Thursday, February 16, 2012

Berjualan

Karena di sekeliling pematang sawah, masih ada lahan yang dapat digunakan, Ibu-ku menanam aneka macam sayur, seperti ubi, kacang panjang, cabe dan lain-lain. Karena untuk konsumsi kami aneka sayuran ini berlebih, maka sepulang dari sawah Ibu-ku membawa bermacam sayuran tersebut ke rumah. Pada malam hari-nya Ibu mengikat ikat dan mengelompokkan sayur tersebut, seraya berkata padaku, jual-lah semua sayur ini besok di pasar, kemudian separuh dari hasil penjualan dapat aku miliki, sedangkan separuh sisanya biasanya untuk membeli titipan ibuku seperti sirih, kapur, tembakau, pinang, dan lain lain.

Saat melihat ibu menyiapkan bahan yang akan kami jual keesokan harinya, di saat2 awal aku selalu merasa sangat tertekan. Namun dengan berjalan-nya waktu, aku mulai terbiasa dengan situasi ini.

Aku masih ingat saat pertama kali aku berjualan, perasaan ku campur aduk, ketika harus membawa semua jenis sayuran tersebut dalam satu gulungan daun pisang sambil dijinjing di kepala bersama adikku Lian. Biasanya kami menggunakan tempat di halaman pasar yang sudah ditinggalkan oleh penjual yang barang dagangan-nya sudah habis. Meski demikian kadang kadang kami masih sering diusir penjual penjual lain yang tidak suka tempatnya digunakan.

Hal yang paling sulit aku rasakan ketika berjualan, adalah berani mengatakan tidak untuk setiap penawaran yang diberikan pembeli. Hal ini tetntu saja diakibatkan, kami masih anak2 dan pada masa itu anak2 sangat menurut pada orang yang lebih tua.

No comments: