Wednesday, September 19, 2018

Mengenang Kak Eli - Kasih Kakak dan Masalah Jantungku.


Sejak awal tahun 2017, karena sedang tergila-gila pada olahraga bersepeda (serta jalan cepat dikombinasikan dengan lari) untuk memenuhi target sekitar 230 km / bulan, aku bahkan sengaja menghentikan obat rutin diantaranya pengencer darah (juga kolestrol) . Selama setahun lebih aku memulai kebiasaan baru ini, dengan menggunakan sepeda lipat Dahon seri Roo,  bahkan kadang menempuh jarak nyaris 50 km sekali jalan selama 3 jam, melewati rute Bandung – Soreang. 

Di awal 2018, meski berhasil menurunkan berat sebanyak 10 kg, namun badan mulai terasa tak enak. Istri langsung memutuskan untuk cek tekanan darah dan ternyata positif tekanan darah tinggi, lanjut ke pemerikasaan EKG, memang  terlihat ada kelainan. Akhirnya dengan diantar istri aku melakukan USG jantung dengan ditangani dr. Agus Thosin SpJP. Ternyata jantung bagian depan mengalami pembengkakan, nyaris 2x normal, akibat olahraga keras saat hipertensi. 

Saat Kak Eli tahu hal ini, beliau menangis sedih seakan-akan akan kehilangan aku adiknya untuk selama-lamanya. Belakangan Mas Parno suaminya cerita, bahkan Ke Eli mengatakan padanya bahwa Kak Eli rela tukaran penyakit dengan aku, adiknya,  asalkan aku kembali sehat seperti sedia kala. Saat proses rehabilitasi berkali-kali Kak Eli mengontak aku, untuk tahu perkembangan dari waktu ke waktu. 

Alhamdulillah saat ini dengan obat2an rutin dan mengurangi dosis olah raga yang pelan-pelan kembali dinaikkan secara gradual, parameter jantungku menunjukkan banyak perbaikan. Namun siapa yang menyangka, Kak Eli ternyata “pulang” duluan. Satu hal, cerita Mas Parno, membuat aku tersadar betapa sebagai kakak, beliau memang benar-benar tulus menyayangi adiknya. 

1 comment:

aydin said...

Gila, 50km??? semoga cepat sembuh ya, emang ada 3 hal yang nggak bisa kita tentuin, lahir, jodoh dan kematian, mudah2an kak eli diterima disisinya, salam kenal ya