Friday, January 31, 2020

Jalan2 ke Tana Toraja – Part #3 dari 6 : Toraja Heritage Hotel dan Lolai Negeri Di Atas Awan



 Lokasi Toraja Heritage Hotel ini tepatnya di jalan Kete Kesu, Rantepao, yakni Toraja Utara, membuat saya jadi teringat dr. Suci R Yusuf, yakni salah satu dokter ramah di klinik kami yang terkenal dengan ciri khasnya memanggil “Kak” nyaris pada setiap orang. Lokasi hotel di perbukitan dengan belasan bangunan tradisional Toraja alias Tongkonan, yang tersebar di lansekap dengan kontur naik turun. Setiap bangunan  merupakan cottage dengan sekitar 8 ruangan, 4 dilantai bawah dan 4 di lantai atas, dan dihubungkan dengan jalan setapak antara satu cottage dengan yang lain.




Saya dan istri dibawa ke unit kami  melewati tebing dengan persawahan di kejauhan. Bangunannya agak gelap dan terkesan tua, bau kayu yang kuat merebak menyerbu hidung, namun kamar mandinya bagus dan tidak ada bedanya dengan kebanyakan hotel berbintang di Jakarta. Gordjinnya menggunakan model kayu yang sayang sudah agak sulit ditutup sehingga memungkinkan orang diluar cottage bisa menatap kami. Saat istri menyalakan lampu kamar mandi mendadak, aliran listrik di unit kami mati, demikian juga telepon untuk mengontak operator. Terpaksa saya keluar lagi memanggil petugas, namun setelah sekitar 4 petugas bolak balik, dan masih kesulitan menemukan penyebab matinya aliran, kami akhirnya diberikan kamar pengganti yang lebih ke ujung, dan kali ini berada di lantai dua cottage.



Kami segera merebahkan diri, belakangan teman2 lain mengatakan mereka merasakan suasana aneh, seperti anjing yang melolong di tengah malam, baju di gantungan jatuh sendiri, bayangan hitam, serta perasaan ada sosok lain di unit mereka. He he saya sih tidak terlalu mempermasalahkan hal-hal tsb, selama tidak saling mengganggu, pula badan penat sekali setelah melakukan perjalanan Bandung – Jakarta (3 jam), Jakarta – Soekarno Hatta (1 jam), Soekarno Hatta – Juanda (1 jam), Juanda – Hasanuddin (1 jam) dan Makassar – Toraja (12 jam), total 18 jam.

Pagi hari setelah shalat subuh di unit masing2, kami berkumpul dan langsung menaiki kendaraan hotel  (karena bis terlalu besar untuk bisa masuk rute kali ini)  untuk segera menuju Lolai yakni Negeri di Atas Awan. Jaraknya dari hotel sekitar 14 km, dengan melewati tanjakan sempit dan relatif curam. Kalau dari penampakannya sepintas agak mirip dengan Tebing Keraton, namun dengan awan yang lebih tebal. Sepanjang jalan saya hitung ada paling tidak 3 spot menarik sebetulnya, namun karena rombongan, tak mungkin kami berhenti hanya untuk sekedar memuaskan nafsu saya mengabdikan momen tsb.







Sesampai di Lolai, di depan kami terbentang nyaris 180 derajat pemandangan dari bukit ke bukit dengan persawahan dibagian bawahnya di ketinggian 1.300 meter DPL. Di atas persawahan nampak “permadani” awan yang membuat kami merasa seakan-akan dewa-dewi kahyangan tengah menatap bumi. Sekitar jam 06:35 kami memutuskan untuk kembali ke hotel, untuk sarapan.

Link berikutnya di https://hipohan.blogspot.com/2020/01/jalan2-ke-tana-toraja-part-4-dari-6.html

No comments: