Thursday, September 29, 2011

Kemudahan setelah kesulitan

Karena Ayah saya seorang pegawai negeri, maka saya cenderung mencari perguruan tinggi yang memudahkan untuk segera bekerja. Maka pilihan saya pun jatuh pada Politeknik salah satu perguruan tinggi teknik negeri di Bandung. Karena saat itu gelar masih dianggap cukup penting, maka pilihan untuk masuk ke politeknik bukanlah pilihan yang populer. Tetapi saya berprinsip bahwa gelar bisa dicari belakangan, dan selama kita masih punya semangat belajar, maka hal2 seperti ini akan dapat dilakukan kelak. Ternyata saya tidak salah pilih, dan setelah masuk semester ketiga, saya sudah tidak lagi mengandalkan biaya sekolah dari orang tua.

Di kelas saya ada sekitar enam orang yang bekerja dan terlibat pada proyek yang sama. Meski pada mulanya yang direkrut cuma satu, tetapi dengan berjalannya waktu, teman saya yang duluan masuk menjadi gerbang bagi kami berenam untuk menjadi software developer di sebuah perusahaan yang berafiliasi dengan perguruan tinggi teknik negeri di Bandung. Pada saat itu kami berenam ditempatkan di salah satu perkebunan terbesar di Indonesia. Disediakan rumah, makanan dan pendapatan yang jumlah-nya menurut ukuran mahasiswa cukup besar, sehingga meski saya makan di restoran 1 x sehari, membeli semua album musik yang saya suka, serta menonton semua film baru di bioskop, dan membeli pakaian baru 1x sebulan, saya masih punya sisa dana untuk ditabung.

Keasikan bekerja ternyata membuat kuliah menjadi terasa berat, dan godaan uang kadang membuat kita lengah, sehingga tibalah saat tugas akhir harus dibuat. Di Politeknik pada masa itu selalu ada tugas akhir setiap tahun, sehingga selama masa kuliah kami harus menyelesaikan tugas akhir sebanyak 3x. Tugas tahun pertama saya selesaikan dengan dua orang rekan saya di salah satu perusahaan milik pemerintah yang bergerak di bidang ekspedisi dan pengiriman dokumen. Tugas tahun kedua saya selesaikan di salah satu Televisi Swasta Nasional dengan salah seorang rekan yang kini berdiam di New Zealand. Meski pada saat tugas kedua saya menemukan partner yang pas, sayangnya saya memutuskan tugas tahun ketiga dikerjakan dengan kelompok yang berbeda dengan yang kedua. Sehingga saya mendapatkan seorang pembimbing yang “nyentrik” dan menempatkan kami untuk bekerja pada sebuah LSM yang bergerak di bidang kesenian anak.

LSM ini begitu khususnya sehingga saya dan team mendapatkan kesulitan yang cukup berat, dan relatif abstrak untuk dituangkan dalam rancangan implementasi IT yang cenderung membutuhkan segala sesuatu yang sudah pasti. Sementara pekerjaan di perusahaan perkebunan tersebut juga membutuhkan konsentrasi tinggi. Kesulitan ini ditambah lagi dengan pembimbing kami memutuskan untuk melanjutkan sekolah di luar negeri dan meninggalkan kami dalam kebingungan. Kondisi yang sudah begitu sulit akhirnya ditambah lagi dengan penggantian pembimbing ke salah satu tokoh paling “ajaib” di dunia IT, yaitu pak Sayid Budiseno. Tadinya saya berpikir lengkap sudah penderitaan kami dalam menyelesaikan tugas tahun ketiga. Akhirnya karena pak Sayid menolak meneruskan pekerjaan yang sudah separuh jadi, maka kami diminta merombak lagi dari awal. Saat itu rasanya ini sudah menjadi derita yang tidak tertahankan, dan dunia serasa gelap. Ketika akhirnya diputuskan bahwa kami tidak mungkin lulus pada tahun itu dan harus mengulang setahun untuk fokus pada pekerjaan tugas akhir, maka lengkap sudah penderitaan kami. Rasanya seperti di dunia menderita, ketika di akhirat pun masuk neraka.

Akhirnya kami memutuskan untuk fokus pada pekerjaan, konsultasi dengan pak Sayid pada awalnya terasa berat, tetapi semakin lama, kami semakin memahami apa yang beliau inginkan, dan ilmu kami tak terasa semakin bertambah, khususnya dalam perancangan database / normalisasi, entity relationship , desain interaksi dengan user, dan lain2. Tak terasa selesailah masa bimbingan, dan kami akhirnya menghadapi presentasi final dihadapan dosen penguji yang tidak berdaya mengajukan pertanyaan karena kharisma pak Sayid yang memang saat itu disegani oleh dosen2 lainnya.


Setelah lewat masa itu, saya merasa sangat beruntung pernah memiliki masa2 yang sangat intensif dengan salah satu tokoh IT kharismatis, dan ilmu yang di berikan pak Sayid sampai kini masih menjadi sesuatu yang bernilai bagi saya pribadi. Semoga ilmu yang diberikan beliau dapat terus menjadi amal baik beliau di alam sana, selamat jalan pak Sayid, meski kau telah tiada, namamu akan selalu terpatri di hati. Sebagaimana yang tertulis di Quran Surat An Nasyr ayat 5-6 “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”

3 comments:

Joe Lian Min said...

lagi ingat Pak Sayid... ada ide untuk susun ttg beliau di wikipedia... barusan coba search di google

Husni I. Pohan said...

Menarik, mungkin bisa dimulai begitu saja dulu, pelan2 dilengkapi. Saya punya beberapa cerita tentang beliau, namun "content"-nya apakah pas di wiki ? karena setelah peristiwa tugas akhir saya malah jadi satu proyek dengan beliau.

Anonymous said...

sama Pak Joe saya juga tiba2 ingat Pak Sayid....