Wednesday, September 28, 2011

Koran untuk Ayah

Ketika kita mulai dewasa, waktu semakin terasa sempit seiring dengan banyaknya aktivitas yang harus dilakukan. Sebaliknya Ayah, justru waktu-nya semakin banyak setelah pensiun, dan jika saya sedang mampir ke rumahnya di salah satu bukit dikawasan Bandung Utara, Ayah yang semakin menua selalu dengan semangatnya berbicara mengenai banyak hal khususnya politik. Tetapi saya sendiri karena terlalu banyak yang dipikirkan tidak bisa selalu fokus mendengar apa2 yang Ayah sampaikan.


Ayah saya sudah merantau meninggalkan kampung-nya di Sumatera Utara sejak lulus SMP, lalu melanjutkan SMA di Yogya, serta sempat menjadi pegawai di PT Pos Indonesia (d/h Pos dan Giro). Setelah sempat menjadi pegawai tak beberapa lama dia mengikuti program pendidikan di Akademi PTT Bandung, untuk meraih gelar BcAP. Sosoknya adalah sosok yang pemaaf, tidak sabaran, humoris sekaligus sangat gampang meledak. Mahir dalam berorasi dan sangat percaya diri, serta tak ketinggalan hobi khususnya yaitu catur dan menyanyi sebagaimana kebanyakan suku Batak.

Karena karakternya yang berbeda dengan Ibu, rumah kami selalu dipenuhi konflik2 panas sejak kami bersaudara masih sangat kecil sampai dewasa dan seringkali dipicu oleh masalah2 yang sangat sederhana. Meski demikian mereka memiliki persamaan yaitu sangat mencintai kami sebagai anak2nya. Sepertinya hal ini lah yang mengikat mereka sampai maut memisahkan. Karena karakternya yang tidak sabaran, Ayah bukanlah pendengar yang baik, sehingga kami bersaudara selalu lebih banyak bercerita pada Ibu untuk hal2 yang kami hadapi / alami sehari hari.

Ketika Ayah sudah menua, dia sering sekali bagaikan hidup dalam dunianya sendiri, bermain catur sendirian sampai pagi, menonton tv dan membaca. Khusus untuk hobby-nya membaca, setelah pensiun dana-nya semakin terbatas. Jika semasa aktif dia bisa berlangganan Matra, Tempo, Jakarta Post, Republika dan Kompas, maka saat pensiun dia hanya beli Majalah Tempo sekali seminggu. Suatu hari saat saya datang menjenguk Ayah dan Ibu, dia berkata “Sejak pensiun Ayah kekurangan bacaan, tolonglah bawakan Ayah Koran Tempo, kan kau langganan”, saya cuma senyum dan mengiyakan permintaan-nya. Sayangnya saya lebih banyak lupa-nya atau malah tidak menganggap serius permintaan-nya, sehingga ketika kedatangan berikutnya masih saja titipan yang dia minta belum tentu saya bawakan.

Sampai suatu malam di tahun 2001, Ayah mengeluh sakit, dan langsung kami bahwa ke Rumah Sakit Islam di Bale Endah, badan-nya bengkak karena ginjalnya sulit mengeluarkan cairan. Karena saat itu Malam Senin dan keesokan harinya saya sudah harus kembali bekerja di Jakarta, maka saya memutuskan untuk pulang ke rumah, agar dapat berangkat dalam kondisi fit. Sayangnya dini hari telepon dari Rumah Sakit menyampaikan bahwa sekitar jam 01:00 dini hari, Ayah sudah menghembuskan nafas terakhir untuk kembali pada Sang Pencipta. Saya termangu dan menyesali betapa saya sebagai anak tidak cukup berbakti baginya, hanya sekedar koran bekas sajapun saya tidak memenuhi permintaan-nya secara bersungguh sungguh. Sesungguhnya perpisahan adalah kepastian, karena itu syukurilah setiap pertemuan, hari lalu tak dapat diulangi, hari ini milik kita, hari esok adalah ketidak pastian.

No comments: