Thursday, December 20, 2012

Jepang Tua vs Jepang Muda

Saat masih kos di sekitar Manggarai, saya memiliki seorang sahabat yang bekerja di Daimler-Benz. Kami langsung merasa cocok satu sama lain karena kebetulan sama sama penggemar komik. Dari dialah saya tahu Kungfu Boy alias Chinmi (terkenal dengan jurus andalan Peremuk Tulang dan Dewa Petir), yang setiap serinya kami tunggu dengan tidak sabar. Maklumlah pencipta Kungfu Boy alias Takeshi Maekawa memang tidak pernah tergesa gesa dalam membuat serial ini. Jadi kadang baru sebulan kemudian kami bisa membaca lanjutan-nya, atau bahkan kadang2 lebih. Saya sendiri tidak membeli serial ini, namun membaca-nya dari koleksi yang dimiliki teman saya tersebut.

Suatu hari teman saya ini cerita tentang pengalaman-nya bekerja di Batam, tepatnya sebuah pabrik printer Jepang yang menjadi pemasok untuk printer Epson. Perusahaan ini dikelola seorang Jepang (untuk memudahkan saya singkat sebagai JT alias jepang tua) yang sudah berusia lanjut dan semestinya pensiun. Namun entah karena kebutuhan hidup, beliau masih juga bekerja sebagai ekspatriat di perusahaan ini sebagai pemimpin operasional atau harian.

Teman saya dan rekan2nya di perusahaan ini kurang suka bekerja di bawah JT, karena sangat disiplin dan dianggap terlalu efisien (atau lebih tepat disebut pelit bagi sebagian karyawan). Suatu hari bagian gudang mengeluh kekurangan karyawan, maka issue ini pun dieskalasi ke JT. Alih alih menerima keluhan ini dan menambah karyawan, JT malah langsung ke lapangan dengan membawa stopwatch dan lalu mengukur waktu rata2 yang dibutuhkan karyawan gudang untuk mengambil atau mengeluarkan barang. Setelah membandingkan dengan frekuensi keluar masuk barang beberapa waktu terakhir, kesimpulan-nya justru karyawan gudang kelebihan, dan JT bukan-nya menambah malah langsung mengurangi karyawan. Sejak saat itu JT memiliki musuh baru, yaitu karyawan2 gudang.

Pada hari yang lain ada informasi bahwa karyawan kekurangan komputer, seperti biasa JT tidak langsung percaya, melainkan memilih untuk menyebarkan kuesioner kesetiap karyawan pengguna komputer untuk mensurvey apa saja yang mereka lakukan dengan komputer mereka dan berapa lama waktu yang diperlukan. Lantas setiap karyawan di investigasi satu demi satu, sehingga misalnya yang mengaku membaca dan menulis email memerlukan tiga jam akan dicek dan kalau ternyata cuma perlu satu jam, maka lembar survey di edit ulang.  Akhirnya semua hasil survey dikumpulkan, jika ada yang perlu 2 jam, sedangkan yang lain perlu 6 jam, maka mereka berdua cukup menggunakan satu unit, dan seterus-nya. Alhasil ternyata komputer kantor justru kelebihan. Kali ini semua karyawan pengguna komputer manjadi musuh baru JT.

Begitulah hari demi hari berlanjut, sampai tiba saat nya laporan bulanan dicek, dan ketahuan bahwa biaya listrik membesar. Maka JT langsung survey ke lapangan dan menemukan bahwa satu2 nya jalan adalah mengumpulkan karyawan di beberapa lantai saja, dan mengosongkan lantai yang lain sekaligus mematikan ac-nya, dengan demikian bulan berikutnya biaya listrik turun drastis. Kali ini sisa karyawan memusuhi JT bersama sama pengguna komputer dan bagian gudang.

Suatu hari ada inspeksi dari Jepang, oleh seseorang manajer muda bertampang arogan (sebut saja JM alias jepang muda). JM lantas berkeliling dari satu dept ke dept lain, sementara JT membungkuk bungkuk dengan takzim disamping-nya. Tiba tiba disatu tempat JM berdiri sambil menunjuk nunjuk debu disekumpulan kardus unit yang siap dikirim di luar ruangan. Wajahnya terlihat marah seraya mengeluarkan kata2 yang terdengar kasar meski karyawan tidak jelas apa yang disampaikan JM. Wajah JT terlihat pucat pasi, dan membungkuk berkali kali, tiba2 JM menarik dasi JT dan setengah menyeret-nya kesalah satu kardus, dan lantas menggosokkan dasi JT ke debu2 yang menempel di permukaan kardus.  Sosok JT yang tua, kurus dan kecil terlihat tertarik ke sana sini di depan sebagian karyawan, sementara dasinya digosokkan ke kardus berdebu. Pada saat itu pesanan memang lagi banyak sedangkan kapasitas gudang terbatas, sehingga diambil putusan untuk menempatkan unit2 yang siap dikirim di luar ruangan. Ketika akhirnya JM melepas JT, JT menundukkan badan-nya dengan hormat dan minta maaf berkali kali.

Setelah peristiwa itu dan sepulangnya JM, semua pimpinan dikumpulkan JT, dan segera disusun solusi untuk unit berdebu, dan diambil putusan selama unit tidak bisa disimpan di gudang, akan disusun satgas khusus yang secara periodik melakukan pembersihan pada unit2 tersebut. Karyawan mendengarkan dengan sungguh2 apa yang dikatakan JT terutama karena cukup shock dengan peristiwa yang mereka lihat hari itu. Dan dalam hati mereka, semuanya bersyukur bahwa atasan mereka adalah JT dan bukan JM.

Hemm apa moral of the story nya, pertama; kita tak heran bagaimana Jepang bisa semaju sekarang, disiplin dan efisiensi adalah kuncinya, mereka dapat menjual produk yang lebih murah dengan kualitas yang lebih baik dibandingkan buatan negara2 barat, kedua, kadang seseorang tidak mensyukuri apa yang dia miliki kecuali setelah dia melihat apa yang tidak dimiliki orang lain. Mari kita sama2 meningkatkan disiplin, meningkatkan efisiensi dan selalu bersyukur. 

 

No comments: