Wednesday, September 05, 2018

Mengenang Kak Eli - Puasa Harimau


Saat di Denpasar, Ibu ku menilai postur Kak Eli terlalu berisi, maka entah dari mana idenya, diterapkan lah Puasa Harimau. Puasa apakah itu ?, ternyata puasa dimana Kak Eli hanya memakan daging dan menghindari nasi sama sekali. Hal ini seingat aku dilakukan selama sekitar 40 hari .

Daging yang digunakan adalah daging sapi, lalu oleh Ibu direbus (bersama bumbu-bumbu ), setelah direbus lalu di “getok” sampai pipih, dan di goreng dengan api kecil sampai “kriuk” dan berwarna gelap. Proses pengolahannya  menimbulkan wewangian yang sedap, sayangnya aku hanya kebagian baunya. Alhasil kami hanya bisa menelan air liur melihat tumpukan daging di piring kakak. 

Ironisnya saat adik-adiknya hanya bisa menelan air liur, sebaliknya Kak Eli justru juga menelan air liur melihat betapa adik-adiknya bisa makan apa saja. Ternyata efek samping terus menerus makan daging selain membuat mood Kak Eli temperamental. Bahkan bukan cuma itu juga  menyebabkan gas yang diproduksi lambung memiliki kekuatan yang dahsyat sebagai pengusir bagi adik-adiknya. 

Setelah 40 hari, Kak Eli terlihat lebih ramping, namun segera kembali ke postur normal ketika Puasa Harimau berakhir. Sampai dengan berpulangnya Kak Eli, beliau memang memiliki postur yang subur, seperti layaknya bibi-bibiku dari garis ayah. 


No comments: