Monday, December 03, 2012

The Hobbit - JRR Tolkien

Apa yang mampu memakan segala-nya, binatang termasuk burung, pepohonan dan segala bunga-nya, mampu mengerat besi dan mengigit baja, menggiling batu sekeras apapun, membunuh raja, menghancurkan kota, bahkan juga meratakan gunung ? Ya itulah pertempuran teka teki antara Gollum dan Bilbo Baggins, yang jika Bilbo kalah maka Gollum akan memakan-nya sebaliknya jika menang, maka Gollum berjanji menunjukkan jalan keluar dari labyrin jauh didalam gunung.

Inilah cerita yang mengawali trilogi "Lord Of The Ring" karya Tolkien. Imajinasi Tolkien jauh lebih maju daripada sekedar kumpulan cerita pendek ala Grimm. Tolkien mampu merangkai keajaiban negeri dongeng, sehingga memberikan latar belakang yang kuat dengan semua tokoh2nya, mulai dari hobbit, kurcaci, goblin, peri, naga sd troll. Namun aktor utama yang paling menarik perhatian tentu saja Gollum, matanya yang besar dan hijau, kesukaan-nya berada di tempat gelap, tubuhnya yang basah dan licin, kuliner ikan mentah kesukaan-nya,  kepribadian ganda yang dia miliki, serta ciri khasnya yang berdialog dengan dirinya sendiri.



Saking hidupnya suasana yang dibangun Tolkien,  tak aneh jika cerita Tolkien mengilhami banyak orang di dunia, salah satunya tentu Peter Jackson, yang visualisasi-nya terhadap karya Tolkien sangat sejalan. Bahkan saya yakin seandainya Tolkien masih hidup tentu bukan Jackson saja yang menjadi fans beliau, namun juga sebaliknya, yaitu Tolkien  menjadi fans Jackson. Bukan cuma memberikan inspirasi bagi dunia film, banyak musisi progressive rock juga berhutang banyak pada Tolkien, dialah tokoh progressive rock dalam bentuk tulisan.

Buku yang dibuat pada tahun 1937 pada dasarnya bercerita tentang perjalanan yang sulit, khususnya ketika pergi untuk mengambil kembali harta yang dirampas Smaug Sang Naga. Perjalanan ini melewati berbagai macam kondisi alam, jalan sempit pegunungan, turunan terjal, pendakian dengan daerah dimana batu2 begitu saja berjatuhan, badai dan hujan petir, gua2 gelap dengan labyrin-nya. Tolkien menceritakan semuanya dengan begitu hidup seakan akan Tolkien memang pernah mengalaminya.

Buku ini juga dihiasi peta, sehingga mengesankan Tolkien membuatnya dengan konsep yang jelas sejak awal. Ilustrasi selain peta, meski agak kasar juga cukup membantu memberikan gambaran mengenai apa yang dimaksud Tolkien mislanya penggambaran Kota Danau. Tidak tanggung2 Tolkien juga membuat abjad baru, sehingga suasana-nya lebih terbangun. Jackson sendiri dalam film membangun ulang bahasa peri yang harus diajarkan khusus pada pemeran peri. Dan mengingatkan saya akan bahasa Klingon dalam "Star Trek".

Meski mempersiapkan berbagai macam bekal, namun konsekuensi perjalanan dapat berarti apapun. Baggins sempat kehilangan kuda poni-nya, persediaan makanan, dan bahkan beberapa kali terpisah dari rombongan. Baggins juga berulang kali tertangkap, oleh Troll, oleh Goblin, dan nyaris dimangsa Gollum.

Meski sepenuhnya imajiner, pekerjaan yang dilakukan Tolkien secara sangat serius ini, terbukti memiliki daya tahan yang jauh kedepan dan menjadi salah satu bacaan yang paling terkenal di abad 20. Tentu saja karya Tolkien ini menjadi inspirasi bagi kita semua betapa keseriusan adalah salah satu hal terpenting dalam hidup.

No comments: