampai di perkampungan Kete Kesu, dan karena terlalu lama di Burake, kunjungan ke Pemakaman Lemo akhirnya dilewat. Sebenarnya Lemo ini salah satu makam yang sangat sering muncul di publikasi destinasi wisata Tana Toraja, karena ceruk batunya relatif lebih banyak dan tebing batunya lebih tinggi ketimbang Londa.

Kete Kesu terlihat lebih rapi, dan ada banyak bangunan Tongkonan yang berukuran besar dan menunjukkan bahwa pemiliknya bukan orang sembarangan mengingat jumlah tanduk kepala kerbau di bagian depan Tongkonan.






Lingkungan di sini sepintas sangat mirip dengan lansekap di Pulau Samosir, kumpulan rumah adat berbaris rapi, dan ruang luas diantaranya. Di kejauhan nampak gunung dan pohon kelapa layaknya lukisan aliran Jelekong, yakni kampung pelukis di Jawa Barat, yang tema pedesaannya seringkali menghiasi becak zaman tahun 1970 an.



Kami makan siang disini dengan bekal nasi kotak, sementara anjing kampung dan ayam Kete Kesu mengelilingi kami sambil berharap mendapatkan sepotong dua potong lauk ataupun sebutir dua butir nasi. Setelah makan, saya dan istri minta izin masuk ke salah satu rumah adat, yang desain pintunya sangat rendah, sehingga harus masuk dengan membungkuk. Di bagian luar, nampak berjejer-jejer rahang kerbau yang dari jauh terlihat seperti jejeran ikan asin jambal roti tengah dijemur.



Karena istri asik melihat kumpulan toko souvenir, saya memutuskan untuk pertama kalinya menikmati kopi Toraja – Arabica.  Pahit dan harumnya langsung menohok, dan memanaskan tenggorokan.

Menjelang jam 15:00 kami menuju Pasar Rantepao, dan parkir disebelah masjid Agung untuk menuaikan shalat Lohor. Lalu rombongan berpencar mencari pernik2 lokal. Saya merapat ke rombongan yang asik menikmati durian. Ukurannya relatif kecil, namun aroma gasnya cukup menendang. Jam 15:30 kami kembali menuju hotel, dan melewatkan beberapa destinasi lain seperti Ne’Gandeng (museum), Pallawa (perkampungan adat), Batu Tumonga, Kalimbuang Bori (kompleks megalith), Kampung Adat Ranteallo, Air Terjun Kalean, dan Ollon.



Ingin rasanya mengunjungi semuanya, apa daya waktu terbatas, dan esok pagi kami harus meninggalkan Tana Toraja yang indah ini.

Link berikutnya https://hipohan.blogspot.com/2020/01/jalan2-ke-tana-toraja-part-6-dari-6.html

No comments: