Wednesday, July 25, 2012

Chairul Tanjung si Anak Singkong nya Tjahja Gunawan Diredja

Karena baru menamatkan Dahlan Iskan nya Krishna Pabichara, saya agak sedikit “shock” dengan cara penulisan Diredja, karena nyaris tanpa unsur sastra dan hampir2 tidak ada bedanya dengan gaya bahasa koran. Namun demikian jika kita fokus ke konten, karena karya ini memang dimaksud untuk memberikan gambaran mengenai Chairul Tanjung (selanjutnya kita sebut CT), untuk target ini saya kira Diredja bisa dikatakan sudah mencapainya meski tidak runut secara bab per bab.
Selama ini saya kira CT adalah perantau dari Sumatara Barat yang sukses di Ibu Kota, ternyata beliau adalah keturunan Batak – Sunda, yang besar di Jakarta. Marga Tanjung yang beliau peroleh diwariskan oleh ayah-nya yang berasal dari Sibolga (marga Tanjung IMHO memang ada dua jenis, yaitu versi Sumatera Barat dan versi Sumatera Utara) . Bagi saya Sibolga bukan tempat yang asing, saat berusia 3 tahun kami sekeluarga pindah ke kota ini dari Bandung, dan sempat tinggal selama 5 tahun untuk kemudian pindah ke Denpasar.
Sempat berdua dengan abang-nya tinggal bersama Nenek-nya membuat pengaruh agama dalam kehidupan CT relatif kuat, setelah Nenek meninggal, barulah CT dan abang-nya kembali bersama keluarga-nya berkumpul bersama-sama. Namun untuk masalah disiplin, CT sengaja disekolahkan ke sekolah Katolik, “Van Lith” (SD dan SMP) yang saat itu merupakan salah satu sekolah kristen terbaik di Jakarta.

Meski sang Ayah Sempat sukses namun karena masalah politis akibat pertentangan dengan rezim Soeharto, keluarga CT mengalami kondisi cukup berat secara ekonomi. CT akhirnya memiliki obsesi untuk sukses dan “membenci” kemiskinan. Salah satu pengalaman pahit, adalah ketika CT diminta untuk mengoordinasikan acara perpisahan kelas ke luar kota, sibuk menjadi panitia dan memastikan semua orang bisa berangkat, namun CT sendiri tidak bisa ikut karena tidak memiliki uang. Namun hal2 seperti ini membuat CT semakin kuat dan tabah menghadapi kehidupan.
Menjelang lulus SMA, kehidupan ekonomi keluarga CT tidak juga membaik, sehingga ketika lulus Sipenmaru (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru) di FKG UI, Ibu CT terpaksa menjual kain “halus” simpanan-nya. Namun ingatan akan kain ini jugalah yang membuat CT bersungguh sungguh dalam kuliah sekaligus aktif dalam organisasi dan bahkan sempat meraih posisi ketua angkatan sekaligus mahasiswa teladan tingkat nasional.   
Saat kuliah CT mengorganisir foto copy diktat, dan berhasil mencari partner yang dapat membuat copy diktat dengan harga yang jauh lebih murah serta dapat dibayar belakangan. Menjadi broker tanpa modal ini lah yang akhirnya dilanjutkan CT dengan menyediakan alat2 praktikum mahaiswa FKG UI, serta berkat lobinya dapat menggunakan "space" nganggur dibawah tangga untuk usaha Foto Copy. Sehingga akhirnya CT dipercaya oleh para dosen untuk perbanyakan materi diktat. Namun dalam rangka membina network, CT tak pernah lupa untuk berbagi dengan teman2nya.  
Apakah CT selalu bersikap lurus dalam usaha2nya ?, CT mengatakan bahwa hampir semua pinjaman Bank yang dia peroleh bukan karena upeti ke petinggi Bank, namun karena track record yang baik. Kata2 “hampir” bagi saya disini agak sedikit “ambigu”. Dilain pihak saat masih remaja CT pernah diminta mengumpulkan uang untuk membeli tambang dalam rangka keperluan sekolah, dan karena berhasil menawar jauh dibawah budget sekolah, CT dan teman2nya menggunakan kelebihan duit itu untuk makan Es Shanghai. Atau ketika CT berbisnis mobil, beliau dengan teman2nya menggunakan trick “dempul kilat” untuk menutupi cacat pada mobil yang dijualnya. Begitu juga ketika CT sengaja membuat tanda tangan-nya se-sederhana mungkin agar memudahkan rekan nya untuk meniru sehingga terkesan CT selalu mengikuti kuliah MBA (master of business administration) Saya menghargai kejujuran dalam buku ini, namun sebaiknya ada klarifikasi atas hal2 diatas sehingga tidak terkesan sebagai sebuah pembenaran. Namun untuk kasus tanda tangan, CT mengakui bahwa hal tsb tidak layak dicontoh.
Kita juga terkesan dengan aktivitas sosial yang dilakukan CT, sampai akhirnya salah satu fasilitas Thalasemia dapat berdiri di RSCM. Begitu juga saat memberikan penyuluhan kesehatan gigi di pelosok2 Indonesia yang bahkan masih dilakukan CT meski sudah tidak aktif  sebagai mahasiswa UI. Saat ini CT juga menyalurkan zakat CT group ke Sekolah Unggulan CT Foundation untuk anak2 tidak mampu yang berprestasi. Memang salah satu kelebihan CT yang saya nilai sangat baik, adalah kemampuan mengorganisasi kegiatan sosial. Saat ini di Group Televisi Trans, kita masih bisa melihat acara2 sosial dan kemanusiaan yang dikemas  secara menarik.

Sayang tidak dijelaskan kenapa logo Televisi Trans menggunakan segitiga, dan kenapa ada bentuk "pyramid" di pucuk salah satu mall terbesar di Bandung milik group usaha CT. Apakah sekedar desain ? atau mengandung maksud2 tertentu ? tentu hanya CT yang bisa menjawab. Sebagai peminat teori terkait NWO (New World Order), bagi saya ini hal yang sangat menarik, semoga saja sekedar desain dan tanpa maksud2 tertentu. Saya juga bertanya-tanya, kenapa salah satu ritel terbesar di Indonesia milik-nya menjual item berkelas haram dan kenapa bank syariah yang berasaskan Islam milik-nya dikelola oleh profesional non muslim, namun saya belum mendapatkan jawaban-nya.
Akhir kata, ini buku yang menarik untuk dibaca, melihat kemampuan CT sejak muda dalam bisnis, organisasi, network yang luas, kepemimpinan yang menonjol, pekerja keras yang selalu pulang larut malam, yang akhirnya membawanya sebagai salah satu orang terkaya Indonesia versi majalah Forbes. Buku yang sangat menarik untuk generasi baru Indonesia, semoga dapat menjadi inspirasi.



1 comment:

Gino Tugino said...

mari kita songsong agenda asli milik ct ini... ada apa gerangan???