Thursday, September 06, 2018

Mengenang Kak Eli – Siapa yang Betisnya Lebih Kecil ? dan Siapa yang Posturnya Lebih Tinggi ?

Saat kami sekeluarga pindah dari rumah kami di Jalan Komodo 21 Denpasar ke Jalan Galunggung Dalam 12/109 Bandung, sejujurnya kami cukup terkejut. Bayangkan rumah yang dikontrak oleh kantor Ayah di Denpasar merupakan kapling sudut dengan halaman di keempat sisinya. Begitu luasnya sehingga kami memiliki Kebun Pisang di sisi kanan, juga Kebun Tebu di pojok kanan, bahkan bisa bermain bulu tangkis di bagian depan (aku biasa bermain dengan Bang Amru, abang sepupu yang sempat bersekolah di Denpasar, namun karena raketnya hanya satu, maka yang satunya menggunakan raket tenis). Belajar motor pun Kak Eli lakukan di rumah tsb, karena memang halamannya memungkinkan.  Bahkan kami juga memelihara angsa. Suara angsa yang brisik tentu tak cocok bagi rumah dengan halaman sempit. Kenapa kami terkejut ? karena rumah di Bandung yang ayah tukar dengan sesama karyawan PT Pos dan Giro (kini PT Pos Indonesia) sangatlah mungil, dan tak bisa dimasuki mobil.

Jika dulu di Denpasar Kak Eli menggunakan sepeda motor, maka kini tak satupun dari kami berempat yang memiliki motor. Alhasil aku dan Kak Eli yang kebetulan bersekolah di SMA dan SMP BPI harus berjalan kaki melewati jalan Halimun dengan jarak sekitar 1,2 km setiap hari. Kalau kebetulan kami sedang ada kelebihan duit, kami menggunakan becak yang pengendaranya seorang pria separuh baya dengan jenggot dan sepintas mirip sekali dengan Fidel Castro. Namun ini merupakan sebentuk kemewahan yang jarang kami rasakan. Seorang teman sekelas wanita berambut ikal bernama Kanti Marini yang kebetulan jalur ke rumahnya melewati daerah rumah kediaman kami, kadang berbasa basi mengajak kami, namun becak khas Bandung yang sempit jelas tak mungkin buat kami bertiga. Jadi ajakan Kanti yang memang ramah hanya kami balas dengan senyuman. 

Saat berjalan kaki sekitar setengah kilometer menjelang sekolah, kami cukup sering melihat seorang siswi berkulit putih bersih, rambut tebal pendek, dan berwajah bulat dan terlihat lembut. Sepertinya memang satu SMA dengan Kak Eli, namun mengambil jurusan IPA. Mungkin agak aneh bagi Kak Eli menemukan wanita yang menyamai tinggi Kak Eli, sehingga sosok ini menjadi menarik dijadikan pembanding.  Jadi Kak Eli biasanya berusaha mendekatinya dari belakang dan aku diberikan instruksi untuk menilai siapa yang lebih tinggi, lebih putih , lebih ramping dan juga siapa yang lebih bagus bentuk betisnya. Anehnya ini masih jadi pertanyaan yang Kak Eli ulang setiap kali kami bertemu lagi dengan siswi tsb. 


Dua tahun kami melakukan rutinitas pulang dan pergi sekolah bersama-sama, sampai-sampai setiap lubang di jalan Halimun sudah kami hapal dengan baik.  Nyaris semua teman wanita Kak Eli pun cukup aku kenal di masa itu, karena saat menunggu Kak Eli, mereka pasti bergantian menucubit pipiku (sayang aku tak bisa membalasnya) . Ketika aku naik ke kelas 3 SMP, Kak Eli lulus SMA BPI dan melanjutkan kuliah di NHI Bandung (National Hotel Institute) di bilangan Setiabudi. Cukup lama aku kehilangan kontak sekaligus kebersamaan dengan Kak Eli, karena kuliah di NHI saat itu menggunakan model asrama.

No comments: